
Kalau Rainer sedang jalan-jalan dengan pacar keduanya, maka lain halnya dengan pacar Rainer yang satunya. Iriana masih terlihat sibuk usai melakukan pemotretan.
Iriana sedang tiduran dengan posisi miring, satu tangannya menahan bagian kepala. Pakaian yang ia pakai hanya CD berwarna merah maroon dan kacamata penutup gunung kembar. Agar tidak terlalu vulgar, tubuh Iriana sebagian di tutupi cardigan transparan.
“Apakah masih lama?” Iriana berujar dengan sedikit kesal, pasalnya posisi seperti ini sudah cukup lama dan membuat tubuhnya sedikit pegal.
“Sebentar, kita foto satu kali lagi. Sekarang ganti posisi, kamu terlentang dan rambutmu di buat acak-acakan. Terus kamu pegang bunga mawar sambil menggigitnya dan pandangan kamu menghadap kamera,” jelas fotografer.
Iriana segera melakukan sesuai arahan fotografer, mau tau apa yang Iriana lakukan sekarang?
Iriana sedang mengiklankan produk pakaian dalam, selain jadi penyanyi, Iriana adalah seorang model. Jadi, Iriana tidak bekerja hanya menjadi seorang penyanyi saja.
Selang lima belas menit, sesi pemotretan selesai. Iriana bangkit dan duduk. Febi, sang asisten setia datang menghampiri dengan membawa mantel dan sebotol air minum.
“Pakai, Na. Entar kamu sakit, soalnya AC nyala jadi kamu pasti kedinginan.”
“Tidak masalah, setelah ini kita balik ke DY,” Iriana menerima barang pemberian Febi, ia memakai mantel berwarna coklat itu dengan cepat tak lupa menyambar air minum yang ada di tangan Febi, dia haus.
“Ishana mana?” Iriana dan Febi kini berjalan ke luar gedung. Tak lupa kacamata hitam dan sebuah masker, sehingga Iriana baru bisa dengan bebas keluar.
“Sudah menunggu di sana, dia bilang ada hal penting yang mau di bicarakan dengan agensi,” kata Febi, Iriana mengangguk paham.
Mereka dengan cepat naik ke dalam mobil, tak butuh waktu lama mobil berhenti tepat di depan gedung DY entertainment. Ketika Iriana keluar dari mobil, tiba-tiba suasana jadi ramai.
Banyak yang bersorak atas kedatangan Iriana. Mereka adalah penggemar setia Iriana, dengan anggun dia berjalan melewati orang-orang yang ribut hanya untuk meminta tanda tangan darinya.
Seorang petugas keamanan segera melerai keributan itu agar Iriana bisa lewat dengan mudah.
“Bagaimana dengan Rainer? Apa dia sudah datang?” tanya Iriana di sela perjalanan mereka.
“Tidak tahu, terakhir aku tanya Ishana— dia bilang Rainer belum datang tapi entah kalau sekarang.”
“Kemana Rainer? Dari tadi malam aku telepon tidak di angkat, kirim pesan pun belum dibacanya,” keluh Iriana.
Iriana rindu dengan Rainer, semalam tidak bertemu membuat dia merasa sudah berhari-hari. Karena, hampir setiap hari mereka bertemu meski hanya sebentar. Tanpa Iriana ketahui, Rainer telah mencari wanita lain selain dirinya.
__ADS_1
“Ishana!” panggil Iriana.
Ishana baru keluar dari ruangan atasan, dia menghampiri Iriana yang datang bersama Febi.
“Ada urusan apa bos memanggilmu?” tanya Iriana, mereka sedang pergi menuju ruang istirahat.
“Kabar baik, bos akan menyuruh Rainer untuk merilis lagu baru lagi untukmu. Ini hebat, setelah Prisha mati, kamu benar-benar menjadi prioritas utama mereka, dan kedepannya kita akan semakin sibuk,” ucap Ishana dengan semangat.
Iriana menyeringai. “Itulah kenapa aku sangat bahagia dia mati, bahkan— tanpa aku turun tangan wanita itu sudah tumbang,” Iriana merasa bangga.
Ketiganya terus mengobrol sepanjang jalan, hingga tanpa mereka sadari ada yang telah mendengar obrolan mereka. Dia lewat bersebelahan dengan Iriana, berjalan berlawanan arah dengan Iriana. Tapi, meski begitu Iriana tak menyadari kehadirannya.
...⚫⚫⚫...
Sekarang sudah waktunya pelajaran kembali di mulai setelah bel tanda istirahat telah usai— berbunyi. Tapi, bukannya masuk kelas, remaja lelaki satu ini malah berkeliaran mengelilingi sekolah.
Dia Kael— adik kesayangan Prisha yang kurang perhatian. Kael sedang bolos, tak mau mengikuti pelajaran karena guru yang mengajar galak lagi membosankan.
“Sendiri itu nggak enak,” Kael mendesah lelah, sudah biasa sendiri membuat Kael hanya bisa mengeluh dengan diri sendiri.
Sebenarnya banyak yang mau berteman, tapi dasar Kael-nya saja yang sulit untuk bergaul. Hampir setiap hari ketika di sekolah, Kael duduk sendiri tanpa teman di sampingnya.
Kael kembali ke kantin, di sini sepi, hanya ada dia dan penjaga kantin. Kael duduk di kursi yang dekat dengan ibu penjaga kantin, lalu dia memesan minuman untuk menyegarkan tenggorokan.
“Tumben bolos, El,” ujar ibu penjaga kantin.
“Lagi males jadi anak rajin,” Kael beralasan.
Ibu kantin tertawa, “Kamu tuh keseringan sendiri jadi ya begini. Dari sekian banyaknya siswa, tapi nggak ada satu pun yang berteman sama kamu.”
“Maaf, Bu. Sebenarnya banyak yang mau berteman sama aku, tapi mereka sudah insecure duluan jadinya mundur.”
Ibu penjaga kantin yang sudah akrab dengan Kael kontan semakin tertawa. “Halah! Nggak ada hubungannya itu, tinggal bilang aja kalau kamu bingung caranya berteman dan ngobrol itu seperti apa.”
“Lha, itu ibu sudah tahu,” Kael tersenyum miris.
__ADS_1
Ibu penjaga kantin menaruh gelas berisi minuman di hadapan Kael, ia mengamati Kael yang sedang meneguk setengah gelas minuman itu.
“Oh ya, kamu sudah nggak sedih lagi 'kan?” tanyanya.
Kael mengangkat wajah, lalu mengangkat bahu, katanya, “Nggak lah, sudah lama perginya jadi aku mulai terbiasa, walaupun kadang-kadang suka kangen.”
“Kasian ...,” ujar ibu penjaga kantin. “Berarti sekarang kamu sendirian ya? Emangnya kemana ibu ayahmu?”
Kael terdiam sebentar, ia mencoba mengingat bagaimana wajah ayah ibunya, namun nihil karena tak ada ingatan apapun tentang mereka. “Nggak tahu, sudah mati mungkin,” ucapnya enteng.
Ibu penjaga kantin pun menampol lengan Kael, “Omonganmu itu! Nggak bisa di filter dikit apa? Gimana kalau mereka masih hidup?”
“Ya nggak gimana-gimana. Palingan nggak ngenalin aku, 'kan selama ini cuma kak Prisha yang ngerawat aku, bukan mereka,” Kael benar-benar tidak merasa sedih saat mengatakannya, karena yang Kael kenal sebagai orang tua itu hanya Prisha, sang kakak tersayang.
Bukan ayah dan ibu yang telah melahirkannya. Namun, sekarang sang kakak pun telah pergi meninggalkan dirinya sendiri untuk selamanya.
“Hadeuh, Ibu makin kasian sama kamu. Gini deh, mendingan kamu cari pacar biar kamu punya temen curhat sekaligus biar kamu dapet perhatian lagi,” ibu penjaga kantin itu benar-benar merasa kasian sama Kael.
Selain dirinya, sangat sedikit orang yang bisa akrab dengan remaja satu ini. Kael terlalu tertutup. Dan hanya sedikit orang yang tahu kalau Kael adalah adik dari Prisha, sang artis terkenal.
“Sudah lebih dari sepuluh kali Ibu bilang gitu, udahlah, aku mau cari angin dulu. Bolos nggak bolos tetep bosenin,” dengus Kael, ia pun beranjak pergi tapi sebelum itu ia membayar minuman yang di pesannya tadi.
Kael menyusuri area belakang sekolah yang sepi, sekolah tempatnya ini besar, memiliki dua lantai gedung dan banyak ruang kelas. Tidak sampai setahun lagi Kael sudah akan lulus dan saatnya masuk ke perguruan tinggi.
Ketika Kael sedang menendang batu kerikil, tiba-tiba ia mendengar suara orang yang sedang menangis. Meski samar, tapi telinganya cukup tajam.
Kael mengamati sekeliling, tak ada siapapun. Dia pun menelan ludah. “Masa siang-siang gini ada hantu?”
Kael memberanikan diri untuk mencari sumber suara tangisan, ketika sudah dekat dan suara itu terdengar begitu jelas, Kael menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan.
“Tenang, ada malaikat di samping gue yang bakal ngelindungin, nggak mungkin juga 'kan siang-siang gini beneran ada hantu?” gumam Kael, ia semakin mendekati sumber suara.
Dari balik tembok, Kael melihat seorang perempuan sedang menekuk lutut, rambut panjangnya tergerai menutup seluruh wajah. Tubuhnya gemetaran, terlihat jelas dari pakaian seragam yang sama seperti punya Kael.
Kael menghela napas lega. Ia pikir beneran hantu tapi rupanya hantu cantik jadi-jadian.
__ADS_1
Kael menepuk pundak gadis itu, membuat tangisannya berhenti, ia sedikit tersentak dan seketika mengangkat kepala. Menatap Kael yang kini melotot kaget karena tampilan gadis ini begitu acak-acakan.
“ASTAGA!! YA TUHANKU! INALILAHI!! GUE BENERAN KETEMU HANTU?!”