Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 77


__ADS_3

Sherin membuka mata saat cahaya matahari menusuk matanya. Ia mengernyit kala merasakan perutnya tertimpa sesuatu. Ketika dilihat Sherin terkejut melihat ada tangan kekar yang melingkar di perutnya. Ia mengangkat kepala dan wajahnya tepat berada di depan wajah Ravin.


Setelah nyawanya terkumpul, Sherin baru ingat kalau dia sudah menikah. Sherin menatap wajah Ravin yang masih tertidur pulas, baru kali ini Sherin melihat Ravin sedekat ini dengan intens. Sherin akui, Ravin memiliki wajah yang tampan, melebihi mantan kekasihnya dulu. Bulu matanya lentik, alisnya cukup tebal.


Masih sibuk mengamati wajah sang suami, Sherin tak sadar kalau Ravin sudah membuka mata. Pria itu tersentak saat melihat Sherin tengah menatapnya tanpa berkedip.


Ravin memajukan wajahnya, mengecup bibir Sherin sekilas dan membuat Sherin tersadar. Wajah Sherin memerah, dia pukul dada Ravin. Sementara pria itu terkekeh.


“Sejak kapan kamu bangun?” tanya Sherin kesal.


“Sejak kapan, ya? Mungkin sejak kamu memandang wajahku tanpa berkedip,” goda Ravin semakin membuat Sherin malu.


“Kenapa tidak bilang?”


“Ini aku sudah bilang,” ucap Ravin, Sherin kesal dan kembali memukul dada Ravin.


Pria itu memeluk Sherin, membuat tubuh mereka menempel. “Kamu mau apa?” tanya Sherin waspada.


“Jangan berpikir yang aneh-aneh, aku cuma mau merasakan bagaimana rasanya memeluk istriku. Semalam harusnya malam yang paling indah tapi kamu merusak semuanya.”


Mendengar itu Sherin semakin malu, dia tahu dia salah. Mungkin malam ini dia akan menebus kesalahannya itu. Tapi bagaimana caranya? Bertindak agresif? Tidak! Sherin tak berani melakukannya, atau memakai pakaian dinas? Mungkin bisa dicoba.


***


Usai mandi dan memakai pakaian, Sherin mengemas barang dan dimasukkan kedalam koper. Koper yang kemarin ada dikamar hotel yang di tempatinya sudah dipindahkan semalam. Jadi, hari ini juga Sherin akan pindah ke rumah Dina, mertuanya.


“Sudah selesai belum?”


“Belum, sebentar lagi. Memangnya kenapa buru-buru?”


“Mama sudah menyuruh kita ke bawah. Mereka menunggu untuk sarapan bersama,” ujar Ravin.


“Oh … tunggu sebentar, hampir selesai.” Sherin menutup kopernya dan menarik resleting. Hanya satu koper, itupun isinya kebanyakan barang seperti make up, untuk pakaian hanya ada beberapa setel.

__ADS_1


Setelah semuanya beres, Sherin dan Ravin segera menuju tempat keluarganya yang sudah menunggu. Sampai di sana Calysta langsung mengeluarkan omelannya.


“Huh! Mentang-mentang pengantin baru, datangnya paling lama. Tahu nggak kalau kami sudah duduk setengah jam cuma gara-gara nunggu kalian?”


“Tadi kami dari beresin barang-barang, bangunnya juga kesiangan,” ucap Sherin.


“Harusnya bisa lebih pagi, kalian 'kan semalam nggak ngapa-ngapain,” celetuk Calysta, sesaat dia menyadari sudah keceplosan.


“Maksud kamu apa?” tanya mama Dina.


Calysta tersenyum kikuk. “Maksud aku, ya gitulah … ” tak punya kata untuk memberikan alasan. Sementara Dina menyipitkan matanya.


“Semalam kami tidurnya malam, bukankah acara semalam memang selesainya saat hampir larut?” alasan Ravin, pria itu melotot ke arah Calysta.


Mama Dina dan yang lain jadi tak curiga, mereka lanjut sarapan dengan diselingi obrolan. Setelah sarapan, Dina dan yang lain akan pulang dulu, mereka menunggu Sherin dan Ravin di rumah.


Untuk kakek Haris dan nenek Linda, keduanya akan langsung pulang ke rumah tanpa mampir ke tempat mertua Sherin karena ingin istirahat. Tapi, besok-besok mereka akan mengadakan acara makan malam bersama.


“Barang-barangku belum semuanya dibawa, masih ada banyak di rumah kakek.”


“Besok kita ke sana,” ucap Ravin.


Sherin menoleh. “Kita tidak kerja?”


Ravin menatap Sherin sekilas. “Kamu pikir aku gila kerja? Tidak butuh libur meskipun baru saja menikah? Kita juga butuh liburan 'kan? Kamu tenang saja, aku sudah meminta cuti untukmu selama dua minggu.”


Sherin diam sesaat, kemudian mengangguk. “Aku lupa kamu bosnya.” Ravin tertawa mendengar itu.


Perjalanan tak butuh waktu lama, sesampainya di rumah Dina, Sherin langsung disuruh istirahat di dalam kamar Ravin. Untuk yang kedua ketiga kalinya Sherin masuk ke kamar ini.


Ada yang berubah, yaitu seprai yang sudah diganti juga ada meja rias. Seorang pelayan datang dengan membawa koper milik Sherin.


“Letakkan di sana dulu,” tunjuk Sherin ke arah sudut kamar yang kosong.

__ADS_1


Ravin tadi sedang berbincang dengan ayahnya, jadi Sherin sendiri di kamar ini. Selama dia pernah ke sini, Sherin belum melihat-lihat isi seluruh kamar ini. Kali ini Sherin punya kesempatan.


Terakhir kali, Sherin melihat ada sebuah album musik milik Prisha, entah masih ada atau tidak Sherin jadi penasaran. Dia mulai membuka laci di samping ranjang, di atas laci itu ada sebuah lampu tidur. Laci pertama tak ada apapun, tapi di laci yang kedua Sherin melihat ada album musik milik Prisha.


Bukan hanya album musik, tapi beberapa foto juga ada. Sherin jadi penasaran, kenapa Ravin menyimpan foto-foto ini?


Sherin meletakkan itu kembali ke tempat semula, lalu dia kembali berkeliling. Masuk ke dalam kamar mandi lalu walk in closet, Sherin bersorak senang kemudian dia langsung mengambil koper dan menyusun pakaiannya di sana.


Ternyata kamar Ravin cukup besar, dua kali lipat dari kamar miliknya di rumah kakek. Ketika sedang asik membereskan pakaian, Sherin dibuat terkejut oleh kedatangan Ravin yang tiba-tiba.


“Aku pikir kamu tidur,” ucap Ravin sementara Sherin mengelus dada.


“Aku sudah cukup tidur semalam. Oh ya, aku mau tanya sesuatu,” Sherin menyuruh Ravin mengikutinya. Di tempat laci tadi, Sherin mengambil sebuah foto dan album, hal itu membuat Ravin melotot.


“Bisa kamu jelaskan ini?”


“Itu—” Ravin bingung bagaimana cara menjelaskan. Dia lupa untuk menyingkirkan benda itu, harusnya sudah di buang sejak lama karena dia sudah tidak butuh, tapi keburu Sherin melihat.


“Kita sudah menikah, jadi jangan ada rahasia di antara kita,” tekan Sherin membuat Ravin menelan ludah kasar.


Dari pada berbohong lebih baik jujur. Kalau tidak, bisa berabe urusannya. Mana dia belum mendapatkan haknya, belum melakukan 'itu' dengan Sherin. Padahal katanya rasanya nikmat, tapi semalam gagal karena Sherin sudah tidur lebih dulu.


Tapi, yang jelas ini adalah salah adiknya, Calysta. Kalau saja anak itu tidak meminta dia melihat shower yang katanya rusak padahal tidak, Ravin bisa merasakan surga dunia bersama Sherin. Jadi hari ini Ravin harus hati-hati saat bicara.


Ravik mengembuskan napas sebelum bicara jujur. “Itu … sebenarnya Prisha cinta pertamaku,” ungkap Ravin.


Sherin mematung, otaknya seketika kosong. “A—apa katamu?” Sherin takut salah dengar.


“Aku bilang, Prisha cinta pertamaku. Tapi itu dulu, sekarang sudah tidak. Sekarang aku hanya cinta kamu,” Ravin sedikit panik saat melihat Sherin bergeming. Ravin takut Sherin marah.


Sherin justru sebaliknya, dia merasa ada bunga-bunga yang tumbuh dihati. Prisha cinta pertama Ravin? Bukankah itu sama saja Ravin tetap mencintai dirinya? Meski bagi Ravin dia orang yang berbeda namun jiwanya tetap Prisha.


Sherin hanyalah raga, jiwanya adalah orang yang dicintai Ravin. Sejak awal Ravin mencintai orang yang sama dengan raga yang berbeda. Dulu, cinta itu bertepuk sebelah tangan, karena Sherin tak tahu ada orang yang tulus mencintai dirinya seperti Ravin, kini cinta itu terbalas membuat Sherin rasanya ingin memberikan seluruh cintanya pada Ravin.

__ADS_1


__ADS_2