Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 53


__ADS_3

Langit cerah tanpa awan, angin berembus kencang menerbangkan beberapa helai rambut Sherin hingga menutupi mata. Kakinya melangkah menapaki pasir putih tepi pantai, rasa panas dari terik matahari menyengat kulitnya.


Salah satu tangannya bergandengan dengan Ravin, sementara di depannya ada Calysta yang sejak tadi terlihat antusias. Pantai hari ini terlihat ramai pengunjung. Tak peduli terik matahari yang bisa saja membuat kulit gosong.


“Ramai,” keluh Sherin. Tak terlalu suka keramaian, baginya tempat ramai akan membuat pengap.


“Tidak papa, besok aku sudah mengatur agar tempat ini sepi. Jadi biarkan mereka menikmati liburan hari ini,” Ravin mengusap pucuk kepala Sherin, membuat pipi wanita itu sedikit merona.


“Mbak! Di sini ramai banget, pasti banyak cowok ganteng,” celetuk Calysta.


“Mana ada orang ganteng? Yang ada cuma orang kulit hitam,” kata Sherin.


“Jangan salah, Mbak. Bagi orang luar, warna kulit sawo mateng itu kelihatan seksi, mereka bosan lihat orang kulit putih setiap hari,” Calysta tertawa sendiri sementara Sherin dan Ravin tak menanggapi.


Posisi matahari hampir berada di atas kepala, Sherin mengajak Ravin dan Calysta untuk duduk di pondok kecil dekat pantai. Harusnya mereka sudah ada di sini sejak beberapa jam yang lalu, tapi karena kedatangan Iriana dan ayah Sherin yang tiba-tiba, membuat mereka menunda waktu datang ke pantai.


“Kenapa tiba-tiba kakakmu bilang ingin tunangan?” tanya Ravin.


“Entah, padahal Iriana bilang tidak ingin menikah,” Sherin angkat bahu. Masih jelas di ingatannya ketika Iriana datang ke rumah untuk minta persetujuan kakek mengenai keinginan Iriana yang ingin bertunangan dengan Rainer.


Ada sedikit perdebatan tadi. Alasan Iriana adalah karena takut Rainer berpaling darinya. Hingga dia menunjukkan foto Rainer dan Sherin sedikit berpegangan tangan membuat kakek sedikit terkejut. Tapi, untungnya ada nenek Linda yang menjelaskan saat itu.


“Sudah ku bilang aku tidak berniat mengambil Rainer darimu! Dia itu pria berengsek!!” Sherin sampai menggebrak meja makan, bertepatan saat itu Ravin dan Calysta baru sampai.


“Rainer bukan pria seperti itu,” Iriana tak suka Sherin menjelekkan kekasihnya.


“Kalau nyatanya begitu bagaimana?” sinis Sherin.


Jika saja kakek tak balik menggebrak meja makan sarapan pagi akan terus tertunda entah sampai kapan. Alhasil Sherin jadi tidak nafsu makan kemudian dia mengajak Ravin segera pergi.


Sayang, nenek Linda menghalangi. Itu karena ada Calysta yang merupakan adik Ravin. Mereka mengobrol cukup lama seakan membayar kerinduan karena sudah lama tidak bertemu.


“Biarlah, terserah apa mau dia. Tapi, aku juga bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk mempermalukan mereka,” Sherin menyeringai, seakan mendapatkan angin segar. Tiba-tiba terpikirkan sebuah ide yang baru muncul di kepala.


“Apa?” Ravin penasaran, Sherin menggeleng tanda tak ingin memberitahu.


Siang itu Sherin dan Ravin mengobrol dengan seorang fotografer yang besok akan memotret mereka. Persiapan pre-wedding sudah beres hanya tinggal menentukan waktu. Semua perlengkapan seperti pakaian dan yang lainnya sudah di siapkan oleh Dina beberapa hari yang lalu.


Waktu terus berjalan, tanpa terasa hari semakin sore. Matahari hampir tenggelam membuat langit menjadi berwarna jingga. Pengunjung semakin sepi, tapi Sherin dan Ravin belum juga kembali. Mereka berkeliling berdua sementara Calysta entah kemana.

__ADS_1


Gadis itu merasa jadi nyamuk di antara dua pasangan yang sedang jatuh cinta. Jadi lebih baik pergi dari pada hanya bisa mengiri melihat sang kakak jadi bucin pada wanita baru di kenal.


“Semalam kamu tiba-tiba bilang cinta, memangnya sejak kapan ada perasaan itu?” tiba-tiba Sherin jadi penasaran.


Mereka berdua menuju warung yang semalam mereka singgahi untuk membeli sosis bakar. Perut terasa lapar setelah setengah hari berjalan kaki mengelilingi pantai.


“Aku sendiri tidak tahu, tapi semenjak melihat kamu tidak berpakaian di apartemen ku, perasaanku menjadi aneh.”


Sherin yang sedang meminum air mineral itu kontan tersedak. Mulutnya terbuka lebar mendengar kata-kata Ravin. “Apa?! Sejak aku tidak pakai baju kamu baru merasa ada perasaan itu?” tanyanya tak percaya.


Dengan polosnya Ravin mengangguk. Kembali ingatan pria itu berputar pada beberapa hari yang lalu. Setelah Sherin puas menciumnya hingga muntah di kamar mandi, Ravin terpaksa memandikan Sherin. Ingin meminta bantuan tapi bingung dengan siapa, sampai akhirnya dengan sekuat tenaga Ravin menahan nafsunya sebagai seorang pria.


Memandikan seorang wanita yang sedang tak sadar akibat salah minum. Itu sangat sulit, apalagi ketika melihat tubuh polos yang baru pertama kali dia lihat. Sejak saat itu, setiap Ravin bertatapan dengan Sherin maka Ravin tak mampu mengendalikan perasaannya.


Jantungnya berdebar sangat kencang, telinganya terasa panas. Pun tiba-tiba ada keinginan untuk menjaga Sherin karena ia tak ingin ada pria lain yang melihat tubuh Sherin yang putih itu. Hanya dia yang boleh lihat, dia yang berhak dan bukan orang lain.


Sherin tak mampu lagi berkata, pantas saja beberapa hari ini sikap Ravin menjadi aneh walaupun terkadang masih menyebalkan. Apa ada orang jatuh cinta hanya karena melihat tubuh polos tanpa busana milik wanita itu?


“Makanya kalau tidak bisa minum jangan minum!” kata Ravin menyadarkan Sherin dan keterkejutannya.


“Aku tidak tahu, aku pikir yang ku ambil itu minuman biasa.”


“Bukan begitu— eh, kamu cemburu?” tebak Sherin, merasa ada yang salah.


“Tidak!” jawab Ravin cepat, tapi telinga pria itu memerah menandakan tebakan Sherin tepat sasaran.


Sherin hanya diam sesekali menahan senyum. Sebahagia ini rasanya di cemburui, pikir wanita itu.


...⚫⚫⚫...


Dengan langkah bosan Calysta menyusuri jalanan berpasir. Beberapa kali ia hentakkan kakinya hingga sepatunya kemasukan pasir. Gumam-gumaman kecil terus keluar dari mulutnya.


“Tau gini ngapain tadi ikut?” gadis itu berdecak kesal.


“Oh, Mama. Malang sekali nasib jomlo satu ini,” keluh Calysta. Ia menengadahkan kepalanya hingga menatap langit, wajahnya berubah muram. Ingin menangis tapi tak ada alasan.


Kemudian tatapan Calysta berkeliling, hari semakin sore dan lampu-lampu mulai menyala. Tak jauh dari tempatnya berdiri banyak penjual makanan ringan. Calysta tak bernafsu sama sekali.


Hingga matanya terpaku pada satu sosok laki-laki yang sedang duduk di sebuah restoran kecil sedang memainkan ponsel. Hatinya menjerit senang.

__ADS_1


“Ahh ... cowok ganteng,” dengan langkah cepat Calysta menghampiri pemuda itu.


“Hai,” sapa Calysta ketika tepat berada di depan pemuda yang belum dia ketahui namanya.


Pemuda itu mengangkat kepala, menatap bingung pada Calysta. “Kenalan, yuk.” Calysta mengulurkan tangannya.


Sementara pemuda itu hanya mengerutkan dahi tanpa mau menyambut uluran tangan. Gadis itu cemberut. “Ya Tuhan, baru nemu yang kayak gini kok cuek banget?” lirih Calysta.


Calysta tarik kembali tangannya, tersenyum canggung lalu duduk di hadapan pemuda tampan itu.


“Nama kamu siapa?” Calysta mencoba bersikap normal.


“Kael,” ucap pemuda itu singkat tanpa mau menanyakan nama sang lawan bicara.


Membuat Calysta menunduk lesu. “Oh ya, ke sini sama siapa?”


“Sama ... ” belum sempat menyelesaikan ucapan tiba-tiba seorang gadis seusia mereka datang menghampiri.


“El, lo udah pesen— eh, ini siapa?” Cahaya melirik Calysta yang memandangnya dengan curiga.


“Orang,” jawab Kael.


“Ish,” Calysta mendengus kesal.


Tahu bahwa pemuda di hadapannya sudah punya pawang, maka lebih baik Calysta pergi. Dengan nada berat dia berkata, “Maaf mengganggu, saya pamit pergi dulu, selamat tinggal pangeranku.”


Ucapan Calysta jelas membuat keduanya heran. Ada gadis aneh rupanya di tempat ini. Sementara Calysta bingung ingin melakukan apa. Bertemu cowok tampan tapi sudah punya pawang, sedih sekali rasanya.


Hingga akhirnya dia memutuskan untuk balik ke mobil saja. Siapa tahu di tengah jalan bertemu yang seperti tadi.


“Halu aja terus,” pikir gadis itu mencoba menyadarkan diri sendiri.


.


.


.


bersambung.

__ADS_1


maaf baru up, aku lagi stuck banget ini. Nulis pun ngerasa gk dapet feelnya🤧. Makasih buat temen-temen yang udah mau mampir, semoga betah sama cerita ini🤗, jangan lupa like dan komennya yaa, ku tunggu jejak kalian😉


__ADS_2