
Bukan hanya Sherin yang terkejut, tiga orang yang berdiri tak jauh dari Sherin pun ikut terkejut. Apalagi Iriana yang melihat kedatangan Ravin yang tiba-tiba, wanita itu mengangkat tangannya dan mengelus pipinya.
“Astaga, wajahku ... ” Iriana panik, sedetik kemudian ia pergi dari sana untuk membasuh wajah yang di penuhi masker yang mulai retak.
Sementara Sherin baru sadar setelah beberapa saat memandangi wajah tampan Ravin, ia mundur perlahan membiarkan Ravin masuk ke dalam.
“Kenapa kamu ke sini?” tanya Sherin heran, mereka tak punya janji untuk bertemu lalu kenapa Ravin datang bahkan secara tiba-tiba.
“Aku datang menemui tunangan ku, apa itu salah? Harusnya aku yang bertanya, kenapa kamu tidak bilang kalau mau pindah ke rumah Kakek Haris?”
Sherin terpaku, mendengar nada bicara Ravin yang begitu lembut. Tak ada nada emosi, malah terkesan khawatir. Sherin kembali tersadar saat Ravin tiba-tiba memeluk pinggangnya, menjadikan tubuhnya menempel pada tubuh Ravin. Ia mendongak.
“Aku tadi dengar kamu marah-marah, ada apa?” tanya Ravin kembali, pertanyaan sebelumnya belum Sherin jawab namun Ravin sudah bertanya lagi.
Karena Sherin tidak merespon, Ravin jadi sedikit kesal. Tapi, raut wajahnya masih di buat selembut mungkin, ia menunduk dan memajukan wajahnya mendekati Sherin. Bibir lembutnya mendarat sempurna di kening Sherin hingga wanita itu lagi-lagi terkejut.
“Kenapa bengong, hmm?”
“A— aku tadi ... Aku tadi ingin pergi tapi papah melarang dan tidak memperbolehkan aku tinggal di rumah kakek.” Sherin bicara dengan terbata, ia menjadi gugup secara tiba-tiba, debaran jantung berpacu dengan cepat. Sherin merasakan hal ini seperti saat dulu tiap kali ia bersama dengan Rainer.
“Benarkah?” Ravin mengangkat alis, ia menatap calon mertuanya dengan tajam. Membuat Laras dan Arvin bungkam menahan takut.
Tatapan Ravin seakan mampu menghunus tepat ke jantung, membuat lawan bicara tak bisa membalas.
“Ra— Ravin, tadi kami tidak mencegah dan melarang, hanya saja Sherin tadi cuma sarapan sedikit dan kami ingin menyarankan agar Sherin sarapan lebih banyak,” jelas Arvin takut.
“Iya, Vin. Tadi Sherin cuma makan roti saja, harusnya 'kan sarapan dengan nasi juga. Kami takut kalau Sherin nanti sakit,” timpal Laras.
“Sayang, mereka bohong. Tadi saat aku cuma makan roti mereka diam saja dan tidak menawari aku nasi. Tadi malam saja aku tidak makan mereka tidak khawatir kalau aku akan sakit atau tidak,” rengek Sherin langsung masuk ke dalam peran akting.
Jelas saja hal itu membuat Arvin dan Laras menelan ludah kasar. Mereka tidak begitu takut dengan Ravin melainkan mereka takut dengan keluarga Ravin yang berkuasa. Tentu jika mereka melukai calon menantu keluarga Ravin maka keluarga Arvin lah yang kena imbasnya.
“Sherin, kami minta maaf untuk semalam. Kita keluarga dan masalah kecil tidak perlu di besar-besarkan, kamu kalau ingin pindah ke rumah kakek silahkan saja, tapi sering-seringlah pulang ke sini,” kata Arvin mencoba membela dirinya sendiri.
“Ya sudah, kalau begitu lebih baik kita pergi sekarang. Sekalian aku akan mengajakmu jalan-jalan,” Ravin tidak mengindahkan ucapan Arvin.
__ADS_1
Sherin mengangguk, ia pun pergi dari rumah Arvin dan naik mobil bersama Ravin yang menyetir sendiri.
Sementara di dalam rumah, kedua orang separuh baya itu langsung menghela napas lega. Tak lama setelah itu Iriana datang dengan wajah yang sudah di beri make up. Keningnya berkerut saat menyadari ada yang hilang.
“Pah, Ravin mana?” tanyanya.
Arvin menoleh pada Iriana yang kebingungan. “Sudah pergi barusan dengan Sherin.”
Iriana terperangah, rasanya baru sebentar di tinggal pergi ke kamar mandi tapi Ravin sudah pergi. Ia berdecak kesal. “Percuma aku berdandan, dia sudah pergi pun hanya untuk Sherin. Sherin lagi Sherin lagi.”
...⚫⚫⚫...
Di dalam mobil hanya ada keheningan, Sherin dan Ravin sama-sama tak mengeluarkan suara. Hingga sebuah pertanyaan yang mengganjal di benak Sherin tak mampu ia pendam.
“Kamu kenapa bisa di sana?” celetuk Sherin.
“Kakek Haris tadi menelepon, terpaksa aku nurut,” jawab Ravin.
Sherin mengangguk paham sehingga keheningan kembali tercipta. “Apa benar kamu akan mengajak aku jalan-jalan?”
Tidak butuh waktu lama mereka sampai di halaman rumah kakek Haris. Sherin segera turun dan menyuruh salah satu pelayan untuk membawa kopernya ke dalam kamar. Tanpa menunggu Ravin, Sherin langsung masuk dan menyapa kakek neneknya.
“Pagi, Nek,” sapa Sherin, kakek dan neneknya yang sedang sarapan itu menoleh.
“Sudah sampai rupanya,” ujar nenek Linda.
“Sherin sudah sarapan?” tanya kakek, Sherin mengangguk tapi juga menggeleng. Membuat kakek sedikit bingung.
“Sudah tapi cuma sedikit, tidak ada nikmat-nikmatnya,” jelas Sherin.
“Ya sudah, kalau begitu kamu sarapan di sini saja. Oh ya, bukannya kamu datang bersama Ravin? Mana dia?” nenek mengamati sekeliling dan mencari Ravin.
“Aku di sini, Nek.” Tiba-tiba Ravin muncul di belakang Sherin, hal itu membuat Sherin terperanjat karena Ravin yang datang secara tiba-tiba.
“Nah, karena kalian berdua ada di sini, sekalian kita sarapan bareng. Nenek tadi minta pelayan masak banyak,” ujar nenek, Sherin dengan semangat mengangguk dan segera duduk.
__ADS_1
Usai sarapan, Sherin pergi ke kamarnya untuk membereskan barang tapi saat ingin membuka pintu, Ravin memanggilnya membuat Sherin menghentikan gerakan.
“Sherin ... ” Ravin mendekati Sherin yang belum bergerak, tunangan Sherin itu kini berhadapan dengan Sherin di depan pintu.
“Kenapa?” Sherin mengangkat sebelah alisnya bingung.
“Aku ingin mengajak kamu ke rumah sakit. Dhafi sudah bilang dia ada waktu untuk memeriksa luka di wajahmu.”
Sherin berpikir sejenak sebelum mengangguk, “Ya sudah, ayo!”
Mereka berjalan menuruni anak tangga, ketika di bawah Sherin bertemu dengan nenek Linda. “Kalian mau kemana?” tanya nenek.
“Mau jalan-jalan, Nek. Bolehkan?”
“Boleh, tapi pulangnya jangan terlalu malam. Ravin kamu jaga cucu Nenek, jangan sampai ada luka,” peringat nenek.
Keduanya mengangguk, lalu mereka segera berangkat menggunakan mobil milik Ravin. Untuk sampai di rumah sakit membutuhkan waktu hampir setengah jam, Sherin dengan sabar menunggu walaupun bosan.
Tiba di rumah sakit keduanya berjalan beriringan. Sherin terus mengikuti langkah Ravin yang lebih cepat darinya. Seperti kata Ravin, mereka tidak perlu mendaftar untuk datang memeriksa.
Langsung ke ruangan dokter Dhafi, pria berjas putih itu sudah duduk manis menunggu kedatangan mereka.
“Akhirnya kalian datang juga, aku sudah lama menunggu sampai pasien yang lain harus rela bersabar untuk periksa,” keluh Dhafi.
“Perjalanan jauh, ya sudah, kamu langsung saja periksa dia. Aku masih banyak pekerjaan,” Ravin mendudukkan dirinya di sofa yang ada.
Dhafi mengangguk, ia mulai memeriksa bekas luka di wajah Sherin. Luka ini sudah mengering tapi terlihat ada bekasnya. Itu cukup mengganggu bagi Sherin.
“Tidak parah, hanya tinggal menghilangkan bekas. Sebentar, aku tulis resep salep yang cocok untuk kamu.” Dokter itu kembali duduk dan mulai menuliskan resep.
“Ini, nanti kamu tebus di apotek.”
Sherin mengangguk dan mengambil kertas pemberian Dhafi. Ia menatap Dhafi dan berkata, “Apa benar untuk menghilangkan bekas lukanya butuh waktu satu bulan?”
Sherin merasa satu bulan terlalu lama, saat ini ia sangat membutuhkan wajah cantik. Bukan untuk pamer melainkan untuk mencari pekerjaan. Ia punya tujuan sendiri dalam mempercantik diri, selain untuk mencari uang, Sherin juga ingin mengambil ponselnya yang ada pada Anika.
__ADS_1
Manajernya itu tidak mau memberikan ponsel Prisha pada dirinya karena curiga. Tapi, ia yakin bisa mengambil ponsel itu jika Anika percaya padanya. Untuk itu, Sherin harus membuktikan diri.