Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 41


__ADS_3

Malam ini Sherin merasa amat lelah, pukul setengah satu baru bisa memejamkan mata. Dinginnya AC membuat Sherin menggulung tubuhnya menggunakan selimut sampai batas leher. Lampu kamar di matikan dan di ganti dengan lampu tidur yang cahayanya remang-remang.


Rasanya baru memejamkan mata tapi malah telinganya terganggu dengan suara ponsel yang berdering tak mau berhenti.


“Siapa sih yang nelepon malam-malam begini?!” decak Sherin, ia ambil ponsel di atas bantal di sebelahnya.


Di lihatnya ada nama mama Dina, dahi Sherin mengerut, bertanya kenapa mama Dina menelepon malam-malam begini. Tanpa Sherin tahu bahwa saat itu jam sudah menunjukkan pukul lima pagi. Bukan malam hari lagi.


“Halo, Ma?” Sherin menguap.


“Halo, Rin. Kamu masih tidur?”


“Iya, Ma. Aku baru saja tidur, kenapa mama malam-malam telepon aku?” Sherin bicara dengan nada serak, matanya masih mengantuk dan hampir tertutup kembali jika saja Dina tak mengeluarkan suara.


“Malam bagaimana? Sekarang sudah pagi.”


“Hah? Pagi?” Sherin bingung, ia lirik jam di dinding, ternyata benar, sudah jam lima lebih.


“Maaf, Ma. Aku tidur terlalu malam jadinya sekarang masih ngantuk, maklum ya, Ma.”


Di sana Dina menghela napas. “Iya, tak apa. Mama telepon karena pengin ngundang kamu ke rumah. Kakek pengin ketemu sekalian Mama juga mau ngobrol. Kangen.”


“Sekarang, Ma?”


“Iyalah! Sampai di sini kamu bisa tidur lagi, tapi sekarang kamu siap-siap ya.”


Sherin mengerucutkan bibirnya, ia menyetujui ajakan Dina meski sedikit malas. Matanya masih terasa berat, tapi di paksa untuk melek. Usai meregangkan tangannya, Sherin beranjak ke kamar mandi.


Dua puluh menit Sherin keluar sudah dengan pakaian lengkap. Di ambil tas beserta isinya lalu keluar kamar. Sebelum pergi tak lupa Sherin minta izin walaupun merasa tidak enak karena sudah mengganggu tidur neneknya.


Tidak sampai setengah jam Sherin tiba di rumah Ravin, di antar supir Sherin keluar dari mobil. Langit masih terlihat gelap, hanya ada sedikit cahaya di ufuk timur. Ayam jantan mulai berkokok, menjadi alarm para warga yang tinggal di perumahan ini.


“Pagi, Ma,” sapa Sherin ketika sudah masuk ke dalam rumah, mama Dina menyambut dengan gembira.


“Akhirnya kamu datang, sudah di tungguin dari tadi.”


Sherin meringis. “Aku tadi masih tidur, mata masih berat buat melek, apalagi semalam tidur terlalu malam.”

__ADS_1


“Iya, Mama tahu. Mama sudah lihat kamu di TV, kamu hebat banget, Mama juga suka sama suara kamu,” puji Dina.


Sherin hanya tersenyum. Mereka berjalan menuju sofa ruang tengah, di sana sudah ada kakek Faris tapi papa Farid tidak ada.


“kakek ... ” Sherin duduk di sebelah kakek Faris, sudah cukup lama mereka tak bertemu.


Tak henti-hentinya kakek dan Dina memuji sang calon menantu. Sherin hanya bisa menanggapi dengan ucapan terima kasih sambil tersenyum. Semakin lama matanya kembali terasa berat, Dina yang peka pun merasa kasihan.


“Kayaknya kamu masih ngantuk,” Sherin mengangguk. “Ya sudah, kamu tidur saja, lagian sekarang belum ada jam enam, nanti jam setengah delapan mama bangunin.”


“Kamarnya yang mana, Ma?” Sherin bersemangat untuk tidur lagi.


“Kamu masuk ke kamar Ravin saja,” saran Dina, sedangkan Sherin malah melotot.


“Kenapa kamar Ravin?”


“Kamu tenang saja, Ravin tak ada di rumah, dia sudah pergi lari pagi sebelum kamu ke sini. Aman.”


Tak ada pilihan lain, Dina tak mau memberinya kunci kamar tamu dan harus tidur di kamar Ravin, katanya untuk perkenalan. Setelah menikah juga Sherin akan tinggal di kamar Ravin.


Begitu matanya melihat kasur, Sherin langsung merebahkan dirinya. Melempar tas ke atas nakas, ia raih selimut tebal untuk menutupi tubuh, gorden kamar belum terbuka, lampu temaram menyala membuat suasana nyaman dan tenang.


“Asik, tidur lagi.” tidak sampai lima menit, kedua bola mata Sherin mulai tertutup. Dia sudah ngantuk berat.


Setengah jam berselang, pintu terbuka, Ravin muncul dengan tetesan keringat di tubuh. Tak menyadari ada manusia lain yang sedang tertidur di kamarnya.


Dengan santai Ravin pergi ke kamar mandi, membersihkan tubuh dari keringat yang lengket. Keluar hanya memakai handuk sebatas pinggang, lalu memakai baju di hadapan Sherin yang matanya masih tertutup rapat.


Hanya celana pendek dan kaos, Ravin berniat libur untuk hari ini. Selesai mengeringkan rambut, Ravin beranjak naik ke kasur, lalu mengambil ponsel di atas nakas tapi baru sadar akan sesuatu.


“Lha? Ini tas siapa?”


Ravin sepertinya kenal, ia tatap tas itu sambil mengingat-ingat.


“Semalam Sherin juga pakai tas itu.” Saat itu juga matanya melotot, lalu tatapannya beralih ke atas ranjang, terkejut bukan main, ada manusia cantik yang sedang menutup mata sambil mendengkur halus.


“Sejak kapan dia di sini?”

__ADS_1


Dada Ravin berdebar dengan kencang, ingatannya berputar ke beberapa menit yang lalu, dimana dia memakai baju di dalam kamar dan bukan di kamar mandi. Wajahnya tiba-tiba panas dan memerah. Ia menggeleng.


“Ah, dia 'kan tidur. Tak mungkin melihat aku memakai baju.”


Ravin naik ke kasur, lebih dekat dengan Sherin. Ia tatap wajah tenang yang pemiliknya sedang bermimpi indah.


“Rupanya kalau tenang begini wajahnya cantik,” celetuk Ravin, wajahnya kini semakin dekat dengan Sherin, tangannya terangkat mengusap pipi mulus yang kini terasa sangat halus, terasa chubby jika di cubit walaupun terlihat sedikit tirus.


“Brengsek!”


Ravin melebarkan kedua matanya, ia tarik kembali tangannya dan mendadak gugup. Takut Sherin terbangun.


“Huhuhu ... dasar brengsek,” celetuk Sherin.


Ravin mengelus dada, rupanya Sherin mengigau. Tapi kenapa kata-kata yang keluar sangat kasar. Bahkan kini air mata Sherin mengalir, matanya masih tertutup rapat tapi bibir bawah di gigit. Sherin tidak sadar.


“Apa dia mimpi buruk?”


Ravin terus mengamati Sherin, padahal tadi Sherin amat tenang tidurnya dengan bibir sedikit tersenyum. Sekarang tiba-tiba menangis. Aneh.


“Kenapa kamu jahat sekali,” ucap Sherin lagi. Air mata terus keluar sampai membasahi bantal Ravin yang berwarna abu-abu.


Ravin semakin penasaran. Ada apa dengan Sherin yang tiba-tiba menangis dan mengigau?


“Hey!” Ravin melambai di depan wajah Sherin, berpikir Sherin hanya menipu dirinya dan pura-pura menangis.


Tapi, tak ada reaksi apapun dari Sherin, berarti benar-benar Sherin sedang bermimpi buruk sampai mengigau. Lalu, siapa yang ada di dalam mimpi Sherin?


Kembali sebuah pertanyaan berputar di kepalanya.


Selang beberapa detik, Ravin terkejut karena Sherin menarik tangannya. Membuat Ravin terjatuh di atas tubuh Sherin. Lagi, hal itu berefek tidak baik bagi kesehatan jantung Ravin.


Aroma shampo dari rambut Sherin tercium jelas di hidung Ravin, aromanya membuat Ravin sedikit oleng. Wangi sekali, pikirnya.


“Kamu brengsek!” Sherin kembali mengulang ucapannya.


Tangannya mencengkram kuat lengan Ravin, pria itu tak bisa berbuat apa-apa. Sulit di lepas meski sudah di coba berkali-kali. Hingga akhirnya Ravin tak bisa menahan kantuk, matanya ikut tertutup di samping Sherin.

__ADS_1


__ADS_2