
Tadi malam Sherin bermimpi aneh tapi terasa nyata, mimpi yang membuat Sherin ingin kabur dari dunia ini. Ketika cahaya matahari masuk melalui celah jendela, Sherin mengerjapkan kedua matanya.
Seketika Sherin merasakan sakit kepalanya, berdenyut seiring Sherin mulai bangkit dari tidurnya. Ia pijat pelipisnya agar mengurangi rasa pusing.
“Sakit ...,” lirih Sherin, kemudian dia mendongak menatap sekeliling dengan kening berkerut.
Ini dimana? Sherin tidak kenal tempat ini. Lalu dia berpaling hingga kedua bola matanya melebar sempurna.
“Astaga, apa aku bermimpi lagi?” Sherin mengucek kedua matanya, mengumpulkan kesadaran sekaligus penglihatan.
Ada makhluk tampan yang sedang tertidur di sampingnya, Sherin mencoba memahami situasi. Keadaan ini hampir sama seperti kemarin pagi, kenapa sekarang bisa terulang.
Ingatan Sherin kembali pada saat malam tadi, mereka berdua pergi ke pesta lalu dia duduk sendirian hingga salah mengambil gelas. Kemudian— ingatannya jadi samar, tapi ada satu adegan yang membuat Sherin ingin tenggelam ke dasar bumi.
Dia mengoceh di hadapan Ravin tapi yang paling memalukan adalah dia mencium Ravin tepat di bibir. Sangat agresif. Sherin ingin berteriak, ia tutup wajahnya dengan telapak tangan sesekali memukul kepalanya.
“Ku kira cuma mimpi tapi ternyata itu nyata,” wajah Sherin kini sudah memerah bak kepiting rebus.
Lalu ia meraba bibir. Bibir yang tadi malam telah mencium bibir Ravin. Dari tubuh ini adalah ciuman pertamanya, tapi sebenarnya dulu saat masih menjadi Prisha, dia sudah sering berciuman dengan Rainer. Ingat! Hanya sebatas bibir dan tidak lebih.
“Emh ..., ” Ravin menggeliat, mungkin merasa terganggu karena Sherin terus bergerak. Gadis itu sangat malu, entah bagaimana reaksi Ravin saat bangun tidur nanti.
Sherin berbaring, ia takut Ravin bangun. Menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, hingga matanya tanpa sengaja menatap pakaian yang di kenakan.
“ARGHH ...!!” Sherin bangkit lagi.
Apa tadi? Kenapa pakaiannya sudah ganti? Ia melirik kebawah, tubuhnya lemas seketika. Siapa yang sudah mengganti pakaiannya? Bahkan kini dirinya hanya memakai kemeja berwarna putih tanpa dalaman.
“Berisik!!” cetus Ravin, pria itu terbangun karena teriakan Sherin.
Sherin menoleh, kemudian ia mundur dan mengangkat selimut. “Kenapa?” Ravin heran.
“Kamu apakan aku?” tatapan Sherin memelas, takut terjadi sesuatu padanya tadi malam.
Ravin menghela napas, menahan kesal sebenarnya. “Harusnya aku yang tanya, kamu apakan aku semalam? Aku bahkan hampir hilang kendali karena kamu!” ketusnya.
“Semalam ... ” Sherin menelan ludah, apa yang semalam ia lakukan? Selain mencium bibir Ravin Sherin tak ingat lagi.
“Jadi, siapa yang mengganti bajuku?” tanya Sherin takut.
“Kalau bukan aku siapa lagi?” sinis Ravin.
“Ha ... ha ... ha ..., jangan bercanda. Bagaimana caramu menggantinya?” Kedua tangan Sherin sudah gemetaran.
__ADS_1
“Ya begitu, aku melepas gaun mu, menggendongmu yang tidak sadar lalu memakaikan kamu kemeja,” ucap Ravin enteng.
Sherin ingin menangis, berarti Ravin telah melihat semuanya? Ia memalingkan wajah, tak berani menatap wajah pria itu.
“Hatchiii!!!” tiba-tiba hidung Sherin gatal, ia mengusapnya tapi bersin lagi.
“Aku kena flu,” keluh Sherin. Ia usap keningnya sendiri. Panas.
“Tuh 'kan,” gumam Sherin. Ia pikir efeknya tidak akan seperti dulu, tapi ternyata sama saja. Alergi alkohol tetap di deritanya, padahal sudah pindah tubuh. Juga minum alkohol hanya sedikit.
“Kamu kenapa?” tanya Ravin. Pria itu mendekati Sherin, ikut mengusap kening sang tunangan.
“Eh, panas ...,” Ravin terkejut, tiba-tiba saja Sherin mengalami demam.
Tubuh Sherin semakin lemah, rasa pusing kembali menderanya. Sherin merebahkan dirinya, tak peduli dengan rasa malu yang tadi di rasa. Sekarang Sherin butuh seseorang.
“Apa karena aku memandikan kamu dengan air dingin?” Ravin jadi khawatir, rasa bersalah tiba-tiba datang.
Sementara Sherin terkejut, pantas saja bisa demam tinggi ternyata tadi malam Ravin menyiksa tubuhnya dengan air dingin. “Kejam!” lirih Sherin.
Dengan cepat Ravin menghubungi seorang dokter, tidak sampai lima belas menit dokter wanita datang dengan wajah kesal.
“Akhirnya kamu datang,” Ravin bernapas lega.
“Maaf, lagian menolong teman yang sedang kesulitan banyak pahalanya.”
Findy memutar bola matanya jengah, “Kamu sakit apa?”
“Bukan aku yang sakit.”
“Lalu?”
Ravin membawa Findy ke kamarnya, di sana ada Sherin yang masih terbaring lemah. Kedua kelopak mata itu tertutup, jika di buka maka sekeliling terasa seakan berputar.
“Astaga, Ravin! Kamu apakan gadis ini?” Findy menutup mulutnya yang terbuka.
“Tidak aku apa-apakan, dia demam jadi aku memanggilmu ke sini,” dengus Ravin, kesal.
Findy segera memeriksa Sherin, sekilas Sherin membuka mata lalu di tutup lagi.
“Apa dia ada makan atau minum sesuatu?”
“Tidak ada, tapi tadi malam dia minum alkohol.”
__ADS_1
“Ah, pantas saja. Dia alergi alkohol, tapi uniknya alergi ini tidak menimbulkan gatal-gatal atau kemerahan, hanya demam dan tubuh lebih lemah saja, tapi kenapa panasnya bisa setinggi ini?” Findy terlihat heran.
“Apa karena semalam aku menyiramnya dengan air dingin?” pertanyaan Ravin membuat Findy terperangah.
“Ya Tuhan, kamu tega sekali menyiram orang dengan air dingin malam-malam. Pantas saja! Sudah demam karena alergi di tambah kamu menyiramnya dengan air dingin,” Findy menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak tahu kalau dia akan demam,” Ravin merasa bersalah.
Findy menghela napas. “Sudahlah, tidak berbahaya juga. Aku tuliskan resep obat dan tinggal kamu tebus di apotek, jangan lupa kompres dahinya agar demamnya turun.” Ravin mengangguk patuh.
“Oh ya, jangan beri dia makan yang pedas-pedas.” Ravin mengangguk lagi.
Setelah Findy memberikan resep obat, mereka keluar dari kamar. Ravin hendak mengantarkan Findy sampai depan pintu tapi wanita dengan jaz putih itu berhenti membuat Ravin ikut berhenti.
“Sebenarnya dia siapa? Sampai kamu bawa masuk ke dalam apartemen?”
“Tunangan ku,” jujur Ravin.
Bola mata Findy membola. “Tunangan? Sejak kapan kamu punya tunangan?”
“Sebulan yang lalu.”
“Sudah sebulan? Kenapa aku tidak di undang? Sudah berteman sejak masih TK kamu ternyata tidak setia kawan. Bahkan mau menikah saja aku tidak di kabari,” Findy memukul lengan Ravin membuat pria itu mengaduh.
“Mana sempat, aku lupa. Lagian acaranya dadakan.”
“Harusnya kamu beri tahu aku walaupun dadakan! Jika tidak sekarang mungkin kamu sama sekali tidak akan memberitahu aku.”
Ravin hanya bisa nyengir kuda, percakapan habis di situ. Usai Findy pergi, Ravin kembali masuk ke dalam kamar. Sherin masih bergelung di dalam selimut, rasa bersalah itu hadir lagi.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Ada nama mama Dina di sana, seketika Ravin jadi panik.
“Halo, Ma?”
“Ravinn!! Kamu bawa Sherin kemana?”
“Sherin tadi malam ketiduran, Ma. Jadi aku bawa ke apartemen, kalau ke rumah nenek Linda terlalu jauh, maaf, Ma.” dusta Ravin.
“Tapi Sherin aman 'kan? ”
Ravin melirik Sherin yang sama sekali tidak aman, maksudnya tidak sehat. “Aman, Ma. Ravin bakal antar Sherin pulang mungkin nanti siang. Ravin mau membahas pekerjaan dulu,” dalam hati Ravin semakin merasa bersalah telah menipu Dina.
“Ya sudah, jaga Sherin, jangan sampai dia kenapa-napa. Tadi kakek Haris menelepon, dia khawatir karena Sherin belum pulang!”
__ADS_1
Ravin menelan ludah. Ia cari aman walaupun dengan kebohongan. Setelah telepon mati, Ravin bergegas pergi ke apotek untuk menebus obat. Demi mengurangi rasa bersalah, Ravin sendiri yang akan merawat Sherin sampai pulih.