
Pagi ini, Sherin telah siap dengan pakaian yang rapi, emangnya mau kemana?
Jadi, Sherin mendapat undangan dari mama Dina untuk segera datang ke rumah beliau pagi-pagi. Meski penasaran, Sherin tidak bertanya. Alasannya karena lupa.
Sherin turun tangga, menuju meja makan yang ternyata sudah ada penghuninya. Nenek serta kakek telah siap menyantap sarapan paginya, hanya tinggal menunggu Sherin.
“Nek, Mama Dina tadi malam telepon aku dan aku di suruh ke sana pagi ini,” celetuk Sherin, ia mulai mengambil roti dan mengoleskan coklat.
“Kenapa tak dari tadi? Kalau dari tadi 'kan kamu bisa sarapan di sana. Sekalian menjalin hubungan biar lebih baik lagi,” ujar nenek Linda.
“Tadinya mau gitu, tapi tadi malam aku tidurnya kemalaman jadi pas bangun kesiangan,” Sherin berucap sedih.
“Dapat gitar baru dari tunangan pasti senangnya kebangetan, Nenek maklum, kok.”
“Nggak senang-senang banget, kok, Nek. Biasa aja, cuma semalam aku coba main sampai lupa waktu,” Sherin menggaruk kepala.
“Ya sama saja lah,” nenek Linda malah angkat bahu, Sherin lagi-lagi hanya bisa menggaruk kepala.
Kemudian ia lanjutkan sarapan rotinya sampai habis empat lapis. Begitu juga saat satu gelas susu tandas tak tersisa, Sherin langsung beranjak.
“Nek, aku pergi dulu, ya. Aku pulangnya tidak terlalu malam,” tanpa menunggu respon neneknya, Sherin langsung melesat pergi karena ia benar-benar terlambat.
Keenakan dapat gitar baru jadi lupa waktu. Jarum jam sudah di angka satu, Sherin baru mau tidur.
Sherin pergi di antar supir, untung saja tidak terlalu jauh dan tidak akan menghabiskan waktu lama hanya untuk diperjalanan. Dengan langkah lebar, Sherin memasuki rumah, di sana ada pelayan yang menyambutnya.
“Mama ... ” panggil Sherin begitu sampai di ruang tamu.
“Sherin? Kamu sudah Mama tunggu dari tadi,” Dina terlihat cemberut, Sherin tersenyum kikuk.
“Maaf, Ma. Aku semalam begadang jadi bangun kesiangan. Aku lupa kalau ada janji ketemu Mama pagi-pagi,” Sherin mengatupkan kedua tangannya, meminta maaf.
“Iya, deh. Nggak pa-pa, Mama juga tahu kok apa alasan kamu begadang. Pasti gara-gara dapat hadiah dari Ravin 'kan?” tebak Dina.
“Eh, kok Mama tahu?” Sherin terkejut.
“Karena Mama sendiri yang usulin Ravin buat beli hadiah, tapi dia bingung mau hadiah apa, ya sudah, Mama bilang beliin aja apa yang kamu suka.”
Sherin beroh-ria, lekas ia duduk di sebelah Dina dengan tatapan bertanya-tanya mengenai siapa yang sedang mengobrol dengan Dina.
“Ini, Mama mau kamu sama Ravin diskusi buat nentuin dimana tempat acara nikahan kalian, sekalian prewedding-nya juga. Mumpung masih ada waktu, karena urusan yang lainnya juga masih banyak,” jelas Dina.
Sherin mengangguk paham. “Terus, Mas Ravin-nya mana, Ma?”
__ADS_1
“Dia masih di kamar, bentar ya, Mama panggilkan dulu.” Dina beranjak dari duduknya, beliau segera naik menuju lantai dua dimana kamar Ravin berada.
Tak lama setelah itu, Ravin datang dengan pakaian santai khas rumahan. Sherin terpaku untuk beberapa saat, pertama kali ia melihat Ravin memakai pakaian seperti ini, dan itu membuat Ravin— semakin bertambah ketampanannya.
“Kamu tidak kerja?” tanya Sherin ketika Ravin sudah duduk di sebelahnya, jarak mereka semakin dekat membuat Sherin dapat mencium aroma parfum yang di gunakan oleh Ravin.
“Tadinya mau kerja, tapi Mama memaksa agar aku cuti sehari,” ujar Ravin dengan nada kesal.
“Bukannya cuti lebih enak bisa seharian istirahat? Dari pada terus kerja dari pagi sampai malam, pasti sangat lelah,” kata Sherin, ia seolah lupa bahwa dirinya dulu ketika jadi Prisha pun selalu bekerja bahkan kadang tidak pulang.
“Itu menurutmu, kalau menurutku ya beda,” Ravin mengangkat bahu sedang Sherin mendengus.
Akhirnya setelah beberapa kali adu mulut, Ravin dan Sherin sama-sama serius memilih tempat resepsi dan prewedding mereka nanti. Itupun karena Mama Dina yang menegur.
Sherin melihat foto-foto lokasi di sebuah album, foto ini terlihat indah mungkin di ambil ketika ada pasangan lain yang ikut pemotretan prewedding.
“Aku mau foto prewedding-nya di pantai, pasti menyenangkan,” Sherin berbinar, ia suka dengan pantai meski sangat jarang ke sana.
“Berarti deal, ya. Untuk lokasi pernikahan kita sewa ballroom aja, dan prewedding-nya di pantai,” Mama Dina terlihat puas.
...⚫⚫⚫...
Di waktu yang sama namun tempat yang berbeda, ada Kael sedang duduk di bawah pohon besar dengan tumpukan buku di atas rumput. Di telinga Kael ada sebuah headset membuat Kael merasa tenang, di tambah embusan angin yang menerpa wajah.
Masalahnya, Kael mengenali salah satu dari mereka.
“Kak! Lepasin!!” teriak salah satu dari mereka, seorang gadis.
“Ca! Kamu pasti salah paham, apa yang kamu lihat kemarin itu nggak benar,” laki-laki itu berusaha memegang tangan sang gadis, Kael yang melihat itu jadi kesal.
“WOYYY!!!” tegur Kael, ia pun mendekati dua manusia yang sedang ribut entah karena apa, Kael tidak tahu.
“Kael?” gadis itu terkejut.
“Siapa, lo?” laki-laki itu bertanya heran.
“Siapa aja boleh,” Kael angkat bahu, kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celana. Kael terus mendekati mereka sehingga sekarang Kael berdiri tepat di samping gadis yang hampir menangis.
“Dia siapa?” tanya Kael.
“Dia Dzaka, wakil ketua OSIS yang gue ceritain kemarin,” jawab Cahaya sambil sedikit meringis, tangannya sakit.
“Eh, Bro, kalau sama cewek jangan main kasar, lo udah nyakitin Cahaya tuh, pasti tangannya merah,” tunjuk Kael ke arah tangan Cahaya yang di genggam kuat oleh Dzaka.
__ADS_1
Refleks Dzaka melepas genggaman itu, ia merasa bersalah. “Ca, kamu salah paham, apa yang kamu lihat itu nggak benar,” Dzaka berusaha menjelaskan.
“Salah paham gimana, Kak? Udah jelas-jelas kemarin gue liat Kakak itu ciuman sama si Dio,” Cahaya mengusap pergelangan tangannya yang ternyata benar memerah.
“Kemarin itu nggak sengaja, kamu cuma lihat setengahnya, coba lihat dari awal, pasti ngerti kalau aku nggak mungkin mau ciuman sama laki-laki,” Dzaka sampai bergidik ketika mengucapkannya.
Sementara Kael, dia sudah jengah melihat keributan ini. Ia pun menjadi penengah. “Udah, ye. Kalian tuh nggak tahu apa kalau kalian itu sudah mengganggu orang lain dengan suara ribut mirip bebek punya kalian.”
“Eh, diem, lo!” sentak Dzaka, menurutnya Kael sangat mengganggu.
“Lo yang diem! Gue sebenarnya males mau ngurusin urusan kalian yang nggak penting. Tapi, gue lagi belajar jadi nggak bisa konsentrasi,” balas Kael, ia bertambah kesal.
Cahaya yang sejak tadi diam sekarang jadi bingung, padahal tadi dia yang adu mulut kenapa sekarang malah jadi Kael?
“Eh, bentar-bentar, kenapa malah jadi kalian yang ribut?” Cahaya mendorong badan Kael yang mulai maju mendekati Dzaka.
“Gebetan lo, nih. Di bilangin dikit nggak terima, percuma jadi Waketos!” dengus Kael.
“Ca, dia yang duluan cari masalah. Aku 'kan cuma mau jelasin salah paham kamu tentang yang di belakang ruang OSIS. Aku sama Dio nggak mungkin ada apa-apa, amit-amit kalau aku beneran belok,” Dzaka memelas, terlihat lemas bagai orang yang sedang berpuasa menahan lapar dari pagi hingga malam.
Kael yang kesal langsung menarik tangan Cahaya untuk pergi dari sana, tidak mempedulikan Dzaka yang terus teriak karena Cahaya belum merespon ucapannya.
“Tuh laki kayak cewek dah, nyebelin banget!” Kael mendengus kasar.
Mereka tiba di bawah pohon di mana tadi Kael bersantai.
“Ihhh ... lepasin, sakit tau!” sentai Cahaya menarik tangannya.
Tadi tangan sebelah kanan di genggam kuat oleh Dzaka dan sekarang tangan sebelah kiri di remat oleh Kael karena kesal.
“Eh, sorry, kebablasan.” Kael melepaskan pegangannya.
“Huhuhu ... tangan cantik gue,” Cahaya meratapi nasib kedua tangannya yang memerah.
“Entar gue ganti,” celetuk Kael.
.
.
.
bersambung
__ADS_1
makasih yang udah mau mampir, jangan lupa tinggalkan jejak yaa😘😚