
Berita mengenai Sherin yang akan debut untuk pertama kali mulai menyebar, Ravin berhasil membuat Sherin menjadi perbincangan di kalangan masyarakat. Respon positif dan negatif pun hampir seimbang.
Ada yang bilang kalau Sherin memakai jalur belakang atau dengan cara licik lainnya, tapi tak sedikit juga yang memuji kecantikan Sherin dalam poster cover album pertamanya yang menggunakan gaun biru laut bak Cinderella di negeri dongeng.
Tentu berita itu sampai ke telinga Iriana, dia membuka ponselnya dan melihat berita Sherin kini menjadi berita terpanas, yang pasti paling sering di bicarakan.
Iriana tidak menyangka kalau Sherin akan masuk ke dalam dunia hiburan, jelas itu membuat Iriana merasa tersaingi walaupun Sherin hanya artis pendataan baru. Bahkan belum memulai debutnya.
“Kenapa jadi begini?” desisnya.
Di saat karirnya akan mulai melambung tinggi, tiba-tiba Sherin datang dan kemungkinan akan mengacaukan rencananya. Iriana tidak mau hal itu terjadi.
“Kamu benar-benar tidak tahu diri, apa semua yang menjadi milikku akan kamu rebut?”
Iriana melempar ponsel dengan kesal ke atas kasur, dia mengacak rambutnya kasar, menandakan kekesalannya teramat besar.
“Tidak, tidak boleh begini. Aku tidak mau berada di bawah lagi, aku tidak akan membiarkan Sherin merebut apapun yang harusnya menjadi milikku,” Iriana menggeleng, mencoba menenangkan diri tapi sayang tidak bisa, terlalu sulit baginya yang memiliki sifat mudah marah.
“Arghhhh!! Harusnya aku yang ada di posisinya saat ini. Harusnya mereka membicarakan aku dan bukan gadis jelek itu.”
Akhirnya Iriana benar-benar tidak bisa mengontrol dirinya, di depan meja rias Iriana melempar semua alat-alat yang ada di sana. Pecahan beling terdengar sampai membuat Laras terkejut dan langsung berlari menuju kamar.
“Ada apa, Sayang?” tanya Laras panik, bertambah panik saat melihat kamar putrinya yang kini berantakan.
“Kamu kenapa?”
Laras membawa Iriana duduk di tepi kasur, mencoba memberi ketenangan untuk Iriana. Lalu ia mengambil segelas air putih dari atas nakas dan menyuruh Iriana minum.
“Mah, Sherin mau merebut yang seharusnya menjadi milikku,” ucap Iriana, napasnya naik turun, kekesalan belum mereda.
“Maksud kamu apa?”
“Sherin masuk dunia hiburan, dia mau menjadi penyanyi sepertiku dan dia sedang di perbincangan di mana-mana, padahal harusnya itu adalah aku. Bukan dia! Lagi-lagi Sherin ingin berebut denganku.”
...⚫⚫⚫...
__ADS_1
Lain halnya dengan Sherin yang tidak mempedulikan berita-berita itu. Entah positif atau negatifnya, itu tidak berpengaruh pada Sherin yang kini sedang fokus berlatih dan memulai rekaman untuk spoiler lagu yang akan di tayangkan minggu depan.
Sherin anggap, berita itu adalah perkenalan dirinya dengan dunia hiburan agar di kenal seluruh kalangan masyarakat.
“Kamu sudah bekerja keras,” Anika menepuk pundak calon Diva. Ia cukup bangga dengan kemajuan Sherin yang termasuk cepat.
“Itu hal mudah,” Sherin tersenyum seraya mengambil botol air mineral yang di sodorkan Meylin.
“Kamu tahu? Penampilan kamu hari ini jadi mengingatkan aku dengan Prisha,” Anika tertunduk sedih sementara Sherin hanya bisa bungkam.
Andai Anika tahu bahwa yang berada di hadapannya kini adalah Prisha, hanya raganya saja yang milik orang lain. Tapi, ia tak akan mengatakan itu karena pernah sekali mencoba tapi percuma, tak akan ada yang percaya.
“Dia juga idolaku, aku berani masuk ke dunia hiburan karena ingin menjadi sepertinya yang mampu bersinar di atas panggung dengan percaya diri, membuat orang tersenyum dengan lagu yang di nyanyikan, itu impianku.”
Ya, itu impian seorang Prisha, memberi kebahagiaan untuk orang-orang yang menyayanginya. Maka dari itu, sejak dulu ia berusaha keras agar impian itu terwujud.
Kesombongannya itu hanya untuk membentengi diri, pelit senyum karena sebenarnya ia sendiri tidak tahu bagaimana caranya tersenyum dengan tulus. Kehidupannya terlalu pahit untuk dia bisa tersenyum bahagia tanpa beban.
“Sayang, wanita langka seperti Prisha hanya bisa hidup sebentar. Dan, kini aku punya kewajiban untuk membimbingmu sama seperti saat aku membimbingnya dulu. Kamu tenang saja, impian kamu akan terwujud tidak akan lama lagi.”
Anika tersenyum dan itu tertular ke Sherin. Impian itu pernah terwujud dan kali ini ia ingin mewujudkannya kembali. Hidup barunya telah di mulai, meski harus dari bawah.
Sherin spontan mengelus pipinya yang ternyata sudah mulus, setiap hari Sherin pakai dan ternyata lumayan cepat prosesnya. Ia harus berterima kasih pada dokter Dhafi.
“Sekarang hampir sore, rekaman kamu berjalan sukses dan nanti akan di siarkan tapi hanya cuplikannya saja. Minggu depan kamu bersiap-siap untuk naik ke atas panggung untuk pertama kali.”
Sherin mengangguk seraya tersenyum, ia tidak sabar menanti hari itu tiba.
“Kami akan pulang dulu, kamu kalau mau pulang silakan, dan besok kita bertemu lagi.”
“Tunggu, An!” cegah Sherin ketika Anika mulai pergi.
Anika berhenti, ia berbalik dan menatap Sherin bingung.
“Hari ini aku tidak ada kerjaan lagi, jadi boleh aku ikut denganmu? Kamu pasti mau ke rumah Prisha 'kan?” tebak Sherin membuat Anika terkejut.
__ADS_1
“Bagaimana kamu tahu?”
“Tahu karena ada Meylin di sini dan tentu kamu akan mengantar gadis ini dulu,” tebakan Sherin memang benar, Meylin akan di antar pulang dulu baru dirinya yang akan kembali pulang ke apartemen.
“Ya boleh, tapi apa kamu tidak akan meminta izin dulu dengan Ravin?”
Sherin mengernyit. “Buat apa aku minta izin dengannya?”
“Ah, bukankah hubungan kalian lebih dari atasan dan bawahan?” goda Anika, Sherin jadi salah tingkah.
Ia menutup mulutnya dengan telunjuk, artinya Sherin ingin Anika diam dan jangan beritahu siapapun. “Kamu cuma bisanya meledak, sekarang gantian. Kapan kamu menikah?”
“Aku masih muda, menikah urusan nanti,” jawab Anika.
Sherin tebahak. “Muda dari mananya? Usiamu saja sekarang hampir kepala tiga. Sudah saatnya melepas masa jomlo.”
Lagi-lagi Anika terkejut, tak menyangka Sherin mengetahui berapa usianya. “Kamu tahu dari mana?”
Sherin terkekeh, ia menggeleng lalu pergi mendahului Anika. “Banyak hal yang aku tahu.”
****
Sekarang mereka sudah sampai di halaman rumah milik Prisha yang luas, Anika, Meylin dan Sherin pun turun bebarengan.
Sherin mendongak, menatap langit yang menampakkan awan hitam, sepertinya akan turun hujan.
“Mendung, sebentar lagi hujan,” celetuk Sherin.
“Itu bagus, sudah lama hujan tidak turun,” timpal Anika.
Sedangkan Meylin dia diam di tempat tapi matanya memicing. “Bukannya dia Kael?” gumam Meylin tapi masih bisa di dengar oleh Anika dan Sherin.
Spontan keduanya menolah, mengikuti arah pandang Meylin. Di gerbang masuk ada motor Kael yang mulai berjalan mendekat. Tidak aneh, karena Kael baru pulang sekolah tapi satu hal yang menjadi pusat perhatian mereka.
“Ah, tumben Kael bawa pulang anak gadis?” celetuk Sherin, bengong.
__ADS_1
“Ho'oh, aku baru pertama kali lihat Kael membonceng perempuan,” Meylin ikut berucap, keduanya terheran-heran.
Sedangkan Anika malah mengernyit. “Bukannya hal biasa kalau remaja sekarang suka berboncengan berdua?”