Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 79


__ADS_3

Pagi harinya, Sherin terbangun dalam pelukan sang suami. Wanita yang baru pecah perawan itu mengangkat kepalanya dan menatap wajah Ravin dengan lekat. Ravin masih tertidur, terlihat sangat tenang jika dilihat dari jarak yang sangat dekat.


Yang paling penting adalah Ravin sangat tampan, beruntungnya Sherin mendapatkan pria ini.


Sekilas, kejadian semalam muncul di ingatannya. Penyatuan yang penuh keringat itu membuat Sherin tersenyum sendiri dengan wajah yang memerah. Setelah sadar buru-buru Sherin menggeleng.


“Otakku jadi kotor,” gumamnya lirih.


Sherin sadar mereka tak mengenakan pakaian, tubuh mereka menempel dan itu menimbulkan efek yang tidak baik bagi Sherin. Pelan-pelan dia mencoba bangkit, tapi kemudian matanya melotot diiringi ringisan kecil.


“Akh ... sakit,” ringis Sherin. Merasakan bagian intinya yang perih.


Suaranya membangunkan Ravin yang tengah tertidur, pria itu lantas membuka mata dan melihat Sherin tengah mencoba untuk bangkit. Dengan nyawa yang belum terkumpul, Ravin ikut bangkit.


“Kenapa, Sayang?”


Sherin melirik Ravin dengan kesal. “Gara-gara kamu ini!”


Ravin mengernyit. “Kok aku? Memangnya aku kenapa?” tanyanya heran, baru bangun tidur langsung disalahkan.


Sherin pukul lengan suaminya dengan pelan. “Gara-gara kamu semalam, aku jadi tidak bisa bangun,” decak Sherin.


Wanita itu menarik selimut untuk menutupi dadanya, netranya masih menatap Ravin yang terlihat terkejut.


“Ah,” mendengar itu Ravin menggaruk belakang kepalanya, dia tak menampik hal tersebut.


“Tapi jangan salahin semuanya ke aku, bukannya kamu juga nikmatin?”


Sherin merasa tertohok, malu untuk mengakui akhirnya Sherin mengulurkan tangan. Pria yang menjadi suaminya itu bingung, Sherin berdecak kesal.


“Bantu aku ke kamar mandi,” pintanya.


“Oke, siap!” balas Ravin bersemangat.


Ravin mengangkat Sherin, menggendongnya dan membawa sang Istri dengan tubuh polos itu masuk ke dalam kamar mandi dan meletakkan di bathub. Awalnya Ravin ingin ikut masuk ke dalam bathub tapi segera Sherin menghalangi.


“Eits ... mau apa?” tanya Sherin dengan mata melotot tajam.

__ADS_1


“Ikut mandi,” jawab Ravin.


“Aku cuma minta tolong, bukan ngajak kamu ikut mandi. Udah, pergi sana! Jangan lupa waktu keluar pakai celana,” usir Sherin dengan mengibaskan tangannya, pandangan Sherin ke arah lain.


Bukan tak ingin menatap sang suami, tapi masalahnya Ravin sedang tidak memakai apapun. Sherin tak mau matanya jelalatan ke arah lain. Sementara Ravin mengembuskan napas pasrah, menuruti perintah sang istri untuk menunggu di luar. Juga memakai kimono karena merasa udara pagi ini cukup dingin.


***


Usai melakukan ritual pagi hari, keduanya bersiap untuk turun. Tapi Ravin sudah berjalan lebih dulu, sementara Sherin sedang memoles wajahnya dengan make up tipis. Setelah selesai barulah Sherin turun ke lantai bawah.


Langkahnya pelan. Itu karena Sherin masih merasakan nyeri di intinya, tiba di depan kamar Calysta, Sherin berpapasan dengan adik iparnya yang juga baru keluar dari kamar.


“Pagi ... ” sapa Sherin.


“Pagi,” balas Calysta, matanya memicing saat melihat cara Sherin berjalan.


“Mbak, kenapa jalanmu kayak gitu?”


Pertanyaan Calysta membuat Sherin kelabakan, dia bingung ingin menjawab apa. “Biasa, lampu merah,” ucapnya canggung.


Mereka menyiapkan sarapan, Sherin makan dengan lahap karena merasa lapar. Ingat kegiatan mereka semalam ternyata menguras banyak tenaga.


“Oh iya, setelah ini kalian mau bulan madu kemana?” tanya Dina.


Sherin menelan makanan. “Belum tahu, Ma.”


“Lho? Memangnya belum di rencanakan?” Dina yang ingin menyuapkan makanan ke dalam mulut jadi urung.


Sherin menggeleng, dia memotong daging dengan pisau dan menusuknya dengan garpu. “Lupa, Ma. Lagian rencananya kami bulan madu kalau kasusnya Iriana sudah selesai,” ucapnya, setelah itu daging masuk ke dalam mulut.


“Kapan?” kini ayah mertua yang bertanya.


“Besok,” Ravin yang menjawab.


“Terus, hari ini kalian mau ngapain?” tanya Dina.


“Kita mau ketemu sama pengacara, ngumpulin semua bukti buat diserahin ke pengadilan. Besok pagi baru kami ke sana, harapannya sih cuma satu kali sidang Iriana sudah dapat hukuman,” jelas Ravin.

__ADS_1


“Papa pun berharap begitu, semoga Iriana dapat hukuman yang setimpal.”


***


Dipenjara, Iriana tengah berbicara serius dengan sang ibu. Mereka diberi waktu lima belas menit. Hanya sesingkat itu dan Iriana tak ingin melewatkan kesempatan. Mereka bicara berhadapan dengan meja sebagai penghalang.


Tak lupa Laras memberikan satu kotak yang isinya makanan. Sebelum diberikan kepada tahanan, kotak itu diperiksa lebih dulu. Sempat terjadi cekcok antara Laras dan salah satu polisi. Laras tak suka ketika polisi itu memeriksa kotak berisi makanannya.


“Jadi gimana, Mah?” tanya Iriana, selain mengobrol dia juga memakan makanan yang dibawa sang ibu dengan lahap.


“Kamu tenang saja, Mamah sudah bujuk Papahmu supaya bayar pengacara yang mahal. Mamah harap besok kamu langsung dibebaskan.”


Laras terlihat iba ketika melihat putrinya yang beberapa hari lalu masih bersantai di rumah dengan peralatan kecantikan dimeja rias kamar. Kini malah sebaliknya, putri cantiknya sedikit tak terurus meski baru beberapa hari.


Apalagi ketika melihat baju tahanan menempel di tubuh Iriana, Laras rasanya tak tega.


Iriana berhenti mengunyah. “Apa aku bisa bebas? Sementara kemarin bukan hanya tunangan wanita sialan itu yang melihatku menyiksanya tapi juga ada polisi yang melihat.”


Laras tahu kalau masalah ini akan sulit untuk membebaskan Iriana. Meskipun ragu, Laras tetap ingin mencoba, kalau belum mencoba 'kan tidak tahu hasilnya akan seperti apa.


“Mereka tidak punya bukti. Di sana tak ada CCTV yang merekam kejadian. Bukannya untuk memenangkan persidangan butuh bukti yang kuat?”


Saat itu Iriana tersenyum, membenarkan ucapan sang ibu. Kemudian dia lanjut memakan makanan yang di bawa ibunya.


“Kamu kelihatan lapar sekali,” gumam Laras.


“Aku belum makan dari semalam. Di sini makanannya tidak enak, tidak ada daging dan jus. Aku ingin pulang,” keluh Iriana.


Laras mengusap rambut putrinya. “Akan aku usahakan.”


“Bagaimana dengan Rainer?” tanya Iriana ragu, takut sang ibu tak suka mendengar dia menyebut nama pria yang telah membuat putrinya seperti ini.


Benar saja, Laras langsung mendengus kasar. “Kenapa kamu masih memikirkan pria itu? Jelas-jelas dia sudah merusak hidupmu, biarkan saja dia mendapat karmanya.”


Iriana diam saja, tak membalas ucapan Laras. Dia lanjut makan. Hidupnya kini kacau. Dia mendengar dari Laras kalau berita tentang perselingkuhan Rainer dengan Grisel dan perselingkuhannya dengan Rainer saat Prisha masih hidup menyebar.


Video dan foto panasnya saat di apartemen Rainer itu menjadi trending topik. Banyak diberitakan di banyak media, para fans Prisha langsung menyerangnya dengan kata-kata tajam. Itu kata Laras, Iriana hanya bisa menelan berita itu dengan susah payah. Kini, kariernya sudah hancur, semuanya hancur.

__ADS_1


__ADS_2