Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 69


__ADS_3

Byur!!


Air itu tepat mengenai wajah Sherin, membuat Sherin mengerjab beberapa kali untuk membuka mata. Wajahnya basah, begitupun bajunya. Rasa pusing dikepala membuat Sherin meringis.


“Ugh ... aku kenapa?” lirih Sherin.


“Oh, sudah sadar?”


Pertanyaan itu membuat Sherin mendongak, matanya membulat penuh. Melihat ada Iriana yang sedang duduk di kursi sementara Sherin di lantai.


Sherin baru menyadari, kalau kedua tangannya sudah di ikat. “Kamu apakan aku, hah!?” bentak Sherin.


“Belum aku apa-apakan, tapi aku sedang menunggu waktu untuk menyiksamu ... ” Iriana menyeringai.


Sherin menggertakkan giginya, lalu tersenyum miring. “Tidak ku sangka caramu menculik ku begitu rendahan,” ejeknya.


Iriana menatap nyalang Sherin, wanita itu bangkit dan berjongkok agar sejajar dengan Sherin. Lalu mengapit kedua pipi Sherin dengan kuat.


“Kamu yang rendahan! Menggunakan orang lain untuk membalasku, cih!” balas Iriana dengan meludah ke samping.


“Memangnya kenapa?” Sherin menantang Iriana, seolah cengkraman itu tidak terasa sakit. Tapi, dari belakang Sherin mencari celah untuk melepaskan ikatan.


“Jadi benar kamu?”


“Kalau memang benar, kamu mau apa?” Sherin tersenyum miring, Iriana langsung menghempaskan tangannya ke samping membuat kepala Sherin ikut menoleh.


Rasanya sakit, tapi bisa dia tahan. Sherin ingin lihat apa yang akan Iriana lakukan setelah ini.


“Sudah ku duga! Selain kamu tidak ada yang berani berbuat seperti itu. Apa kamu tahu apa akibat dari perbuatanmu semalam?” Iriana kembali duduk di kursi.


“Heh! Kamu hanya di tampar oleh Arvin.”


“Tapi kamu juga membuat aku kehilangan Rainer!” bentak Iriana.


“Apa urusannya denganku? Kamu kehilangan dia 'kan jelas urusan kamu sendiri,” Sherin mendelik.

__ADS_1


Ruangan ini gelap, hanya ada cahaya dari matahari di celah papan. Tempat kumuh dan lantainya berlumut. Sejujurnya Sherin sudah jijik tapi masih dia tahan.


Tangannya meraba-raba, mencari sesuatu yang berguna. Tapi belum menemukan apapun. Tas serta ponselnya tidak ada, pasti Iriana sudah mengambil semuanya. Lalu bagaimana caranya untuk dia bisa mencari bantuan?


“Tapi semua ini salahmu! Kamu harus bertanggung jawab.”


Iriana berteriak, bangkit lagi lalu menampar Sherin dengan kuat. Adegan ini sudah dia tunggu sejak tadi, tapi sayang Sherin belum sadarkan diri. Di belakang Iriana ada dua orang pria yang berpakaian serba hitam. Sejak tadi, Sherin menebak mereka berdua lah yang menculiknya.


“Kamu membuat aku kehilangan Rainer! Kamu membuat keluarga ku malu dan kamu juga yang telah merusak reputasi ku!!”


Sebisa mungkin Sherin menahan rasa sakit ketika Iriana mencekik lehernya. Sampai sulit bernapas, ketika di lepas Sherin terbatuk. Seperti kurang puas, Iriana mengambil cambuk yang terbuat dari tali tambang lalu memukul Sherin.


Sherin hanya bisa meringis, menahan rasa perih dan panas dikulitnya. Tangannya terus mencoba melepaskan ikatan tali yang ternyata cukup kuat.


“Kau gila!” teriak Sherin.


Iriana tertawa, dimata Sherin sekarang wanita itu terlihat seperti iblis. “Hahaha ... aku memang gila. Aku menjadi gila karena kamu telah mengacaukan semuanya! Jadi, aku tidak akan merasa puas sebelum aku menyiksamu ... ”


“Berhenti sekarang berengsek! Jika tidak kamu akan menyesali perbuatanmu!” geram Sherin.


Sherin berkata, “Tak ada satupun perbuatan ku yang aku sesali, tapi kamu benar. Aku tetap punya sebuah penyesalan, mencintai pria yang berani main belakang dengan musuhku sendiri. Sungguh membuat muak! Tapi aku senang karena bisa membalas mereka,” Sherin tertawa di sela rasa sakit.


Tamparan, jambakkan dan cambukan Sherin dapatkan dari Iriana, tapi sekalipun Sherin tidak memohon pada Iriana untuk berhenti melakukan itu.


***


“Bagaimana bisa?!” bentak Ravin sambil menggebrak meja.


Sang supir yang tadi mengantar Sherin menjadi gemetar. “M— maaf, Tuan. Saya sendiri tidak tahu bagaimana bisa nona Sherin menghilang,” ujarnya.


Ravin memijat pelipis, rasa marah dan khawatir bercampur jadi satu membuatnya sulit untuk melampiaskannya. Sepuluh menit yang lalu supir itu memberikan kabar kalau Sherin menghilang. Sudah berusaha di cari tapi tak juga di temukan.


Dari kronologi yang supir itu ceritakan, harusnya Sherin sudah menghilang sejak setengah jam yang lalu. Dan supir itu baru memberinya kabar sekarang, sudah jelas Sherin di culik. Mana mungkin perempuan itu mau berkeliaran sendiri dengan jalan kaki.


Ravin tahu benar kalau Sherin tak mungkin ingin buang-buang uang hanya untuk naik taksi, bahkan sampai selama ini tanpa memberinya kabar apa-apa.

__ADS_1


Tak lama pintu terbuka, nampak Anika dengan raut wajah khawatir. “Apa Sherin belum datang?”


“Datang dari mananya? Dia menghilang,” timpal Ravin.


“Apa? Menghilang?? Bukannya Sherin tadi dalam perjalanan ke sini? Kenapa bisa menghilang tiba-tiba?”


Ravin tak menjawab, dia sendiri bingung ingin menyimpulkan bagaimana. Yang jelas, Sherin bukan sengaja menghilang melainkan di culik. Kemudian tak lama setelah itu Hugo datang dengan tergesa-gesa.


“Ada apa memanggilku?”


“Sherin menghilang.” Anika menjawab.


“Dia diculik,” timpal Ravin.


“Bagaimana bisa?” reaksi yang sama Hugo berikan, terkejut dengan berita itu.


“Supir yang mengantar Sherin bilang setelah Sherin menyeberang dan mengobrol dengan dua remaja, supir tak melihat Sherin lagi. Sebab dia memindahkan mobilnya ke parkiran yang sudah di siapkan. Dia menunggu tapi hampir setengah jam Sherin belum juga kembali,” cerita Ravin.


Mata semua yang ada di sana tertuju pada pria berpakaian serba putih, supir itu semakin ketakutan. “Saya benar-benar tidak tahu apapun. Saya hanya menunggu di dalam mobil, ketika sadar nona Sherin sudah pergi terlalu lama saya segera mencari tapi tak juga ketemu,” ujarnya.


Ravin menghela napas. Di saat begini dia tak boleh emosi, yang ada Sherin tak juga di temukan karena dia terus mengamuk. Melampiaskan amarahnya.


“Begini saja, aku memanggil Hugo kemari karena ingin Hugo mencari tahu keberadaan Sherin. Pasti di jalan sana ada CCTV dan kita juga bisa bicara dengan dua remaja itu. Aku juga berharap ponsel Sherin masih menyala dan kita bisa cari lokasinya,” jelas Ravin.


Seperti yang Ravin bilang, Ravin dan Hugo bersama-sama pergi ke tempat terakhir kali Sherin datang. Di sebuah restoran dekat dengan toko kue, setelah di amati memang ada beberapa CCTV di sini. Beruntung juga mereka melihat di sana ada Kael yang sedang bermain ponsel. Belum beranjak sejak tadi.


“Kael ... ” panggil Ravin.


Kael menoleh. “Siapa?”


“Apa kamu tadi melihat Sherin pergi ke mana?” jawabannya melenceng jauh, Kael mengerutkan kening.


“Sherin? Bukannya dia sudah pergi? Dia hanya makan sebentar di sini lalu pergi tapi aku tidak lihat pergi kemana,” ujar Kael.


Ravin mengembus napas berat. “Baiklah, dia tidak bisa membantu. Kita hanya punya dua cara lagi, Hugo minta pemilik CCTV itu memperlihatkan rekaman dan kita akan lihat sampai kita benar-benar melihat Sherin pergi kemana. Juga kita akan periksa CCTV di sepanjang jalan!”

__ADS_1


__ADS_2