
“Kamu di mana?”
“Aku di ... ” Sherin memberikan alamat rumah Anika pada Ravin. Hari sudah malam dan dia belum kembali juga. Harusnya sudah dari tadi tapi sayangnya Sherin tidak mendapatkan taksi.
“Kamu tunggu di sana, aku ke sana sekarang.”
Sherin mematikan sambungan telepon, ia menghela napas berat. Tau begini Sherin tak akan pergi dulu dari rumah Anika. Ia pikir di daerah sini banyak taksi yang lewat tapi mungkin karena sudah malam tak ada sama sekali.
“Huftt ... ” Sherin mendudukkan dirinya di kursi panjang pinggir jalan. Rumah Anika ada di dekat Sherin tapi ia memilih duduk di luar karena tak mau mengganggu mereka yang sudah mau istirahat.
Sesekali ia mengusap lengan yang di terpa angin malam. Hawa sejuk seakan menusuk kulitnya. Cukup lama menunggu sampai ada sebuah mobil berhenti tepat di depan Sherin.
Pintu mobil terbuka, Ravin keluar dari sana. Sejenak dia terpaku kala melihat raut wajah Ravin yang terlihat Khawatir.
“Kamu bilang ada urusan dan ternyata malah ke sini?” tanya pria itu kesal.
Sherin hanya bisa nyengir. “Habisnya aku malu.”
Ravin menggeleng. Ia usap pucuk kepala Sherin membuat gadis itu terpaku. “Kenapa malu? Wajar kan kalau kamu bersikap begitu? Aku tahu kamu cemburu,” Ravin tersenyum.
“Mana ada cemburu,” Sherin menampik tangan Ravin, wajahnya kesal tapi terlihat rona merah di pipi. Masih malu, padahal sudah lewat setengah hari. Tambah malu lagi waktu Ravin ngelus kepalanya, ah, tumben pria itu jadi hangat begini.
“Ya sudah, kita pergi sekarang. Kamu pasti kedinginan, kemana-mana pakai baju pendek,” Ravin perhatian lagi, Sherin sampai tak percaya.
Ada apa dengan Ravin malam ini?
“Iya ... ”
Sherin dan Ravin masuk ke dalam mobil. Di dalam Ravin mematikan AC dan mengambil sebuah jaket di jok belakang. Lalu memberikannya pada Sherin.
“Pakai ini, tubuhmu akan cepat hangat. Oh ya, hoodie milikku masih ada di kamu, katanya mau di kembalikan.” Ravin menyalakan mesin mobil, mulai melaju membelah jalanan yang lenggang.
“Ah, iya. Aku lupa, lagian nyaman di pakai sampai tidak mau aku lepas,” Sherin memeluk dirinya sendiri, suhu tubuhnya semakin hangat dan tambah hangat juga karena perhatian Ravin.
“Apa karena ada aroma parfum ku?” tanya Ravin dengan pedenya.
“Bukan! Hoodie itu tebal jadi nyaman. Bau parfum kamu 'kan pasaran jadi tak terlalu istimewa sampai harus di ingat terus.”
“Kata siapa pasaran? Parfum ku itu memiliki aroma khusus. Di buat hanya satu-satunya di dunia.”
Sherin tak menanggapi, ia lebih memilih menatap ke luar jendela. Gedung-gedung tinggi berjajar, jalanan besar sudah sepi karena semakin malam. Sesekali Sherin melirik Ravin yang sedang fokus menyetir. Lampu jalanan menembus masuk memberi cahaya remang-remang di wajah pria itu.
Sherin akui Ravin sangat tampan, melebihi aktor-aktor yang ia temui selama ini. Hidungnya mancung, bibirnya tipis berwarna merah membuatnya terlihat seksi. Sorot mata tajam dengan alis tebal, bulu mata lentik dan rahang tegas. Coba bayangin gimana rupanya. Udah pasti ganteng banget.
“Aku tahu aku tampan, tapi jangan melihatku begitu,” celetuk Ravin membuat Sherin tersadar.
__ADS_1
Ia mendengus kasar, kembali memalingkan wajah. Setelah dua puluh menit perjalanan, Sherin baru menyadari kalau jalan yang sedang di lewati bukan mengarah ke rumah.
“Ini, kita mau kemana?”
“Pantai.”
“Hah? Ngapain?” Sherin kaget.
“Ngapel,” ucap Ravin ngasal, kesal karena tak suka Sherin banyak bertanya.
Setelah beberapa menit mobil mulai berjalan lambat. Ravin mematikan mesin mobil ketika sampai di parkiran. Pria itu keluar dan di ikuti Sherin, tiba-tiba hawa dingin kembali menyeruak, untungnya ada jaket Ravin sebagai penghalang dingin.
“Ayo,” ajak pria itu.
Ravin menggenggam jemari Sherin yang terasa dingin. Tangan pria itu hangat dan besar, sangat nyaman di genggam begini. Sherin menarik sudut bibirnya. Aneh ya, padahal bukan pertama kalinya dia seperti ini tapi untuk kali ini rasanya berbeda.
Debaran jantungnya berpacu dengan cepat. Pemilik tangan hangat itu membawa Sherin menuju tepi pantai. Sepi pengunjung karena sudah malam, tapi malah lebih enak begini. Suara deburan ombak menjadi teman di kala rasa sepi menghampiri.
Mereka berdua berjalan semakin dekat ke arah pantai, ada sebuah dermaga yang seperti jembatan. Mereka berjalan ke sana, embusan angin semakin terasa tapi Sherin tak kedinginan. Selain jaket, ada Ravin yang menggenggam tangannya.
“Kenapa ke sini? Di sini 'kan sepi.”
“Memang harusnya tadi siang kita ke sini tapi tidak jadi karena kamu kabur,” Ravin tersenyum seraya menghela napas panjang.
“Mama bilang, tadi menyuruh kita pulang karena ingin membicarakan lokasi prewedding. Jadi, harusnya kita ke sini untuk mengecek tapi tidak jadi.”
Sherin yang mendengar itu hanya bisa tersenyum malu. Maklum, tadi itu ia sangat ingin menyembunyikan wajah. Tidak tahu bagaimana perasaan Ravin setelah mendengar ungkapannya itu. Senang kah? Atau malah ilfil?
“Itu ... kenapa kamu tidak bilang dari awal kalau dia adikmu?”
“Aku ingin bilang tapi tidak ada kesempatan, aku juga kaget tadi dia tiba-tiba datang memeluk sampai bikin kamu marah.”
Sherin berdecak. Tak ingin di ungkit lagi.
“Aku, itu tadi 'kan tidak tahu kalau dia adikmu. Kalau tahu mana mungkin aku akan marah seperti tadi.”
“Jadi, kalau orang lain yang seperti itu kamu juga akan marah?” Terlihat Ravin sangat menantikan jawaban dari Sherin.
Dengan malu-malu Sherin mengangguk, kepalanya menunduk tapi bisa Ravin lihat semburat merah di pipi. Di mata Ravin sangat menggemaskan, entah sejak kapan timbul keinginan untuk mencium dan memeluk tunangannya itu.
“Benarkah?”
“Hu'um,” lirih Sherin.
“Kurang keras, aku tidak dengar ... ” pancing Ravin.
__ADS_1
“Sudahlah! Kamu ini kenapa sih?” Sherin kesal.
“Aku ingin sebuah pengakuan,” kata Ravin.
Sherin tak menanggapi. Gadis itu lebih memilih menatap laut yang tenang meski ada ombak kecil. Hingga tubuhnya terpaksa berbalik setelah Ravin memegang pundaknya.
Tangan Ravin berpindah untuk memegang wajah Sherin, di usap lembut membuat Sherin terpaku. Kini jantung gadis itu sedang berdebar tidak karuan, memandang Ravin yang kini menatapnya dalam.
“Kamu cantik,” puji Ravin tiba-tiba.
“Ho'oh, pasti kamu nyesel waktu bilang aku jelek dulu, iya 'kan?”
Perkataan Sherin membuat suasana romantis tadi hilang dalam sekejap, tapi Ravin hanya bisa tersenyum. Ravin mengangguk kecil.
“Iya, aku menyesal.”
“Eh, apa?”
Ravin belum berkata, pria itu menatap netra Sherin yang bersinar akibat terkena sinar rembulan. Tanpa kata lagi pria itu mencium bibir Sherin membuat gadis itu terperanjat. Tubuhnya kaku dengan tindakan Ravin yang tiba-tiba.
Keduanya memejamkan mata, meski hanya menempel tapi bisa di rasakan keduanya ada perasaan yang mengalir dari sana. Kini Ravin membawa Sherin ke dalam dekapannya, terasa detak jantung Sherin yang kencang begitu pun jantung Ravin yang berdebar melebihi batas normal.
Ravin melepas ciumannya, kemudian mendekap Sherin dengan erat. Sementara Sherin masih terpaku, seakan tak percaya dengan tindakan Ravin. Dalam hatinya ia bertanya-tanya. Ada apa dengan Ravin malam ini?
“Kamu tahu? Aku baru menyadari kalau aku mencintaimu ... ”
Kalimat itu lolos begitu saja, terdengar jelas di telinga Sherin karena Ravin berada di dekatnya. Begitu tiba-tiba ungkapan cinta ini sampai Sherin tak tahu harus menjawab apa.
“Kenapa diam?”
“A— aku bingung,” ucap Sherin jujur.
“Ah, padahal aku ingin kamu menjawab langsung. Bilang: 'Iya, aku juga mencintaimu' tapi yang ku dapat malah kamu yang kebingungan.”
“Kamu mau jawabannya sekarang?”
“Kalau tidak? Memangnya kapan?” Ravin semakin mendekap Sherin dengan erat, bisa Sherin rasakan kehangatan dari dalam diri Ravin.
Pria asing yang tiba-tiba menjadi tunangannya, dulu bilang tidak menyukainya karena penampilannya yang tidak mendukung. Sekarang tiba-tiba menyatakan cinta bukan dengan bunga melainkan sebuah ciuman.
“Aku ingin tanya.”
“Apa?” Ravin sepertinya sangat suka memeluk Sherin, pria itu tak juga melepas setelah sekian lama.
“Kamu mencintaiku bukan karena penampilan aku yang sekarang 'kan?”
__ADS_1