Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 52


__ADS_3

Kael memandang rumah berlantai dua dengan dahi berkerut, entah kenapa dia bisa sampai di tempat ini. Dengan seragam sekolah lengkap, Kael menunggu gerbang yang lebih tinggi darinya itu terbuka.


Ingatannya kembali pada setengah jam yang lalu. Saat sedang sarapan tiba-tiba ponselnya berdering dan ternyata nomor tidak di kenal sedang memanggil. Tidak tahu siapa yang menelepon akhirnya Kael angkat, tapi begitu terdengar suara seorang gadis yang ia kenali, Kael menyesal telah menerima panggilan telepon itu.


“Nggak perlu antar aku! Aku sudah di jemput pacarku,” ujar Cahaya masih di halaman rumah membuat Kael tersentak.


Pacar? Siapa? Apa dia yang dimaksud Cahaya?


“Sejak kapan kamu punya pacar?”


“Apa urusannya sama Tante?”


“Sudah ku bilang kamu nggak boleh pacaran!”


“Tante itu cuma Tante aku, bukan orang tuaku yang berhak ngatur kehidupan aku!”


“Cahaya!!”


Ribut sekali, Kael sampai menutup kedua telinganya. Tak di sangka datang ke sini malah mendapat kejutan. Ia pikir Cahaya sangat di sayang, terlihat dari sikapnya yang blak-blakkan juga terlihat Cahaya anaknya di manja. Tapi sebaliknya, Kael malah mendengar keributan antara tante dan keponakan.


“Ya ampun, gue minta maaf kalau udah buat lo nunggu lama.” Cahaya segera menghampiri Kael, satpam kembali menutup gerbang.


“Buang-buang waktu saja!” decak Kael.


Cahaya hanya bisa nyengir sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. “Gue kesiangan, mau pesan ojek online takut kelamaan. Sampai gue ingat kalau gue punya nomor lo jadi gue telepon lo saja.”


“Harusnya yang lo telepon itu bukan gue, tapi gebetan yang dari kemarin ngejar-ngejar lo.”


“Ih, ogah. Urusan gue sama dia sudah selesai dan sekarang bukan gebetan gue lagi. Oh ya, sudah berapa lama nunggu?”


“Hampir dua puluh menit.” Kael memberikan helm pada Cahaya, tapi Cahaya tak menerimanya.


“Kenapa diam? Pakai ini!” kata Kael kesal.


“Pakein dong,” Cahaya nyengir lagi, sementara Kael hanya memutar bola matanya sambil menghela napas.

__ADS_1


“Nggak usah manja! Kalau nggak mau pakai sendiri ya udah, gue tinggal.”


Cahaya sewot, bibirnya mengerucut. “Jahat banget sih pacar gue.”


Kael mendelik sembari bergidik. Tak mengerti jalan pikiran Cahaya yang menurutnya tak waras. “Idih, siapa yang mau jadi pacar lo? Pede banget.”


“Bercanda doang, serius amat lo,” Cahaya memakai helm milik Kael, bisanya pemuda itu jarang membawa dua helm. Tapi pagi ini dia terpaksa karena Cahaya memaksanya sampai memohon untuk di jemput.


Setelah memakai helm, dengan cepat Cahaya naik ke motor Kael yang tinggi. Tanpa diskusi Kael langsung memacu kendaraan dengan kecepatan lebih tinggi.


Reflek Cahaya memeluk perut Kael karena takut jatuh membuat Kael memelankan laju motor. “Kenapa peluk-peluk segala sih?” dengus Kael. Tapi, Cahaya sepertinya salah dengar.


“Apa?! Suka gue peluk?”


Akibat memakai helm maka suara jadi tidak terlalu jelas. Sudah biasa terjadi ketika sedang di jalan sambil pakai helm, kalau di tanya 'ini' maka jawabnya 'itu'.


“Ngomong apa lo?” teriak Kael, motor melaju dengan cepat. Perkiraan bel masuk sekitar sepuluh menit lagi.


Di perjalanan Kael mendengus. Merutuki dirinya sendiri kenapa mau-maunya menjemput Cahaya. Padahal dia bisa saja terlambat. Apa karena hati nuraninya tak tega mendengar nada bicara Cahaya yang memohon itu?


“Iya! Jangan peluk-peluk gue.”


“Ya udah deh, gue peluk.” Cahaya melingkarkan tangannya di perut Kael.


Sementara pemuda itu malah semakin kesal. Perkataannya menyimpang dengan jawaban yang diberikan oleh Cahaya. “Udah gue bilang jangan peluk-peluk!”


“Suara lo nggak jelas!” Cahaya memeluk Kael erat. Saat itu juga Kael menghentikan motornya.


“Ngapa lo meluk gue? 'Kan udah gue bilang jangan peluk-peluk,” Kael mendengus.


“Lo bukannya tadi bilang pengen gue peluk?” Cahaya heran, ia pun melepas pelukan Kael dan menatap pemuda itu bingung.


“Lo budek ya? Jelas-jelas gue bilang jangan peluk-peluk lha lo malah makin peluk gue,” Kael sudah kesal, sementara Cahaya hanya bisa menunduk malu.


Cahaya nyengir, memamerkan sederet gigi putihnya dan menggaruk pipi. “Gue juga tadi bilang suara lo nggak jelas. Karena angin nih,” ucapnya.

__ADS_1


“Ck! Jangan peluk-peluk gue lagi,” peringatan Kael.


“Iya.” Cahaya sewot, ia juga merutuki telinganya yang sudah salah dengar. Rasanya malu tahu!


Sekitar lima menit kemudian mereka sampai di sekolah, beruntung gerbang belum di tutup. Kael bernapas lega, dia memarkirkan motornya di tempat parkir kemudian bersama Cahaya melangkah masuk untuk mencari kelasnya masing-masing.


Di tengah perjalanan, tiba-tiba ada yang menghentikan mereka. “Ca!” panggil Dzaka.


“Ck! Pasti ada drama lagi,” Kael memutar bola matanya jengah.


“Gue duluan,” pamit Kael pada Cahaya.


“Eh, bentar dulu dong! Jangan tinggalin gue,” pinta Cahaya sembari menarik lengan Kael agar tidak pergi meninggalkan dirinya sendiri.


“Kan udah ada gebetan lo.”


“Bukan gebetan gue,” Cahaya kesal tapi berusaha menahannya.


“Ca! Kamu kok bisa sama dia?” tunjuk Dzaka pada Kael.


“Bisalah, orang gue bareng dia berangkatnya,” kata Cahaya.


“Kenapa kamu bareng dia?! Padahal aku sudah nawarin tadi sama Tante kamu.”


“Oh, jadi Kakak yang bikin Tante ngalangin gue pergi duluan tadi?” Dzaka mengangguk.


“Untung aja gue minta Kael jemput.” Cahaya menarik tangan Kael untuk segera pergi, Dzaka berniat mengejar tapi tak jadi karena tiba-tiba saja ada siswi lain yang mendekatinya.


“Eh, kok gebetan lo ditinggalin?” ledek Kael.


“Alah, diam lo.” Cahaya melepas pegangannya. Saatnya mereka berpisah karena kelas yang berbeda.


“Oh ya, makasih ya tumpangannya tadi. Mau di bayar nggak?” Cahaya sudah bersiap untuk mengeluarkan uang dari saku tapi segera Kael tahan.


“Emang lo pikir gue tukang ojek?!”

__ADS_1


__ADS_2