
Sekuat tenaga Sherin menahan malu, wajahnya sudah memerah dan rasanya ingin masuk ke dalam lubang semut. Sementara gadis itu sedang tertawa terbahak-bahak. Sesekali memegangi perutnya yang sakit saking tak bisa menahan tawa.
“Ma, lihat! Tunangan Kakak malu, mukanya merah. Ya ampun aku nggak kuat,” ucap gadis itu di sela tawanya.
“Diam ih! Calysta, kamu iseng banget,” kata Dina, beliau pun tadi tertawa kencang setelah Sherin membentak Calysta.
“Ngetes, Ma. Nggak di sangka reaksinya di luar dugaan. Aku pikir bakalan biasa saja ternyata Kakak Ipar nggak rela Kak Ravin di peluk cewek lain.” Calysta terkikik, rencana dadakannya berhasil dan tentunya itu menyenangkan.
“Udah ih, diam! Lihat itu, kasihan calon menantu Mama lagi nahan malu.”
“Biarin, Ma. Itu berarti Kakak Ipar cinta sama Kak Ravin, ya nggak, Kak?” Calysta balik menggoda Ravin.
“Mungkin,” Ravin menahan senyum, melirik Sherin yang sedang duduk di sebelahnya.
Ia pun tadi sedikit bingung dengan tindakan Calysta yang tiba-tiba. Apalagi ketika adiknya itu memanggilnya dengan sebutan 'Sayang' sambil peluk-peluk.
Tapi, merupakan kejutan bagi Ravin ada Calysta di rumah ini. Sudah lama mereka tak bertemu dan tiba-tiba saja ada di rumah tanpa memberi kabar kalau akan pulang.
“Sherin, kamu nggak marah 'kan di isengin sama Calysta?” tanya Dina.
Sherin menggeleng sambil tersenyum paksa. “Nggak, Ma. Aku nggak marah.”
Padahal dalam hatinya ngedumel. Bisa-bisanya ia membentak adiknya Ravin karena kesal. Cemburu? Iya, Sherin tadi cemburu. Hatinya terasa panas melihat adik kakak itu berpelukan.
Tapi, kalau dari awal Sherin tahu Calysta itu adiknya Ravin, tidak mungkin juga dia akan semarah tadi. Kecuali wanita lain yang tak ada hubungan apa-apa dengan Ravin baru Sherin marah. Bahkan bisa saja Sherin menjambak wanita yang berani memeluk tunangannya.
Beruntung Sherin bisa menahan diri agar Calysta tak jadi korban kecemburuan Sherin. Satu hal lain yang membuat Sherin tak ingin Ravin di peluk orang lain adalah karena dia takut. Takut untuk kedua kalinya di tinggal pas lagi sayang-sayangnya.
“Emh, Ma. Aku pulang dulu, ya, masih ada urusan,” pamit Sherin secara tiba-tiba. Saat ini dia sedang tak ingin menampakkan wajah karena rasa malu yang masih membelenggu.
“Eh? Kenapa tiba-tiba?”
“Ada urusan mendadak,” alasan Sherin.
“Mau aku antar?” tawar Ravin.
Sherin menggeleng cepat. Jika di antar Ravin sama saja dia tak bisa menghindar. Untuk saat ini Sherin ingin menenangkan diri, ia belum tahu akan reaksi Ravin soal tadi. Entah senang atau justru ilfil?
“Tapi, Rin—”
__ADS_1
“Maaf ya, Ma. Aku buru-buru, tak usah di antar siapa-siapa, aku bisa naik taksi,” tanpa kata lagi Sherin langsung ngacir, pergi dari rumah Ravin untuk menghindar sementara.
“Yah ... padahal tadi Mama ajak kalian pulang karena mau minta kalian buat liat lokasi prewedding,” ucap Dina sedikit kecewa.
“Kenapa Mama tidak bilang?” tanya Ravin.
“Mama lupa, tadinya juga mau sekalian ngenalin adikmu sama Sherin.”
“Biarin dulu, Ma. Mbak Sherin pasti masih malu, habisnya dia terang-terangan ngaku kalau Kak Ravin tunangannya. Kelihatan banget kalau dia nggak rela Kak Ravin di rebut orang,” celetuk Calysta. Tiba-tiba ...
Ctak!
“Aduh ... ” satu jitakkan mendarat di kening. Calysta menatap tajam kakaknya.
“Sakit tau!”
“Salahmu! Tiba-tiba ngelakuin itu, aku sampai kaget,” decak Ravin.
“Eh, jangan bisanya nyalahin aku. Pasti Kakak juga senang 'kan sama pengakuan Mbak Sherin? Hayo, ngaku ... ” tebakan Calysta tepat sasaran.
Ravin membeku tadi karena tak percaya akan pengakuan Sherin. Saat ini rasanya ada banyak bunga di sekeliling Ravin. Tiba-tiba otaknya hanya terisi oleh satu nama, yaitu Sherin. Nama Prisha di hatinya kini sudah di ganti jadi Sherin. Secepat itukah dia berpaling hati?
Pada Sherin yang baru dia kenal satu bulan lebih sedikit.
Sementara Sherin, gadis itu langsung menghentikan taksi. Rasa malu kali ini lebih besar dari pada ia ketahuan tidur bareng Ravin. Tujuan Sherin saat ini adalah rumah Anika, ingin bersantai di sana tanpa ada yang mengganggu.
Sekitar setengah jam barulah sampai, Anika memiliki rumah sendiri dan tinggal bersama ibunya. Rumah dua lantai yang minimalis, dulu ia sering berkunjung.
“Bagaimana kamu tahu alamat rumahku?” Anika menyipitkan matanya, kaget melihat Sherin yang tak di undang datang ke rumah.
“Dari Maylin,” dusta Sherin.
“Oh, silakan masuk. Ada apa kamu ke sini?”
“Cuma mau main.”
Sherin masuk, Anika menyuruhnya duduk di sofa ruang tamu sementara wanita itu pergi ke dapur untuk membuat minuman. Tak lama setelah itu, ada wanita yang usianya setara Laras tapi sedikit lebih tus, Sherin ingat beliau adalah ibu Anika.
“Eh, siapa yang datang ini?” tanyanya, menghampiri Sherin.
__ADS_1
“Sherin, Bu.” Sherin tersenyum ramah.
“Ah, temannya Anika ya?”
“Iya ... ”
Sherin dan ibunya Anika mengobrol sebentar sampai Anika datang dengan membawa nampan berisi dua gelas minuman. Anika menanyakan alasan kedatangan Sherin tapi gadis itu malah berbohong.
“Aku kangen kamu.”
Anika memutar bola matanya jengah. “Kalau ingin berbohong harusnya lebih pintar sedikit. Kalau ada masalah juga jangan suka menghindar.”
“Siapa yang ada masalah?”
“Mungkin kamu.”
Sherin menggeleng, bukan masalah yang dia hadapi sekarang. Tapi rasa malu yang membuatnya bingung ingin menaruh wajah di mana. Maka Sherin lebih memilih menghindar.
“Apa surat pengunduran dirimu sudah di setujui?” Sherin mengambil cokelat panas yang di hidangkan Anika tadi.
“Sudah, walaupun awalnya mereka protes. Aku sudah bekerja di tempat lain sebelum aku benar-benar keluar dari sana. Tapi aku tak menanggapi, toh setelah Prisha tiada aku menganggur.”
Sherin mengangguk paham. “Oh ya, beberapa minggu lagi tepat seratus hari kematian Prisha,” kata Anika membuat Sherin membatu.
“Kapan?” tanyanya dengan bibir bergetar.
“Entah, aku lupa. Tapi tidak lama lagi,” suasana mendadak hening, Sherin meremat jemarinya mendengar ucapan Anika.
Tak di sangka sudah cukup lama ia menempati tubuh ini. Apakah ia rindu dengan tubuhnya yang lama? Jawabannya iya. Karena tubuh itu adalah saksi dari perjuangannya selama hidup. Belum sempat menikmati tapi malah sudah berakhir begitu saja.
Tapi ia juga tak menyesal mendapatkan tubuh yang baru. Dengan tubuh ini ia bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki keluarga. Walaupun rasa sesal itu kadang ada, sebab salah satu keluarganya adalah musuhnya sendiri. Belum lagi ayahnya yang tak menyukai Sherin, entah apa alasannya dia sendiri tidak tahu.
“Kamu tahu? Aku baru dapat kabar kalau sebentar lagi Iriana akan mengadakan konser. Agensi benar-benar mau membuat wanita itu menjadi terkenal sama seperti Prisha dulu.”
“Apa tidak ada artis lain?” sungut Sherin.
“Setelah Prisha, hanya Iriana harapan mereka. Kebanyakan artis lain hanya pandai bermain akting.”
Sherin geleng-geleng kepala. “Apa mereka tidak tahu kalau banyak artis di sana yang suaranya lebih bagus dari Iriana?”
__ADS_1
“Maksudnya?”
“Di sana, mereka hanya ingin artis yang namanya sudah di kenal untuk terkenal. Padahal ada lebih dari dua puluh orang di bawah naungan DY entertainment yang mempunyai bakat lebih dari sekedar akting. Dasar mereka saja yang tidak bisa adil.”