Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 47


__ADS_3

Pagi menjelang siang ini Sherin terbangun setelah hidungnya mencium aroma masakan yang membuat perut berbunyi. Sherin bangkit, menyentuh pelipisnya yang masih terasa sedikit pening dan dia baru menyadari ada sebuah handuk kecil menempel di kening.


Lalu dia menatap sekeliling, tak ada Ravin di sini.


Karena penasaran dengan aroma yang membangunkan dia dari tidurnya, Sherin turun dari ranjang. Keluar kamar tanpa peduli dengan pakaian yang dia kenakan.


“Siapa yang masak?” gumam Sherin.


Baru pertama kali Sherin melihat ruangan ini, tidak luas dan hanya ada satu kamar. Sherin tahu ini adalah apartemen. Dominasi warna abu-abu dan putih, terlihat mewah dengan barang-barang mahal yang tertata rapi.


Sherin suka dengan tempat ini, apalagi ada sebuah mini bar yang tentunya terdapat minuman bir atau anggur merah. Yah, walaupun sebenarnya dia tidak bisa minum.


Lalu langkahnya membawa Sherin menuju dapur, di meja makan sudah ada beberapa hidangan seperti semangkuk bubur dan beberapa lauk untuk sarapan. Tak lama setelah itu, pintu kamar mandi terbuka. Keluar Ravin masih dengan memakai celemek.


Sesaat tatapan mereka bertemu, lalu memalingkan wajah. “Ini, kamu semua yang masak?” tanya Sherin.


“Hmm ... lebih baik kamu cuci muka dan sikat gigi. Sikatnya ada di tempat perlengkapan mandi, aku masuk kamar dulu,” buru-buru Ravin melepas celemek dan menaruhnya di gantungan khusus.


Pria itu tak kuat melihat Sherin yang hanya memakai kemeja tanpa celana. Paha putih itu terpampang, imannya tak sekuat yang kalian pikir.


Sementara Sherin menahan senyum, ia tahu Ravin sedang gugup. Terlihat dari telinga Ravin yang memerah dan Ravin yang salah tingkah setelah melihatnya, tatapan pria itu juga berkeliling, tak ingin menatapnya.


“Ah, kalau begini aku bisa jatuh cinta lagi,” gumam Sherin sambil terkekeh. Mengelus dada yang jantungnya berdetak kencang.


...⚫⚫⚫...


Tak ingin tertinggal seperti dulu, Iriana terus berlatih menyempurnakan gaya bernyanyinya. Cukup Prisha sebagai saingan terberat, jangan ada orang lain lagi. Tapi sayang, malah Sherin datang tiba-tiba.


Seperti hari ini, Iriana bersama Ishana memakai ruangan khusus rekaman di perusahaan.


“Harusnya di sini kamu tambah nadanya lebih tinggi, jangan lemah lembut seperti orang kelaparan,” tunjuk Ishana pada kertas berisi lirik lagu.


Tiga jam menemani Iriana tapi tak juga membuahkan hasil, lama-lama Ishana kesal.


“Sulit,” Iriana menghempas tubuhnya di sofa, napasnya naik turun dengan cepat, lelah terasa karena tak kunjung mendapat hasil memuaskan.


“Baru segini kamu sudah lelah? Coba kamu tiru Sherin, dia masih bocah dan dalam waktu singkat bisa punya banyak penggemar.”


“Kenapa Sherin? Suaraku juga bagus,” ketus Iriana, tak suka dengan kalimat Ishana.

__ADS_1


“Kamu harus meningkatkan gaya bernyanyimu, jangan hanya berpatokan pada nada rendah. Hanya bisa gaya lemah lembut. Coba kamu lihat Sherin, ketika bernyanyi semangatnya menyala seperti api. Suaranya bahkan bisa menghipnotis orang yang mendengar, aku saja jatuh cinta pada suara Sherin.”


Iriana semakin kesal. “Kenapa Sherin lagi Sherin lagi? Dulu Prisha yang selalu di puja, sekarang Sherin. Memangnya aku tak pantas di puja juga?”


“Sudahlah, hari ini sampai di sini saja, kita lanjutkan besok pagi. Setelah makan siang akan ada produser yang mengecek semua perlengkapan yang kamu butuhkan.”


Ishana beranjak pergi, tak ingin berdebat dengan Iriana. Sementara Iriana mencak-mencak, menyumpah serapahi siapa saja yang dia benci. Tak lama setelah itu Febi datang dengan tergesa-gesa.


“Na! Coba lihat ini!” Febi memberikan ponselnya. Ada sebuah foto di sana, Rainer dan Sherin yang sedang berpegangan tangan.


Iriana mengepalkan tangan, matanya memerah menahan marah. “Sialan! Dari mana kamu mendapatkan ini?” bentaknya.


“Aku tidak tahu, tiba-tiba saja ada orang yang mengirim.” Febi menunduk. Ia ambil kembali ponselnya dan di masukkan ke dalam tas.


“Dimana tempat itu? Kenapa aku tidak tahu?”


“Itu di sebuah pesta, Sherin di undang begitu juga Rainer,” ujar Febi sedikit takut. Kepalanya menunduk lagi.


“Pesta? Kenapa aku tidak di undang?”


“Aku tidak tahu, Sherin di undang juga karena album pertamanya laku keras, aku dengar itu dari beberapa karyawan di bawah.”


Sebenarnya Iriana tak di undang karena tak terlalu populer, ia terkenal hanya karena kecantikan sebagai model. Suaranya biasa saja, meskipun sudah mempunyai dua album.


Mati satu tumbuh satu. Mengingat itu Iriana jadi kesal. Ia beranjak, hendak pergi.


“Kamu pulang saja kalau mau pulang, besok pagi kita bertemu di sini, siangnya akan ada orang yang mengecek jadi jangan lupa itu.”


Tujuan Iriana selanjutnya adalah rumah nenek Linda. Ingin memberi pelajaran pada adiknya yang tidak tahu diri. Sesampainya di sana, dia melihat Sherin baru keluar dari sebuah mobil bermerk Lexus.


Ada Ravin juga, membantu Sherin berjalan dengan merangkul pundak Sherin. Segera Iriana menghampiri, masuk ke dalam rumah tanpa permisi.


“Nek, tadi—”


“Sherin!!!” tegur Iriana, tanpa kata dia menampar Sherin, meninggalkan rasa perih dan kemerahan di wajah cantik itu.


“Iriana!!” bentak Ravin dan nenek Linda secara bersamaan.


“Astaga, datang-datang bukannya salam dan sapa malah main tampar. Ada apa sih?” Sherin melirik Iriana tajam.

__ADS_1


“Kamu yang ada apa? Kenapa kamu bisa berduaan dengan Rainer?”


Dahi Sherin mengerut. “Aku? Berduaan dengan Rainer? Siapa yang mau berduaan dengan pacarmu?” sinis Sherin.


Iriana mengambil ponsel di tas, lalu memperlihatkan sebuah foto yang posisinya pas untuk membuat orang salah paham. “Lalu ini apa?”


Sherin diam, sedikit terkejut melihat foto itu. Ada saja yang julid, siapa yang mengirimkannya ke Iriana? Ia benar-benar tak menyangka.


Lalu dia melirik Ravin, pria itu menatap dingin membuat Sherin sedikit takut. “Kenapa diam? Kamu tidak tahu malu, masih saja ingin merebut milikku.”


“Kamu pikir aku merayu pacarmu? Buat apa? Aku sudah punya tunangan yang lebih tampan dan kaya dari dia. Lagian bukan aku yang mendekati Rainer, tapi dia duluan yang mendekatiku, sadar! Dia bukan pria setia,” ucap Sherin sinis.


Sementara Iriana semakin marah, tangannya terangkat ingin menampar Sherin kembali tapi malah di tahan Ravin. Pria itu menatap tajam dirinya.


“Kamu tidak dengar tadi kalau bukan Sherin yang mendekati kekasihmu lebih dulu?”


Iriana meringis, merasakan sakit di pergelangan tangannya. Ravin mencengkram menggunakan tenaga, beberapa kali di tarik tapi tak mau lepas.


“Lepas!” rintih Iriana, segera Ravin hempaskan pergelangan tangan itu lalu mengambil sapu tangan dari jaz-nya dan mengelap tangan seolah telah memegang benda kotor.


“Iriana! Apa-apaan kamu?” nenek maju.


“Dia merayu kekasihku,” tunjuk Iriana pada Sherin.


Nenek mendengus kesal. “Buat apa Sherin merayu pacarmu? Dia kan sudah bertunangan dan lebih tampan dari pacarmu.”


“Dengar? Aku tidak mungkin merayu orang bekas kamu. Aku tak ada niat mengambil apapun yang kamu punya, apalagi pria seperti Rainer,” ketus Sherin.


Sambil mengelus pipi yang masih merah, ada-ada saja kesialan yang terjadi pada dirinya hari ini. Baru saja sembuh tapi kini kepalanya kembali berdenyut. Di tambah pipi yang terasa perih. Mana dia tak sempat menghindar saat di tampar tadi.


“*Punya d*osa apa aku sampai dapat tamparan dari tangan wanita seperti Iriana?”


.


.


.


bersambung

__ADS_1


maaf gaes, baru up. harusnya sudah dari tadi malam tapi gk sengaja naskahnya kehapus. 1000 kata lebih dan harus ngulang 🤧😭


sakit banget rasanya, dan pas udh selesai ngetik malah sinyal ilang🤦‍♀️ nasib ku sial banget hari ini kyak Sherin.


__ADS_2