Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 84


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama tujuh belas jam, akhirnya Sherin bisa menghirup udara Zurich, Swiss. Meskipun tubuhnya terasa lelah, tapi entah kenapa seperti ada rasa tak sabar ingin cepat-cepat pagi dan pergi jalan-jalan.


Mereka tiba di hotel yang sudah Wildan siapkan. Tepat pukul sembilan, Sherin dan Ravin bisa merebahkan diri mereka di atas ranjang king size. Meskipun di pesawat mereka bisa tiduran tapi rasanya tetap berbeda saat tubuh tertidur di atas ranjang.


“Cepat mandi dan kita istirahat. Pasti kamu lelah,” kata Ravin. Sherin mengangguk, dengan langkah lemas dia mengambil handuk dari koper dan segera masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah membersihkan tubuh, Sherin menyusul Ravin yang kini tengah duduk di balkon sambil menatap langit. Wanita itu mendudukkan dirinya tepat di samping Ravin, kepalanya bersandar pada lengan kekar itu.


“Bintangnya banyak ... ”


Ucapan itu membuat kepala Ravin menoleh, bibirnya menyunggingkan senyum lalu mengecup kening Sherin singkat.


“Iya, sangat indah. Tapi lebih indah lagi saat aku menatapmu ... ”


***


Besok paginya, Sherin dan Ravin sudah bersiap untuk pergi jalan-jalan. Tujuan pertama mereka adalah Gereja Grossmunster.


Gereja dengan arsitektur Romawi yang berada di tepi sungai Limmat adalah salah satu tempat romantis di Zurich yang cocok untuk bulan madu. Ternyata apa yang di harapkan Sherin benar akan mereka kunjungi. Sepertinya Wildan tahu di mana tempat wisata yang romantis di kota ini.


“Katanya Gereja Grossmunster ini dikenal sebagai simbol cinta abadi di Zurich,” kata Sherin.


Mereka berdua tengah menyusuri jalanan Kota Tua. Tak lupa Sherin mengajak Ravin untuk naik menara Gereja dan berfoto. Di menara ini dapat di lihat pemandangan kota Zurich yang sangat indah, tapi lebih indah lagi saat di malam hari.


Setelah beberapa jam menyusuri tempat wisata ini Sherin dan Ravin pergi ke tempat lain. Mereka mengendarai mobil yang sudah dipersiapkan Wildan. Sherin memandang ke arah jendela, menatap jalanan yang cukup padat.


“Sekarang kita mau kemana?” tanya Sherin, menoleh.


“Burkliplatz.”


Burkliplatz adalah tempat yang cocok untuk bersantai. Alun-alun kota ini selalu dikunjungi oleh para wisatawan ketika berlibur di Swiss.


Burkiplatz pada dasarnya adalah dermaga kapal yang juga merupakan tempat jual beli, lokasi pagelaran seni dan masih banyak lagi. Selain itu, pengunjung yang datang juga dapat menyaksikan pemandangan pegunungan Alpen yang romantis dari tempat ini.


“Ramai ... ” celetuk Sherin.


“Iya, di banding Gereja tadi, tempat ini lebih ramai. Tapi, kita tidak akan terlalu lama di sini, setelah ini kita pergi ke restoran untuk makan siang.”


Setelah di rasa cukup, Ravin mengajak Sherin pergi. Tak lupa sebelum pergi mereka berfoto lebih dulu. Sekitar dua puluh menit, mobil berhenti di sebuah restoran seafood.


“Ravin!”


Panggilan itu membuat keduanya menoleh. Bola mata Ravin membulat saat tahu siapa yang barusan memanggilnya. Sementara Sherin yang tidak tahu hanya mengernyit bingung.


“Mantan ... apa kabar?” tanya wanita asing itu.

__ADS_1


Seketika Sherin terkejut, matanya melotot dengan mulut terbuka. Ia menoleh ke arah Ravin yang juga masih terkejut, sementara wanita itu memeluk Ravin singkat.


“A— Amel? Kau sedang apa di sini?” Ravin balik bertanya, tak menjawab pertanyaan wanita yang statusnya sebagai mantan pacar Ravin.


“Kau sendiri sedang apa di sini? Kalau aku sedang liburan.”


Sherin memperhatikan interaksi keduanya, mereka terlihat akrab. Sekarang wajah Sherin cemberut, Ravin yang sadar itu segera menarik Sherin agar lebih dekat dengannya.


“Aku sedang bulan madu. Kenalin, dia Sherin, istriku.” Ravin menekankan kata 'istriku' agar Sherin tidak marah.


Sementara wanita itu terlihat terkejut. “Ah, kau sudah menikah? Kapan? Kenapa aku tidak di undang?”


“Baru beberapa hari yang lalu, sudah ya, kami masih ada urusan ... ”


Ravik hendak pergi, menarik tangan Sherin namun wanita itu menghentikan langkah mereka. “Kebetulan sekali kita bertemu di sini, lebih baik kita mengobrol sambil makan siang. Pasti tujuan kalian ke restoran ini 'kan?”


Ravin hanya mengangguk, sekali-kali dia mencuri pandang ke arah Sherin. Jelas sekali Sherin tengah cemburu, wajah kesal dan mata memicing Sherin tak bisa menyembunyikan hal itu.


“Tapi ... ”


“Pokoknya tidak boleh menolak.”


“Nama kamu Sherin 'kan? Pasti tidak keberatan kalau kita makan siang bersama. Tidak akan lama, hanya makan siang setelah itu aku juga harus pergi.” Dengan sok akrab, wanita yang bernama Amel itu memegang tangan Sherin lalu menarik Sherin untuk masuk restoran, sementara Ravin hanya bisa menghela napas lalu menyusul keduanya.


Amel membawa Sherin untuk duduk di kursi yang berada di lantai dua. “Oh iya, kita belum kenalan. Aku Amel, mantan pacar Ravin.”


Setelah Ravin ikut duduk, Amel memanggil pelayan dan memesan minuman. Sementara Sherin memesan makanan begitu juga dengan Ravin.


“Sudah lama tidak bertemu, sekali bertemu kamu sudah menikah. Harusnya undang aku, meskipun aku mantan tapi hubungan kita tidak memburuk.”


Wanita itu terus bercerita mengenai masa lalu sampai pesanan mereka tiba. Selama itu juga Sherin merasa panas, entah karena makanan yang pedas atau dirinya yang sedang cemburu. Sementara Ravin hanya memperlihatkan mimik wajah tidak enak.


Lima belas menit berlalu, minuman yang dipesan Amel habis. Wanita itu berdecak. “Haish ... dia kemana sih?!”


“Siapa?” tanya Ravin. Pria itu mengelap mulutnya dengan tisu setelah memasukkan makanan ke dalam mulut.


“Suamiku.”


Uhuk!


Sherin mengambil segelas air lalu meminumnya. Makanan pedas ini menyiksa dada. “Tunggu! Kamu sudah menikah?” tanya Sherin.


“Iya. Malahan aku sudah menikah lebih dulu dari kalian, tapi karena belum ada waktu jadi kamu baru liburan minggu ini.” Amel tersenyum cerah, sementara Sherin entah harus berekspresi seperti apa.


Ravin mengambil tisu dan mengelap mulut Sherin yang basah. Pria itu juga sedikit terkejut. Tak lama setelah itu datang seorang pria yang memakai kaos dan celana pendek.

__ADS_1


“Sayang ... ” panggil pria itu.


Amel berkacak pinggang. Menatap sebal pada pria itu. “Lama banget, sih! Dari mana aja kamu?!” tegurnya.


“Katanya mau kejutan, jadi kamu harus sabar. Aku sudah siapin semuanya, kita pergi sekarang?”


Amel mengangguk, dia mengambil tas di atas meja kemudian maju mendekati Sherin dan memeluk Sherin. “Aku senang bertemu dengan istri mantan pacarku, lain kali kalau ada kesempatan kita bertemu lagi, ya ... ”


Sherin hanya mengangguk. Dia melambaikan tangan ketika Amel dan suaminya mulai pergi. Amel menoleh ke belakang sebelum benar-benar menjauh.


“Ravin! Sebagai mantan pacar kamu yang paling lama dan suka traktir jangan lupa bayarin minuman aku!” teriak wanita itu hingga mengagetkan pengunjung lainnya.


Ravin tak bisa berbuat apa-apa selain mengangguk dan tersenyum. Sementara Sherin berdecak kesal. Niat liburan kenapa malah jadi nostalgia dengan mantan?


“Seneng ya? Ketemu sama mantan yang paling lama dipacari, sudah cantik, orangnya juga baik suka traktir,” Sherin menekan sendok di meja hingga terdengar suara yang cukup keras, Ravin terlonjak.


“Nggak! Aku nggak senang kok. Aku cuma kaget waktu lihat dia juga ada di sini ... ” Ravin mencoba membela diri.


“Pulang sekarang! Aku mau ngomong!” Sherin mengambil segelas air dan meneguknya. Rasanya haus sekali, tenggorokan kering.


“Sebentar, aku bayar dulu ... ”


Ravin membayar tagihan lalu menyusul Sherin yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil. Sepanjang jalan Sherin melipat tangan di depan dada dengan mimik wajah cemberut. Sesampainya di hotel, Sherin menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.


Ravin mengikuti, dia memeluk Sherin dan belakang dan mencium leher Sherin. Meski merasa geli, Sherin mencoba menahannya. Dia tak mau hanya dengan sentuhan itu langsung merasa luluh.


“Ngomong apa?” Ravin memutar tubuh Sherin hingga menghadap ke arahnya.


“Dia mantan kamu yang ke berapa?”


Pertanyaan Sherin membuat Ravin menelan ludah, dia berpikir sebentar. “Aku lupa, tapi kayaknya bukan yang terakhir,” jujur Ravin.


Sherin bangkit dan menatap Ravin lekat. “Jadi kamu punya mantan lebih dari satu?” tanyanya tak percaya.


“Iya ... tapi aku beneran nggak ingat punya mantan berapa. Udah ya, jangan bahas lagi. Sekarang kita lagi honeymoon, masa bahas mantan?” ujar Ravin ikut bangkit.


“Waktu ketemu tadi kamu berdebar nggak?” Meskipun merasa pertanyaan konyol, Sherin tetap penasaran.


“Nggak, sekarang aku berdebarnya kalau sama kamu ... ” balas Ravin.


Sherin sedikit luluh, tapi tetap saja dia ingin terlihat sedang marah. “Menurut kamu cantikan siapa? Mantan kamu atau istri kamu?!”


Dalam hati Sherin mengutuk dirinya sendiri, bisa-bisanya menanyakan pertanyaan itu.


“Walaupun dia cantik tapi di mataku tetap kamu yang paling cantik.”

__ADS_1


Wajah Sherin jadi merah. Ravin menghela napas. “Udah 'kan? Kalau udah sekarang waktunya kita bikin baby ... ”


Tanpa menunggu respon dari Sherin, Ravin langsung menyerang dengan ciuman di wajah. Terakhir adalah bibir. Sherin benar-benar tak bisa kesal terlalu lama. Hanya karena perkara mantan, Sherin merasa tak perlu di perpanjangan. Lagian mantan Ravin yang tadi siang juga sudah menikah.


__ADS_2