
Malam itu, lagi dan lagi Grisel dibuat khawatir karena Rainer belum pulang. Hampir setiap malam setelah mereka menikah Rainer selalu pulang telat. Apalagi semenjak Rainer di pecat dari pekerjaannya.
Grisel memandang pintu dengan tatapan penuh harap, hampir tengah malam dan belum ada tanda-tanda Rainer akan pulang. Setelah menikah bukannya bahagia malah membuatnya hampir stres karena memikirkan suaminya.
“Apa sebenarnya aku sudah salah sejak awal?” gumam Grisel, kejadian belakangan ini selalu membuatnya kepikiran. Belum lagi karena faktor kehamilan.
Lima belas menit kemudian terdengar suara bel apartemen berbunyi, Grisel yang sedang berpikir itu tersadar dan segera membuka pintu. Pria yang dia tunggu akhirnya pulang, tapi dalam keadaan mabuk. Bau alkohol begitu tercium jelas dan membuat Grisel merasa mual.
Belum lagi ada wanita asing dengan pakaian minim sedang memapah suaminya. Grisel menatap datar mereka berdua. Belum mempersilakan wanita itu masuk.
“Apa yang sedang kau pikirkan? Cepat bantu aku membawanya masuk!” tegur wanita itu. Terlihat wajahnya mengerut karena beban yang dibawa cukup berat.
“Lepaskan tanganmu, aku bisa membawa suamiku masuk sendiri,” cegah Grisel ketika wanita yang memapah Rainer itu ingin masuk.
“Ck! Harusnya kau bersyukur karena aku membawanya pulang. Kalau tidak, dia pasti akan tergeletak begitu saja,” decak wanita itu.
Grisel mendengkus dan akhirnya membiarkan wanita itu masuk, lalu Grisel ikut membantu memapah Rainer. Setelah menidurkan Rainer di atas ranjang, Grisel mendorong wanita itu keluar apartemen.
“Sudah selesai 'kan? Cepat pergi sana!” usir Grisel.
“Huh! Dasar tidak tahu terima kasih,” dengus wanita itu, segera dia pergi dari hadapan Grisel.
Grisel mengembusksn napas kesal, dia menutup pintu dengan kencang hingga menimbulkan suara. Lalu Grisel masuk ke dalam kamar di mana suaminya kini berada. Grisel menatap Rainer yang tengah berbaring dengan tatapan kecewa.
“Kenapa jadi begini?” tanya wanita itu pada dirinya sendiri, juga Rainer kalau saja pria itu mendengarnya.
Grisel melepaskan sepatu Rainer, ditaruh dirak sepatu dekat pintu. Lalu Grisel membalik tubuh Rainer membuat Rainer kini tidur telentang. Dia tatap wajah yang dulu tampan tapi kini tak terurus dengan buku halus yang mulai tumbuh panjang di rahang.
Grisel menutup hidungnya dengan dua jari ketika melepaskan pakaian Rainer, bau alkohol dari tubuh pria itu membuat Grisel sangat mual. Satu persatu kancing kemeja warna biru yang dipakai Rainer, Grisel buka.
“Kenapa semakin hari kamu semakin liar?” gumam Grisel, memandang suaminya kecewa.
Setelah mengelap tubuh Rainer dengan air hangat, Grisel menyelimuti Rainer. Wanita itu mematikan lampu kamar dan menghidupkan lampu tidur dengan cahaya temaram. Setelahnya barulah Grisel naik keatas ranjang dan menyelimuti dirinya sendiri.
__ADS_1
Dia peluk suaminya dari samping, saat itu air matanya mengalir. “Apa sebegitu menyesalnya kamu menikah denganku?”
Tubuh Grisel bergetar, kehamilan ini membuatnya semakin lemah. Ia tak suka ketidakberdayaan ini, walaupun sejak awal dia tahu apa yang dilakukannya salah, ia tetap melanjutkan kesalahan ini. Sekarang terbukti kesalahan yang dia lakukan mengacaukan hidupnya.
Cinta memang membuat orang semakin bodoh, itulah yang di alami Grisel. Menyesal pun sudah terlambat. Grisel hanya bisa pasrah pada takdirnya yang sekarang, lagi pula ini adalah ulahnya sendiri.
***
“Jadi kita akan bulan madu kemana?” tanya Ravin.
Topik malam itu tidak ganti sejak tadi siang, ingin bulan madu kemana yang selalu jadi pertanyaan. Pasangan yang ingin melakukan bulan madu itu belum bisa memutuskan. Pendapat keduanya berbeda, kalau satu ingin ke luar negeri lain dengan satunya yang hanya ingin di dalam negeri.
“Aku sendiri tidak tahu, tapi aku inginnya ke luar negeri,” ujar Sherin yang kini tengah menyisir rambut. Setelah itu tak lupa dia memakai krim malam untuk wajah.
“Kalau Jepang bagaimana?”
Sherin menggeleng cepat. “Ganti! Jangan Jepang.”
“Kenapa?”
“Bali saja? Atau Raja Ampat?”
Kembali Sherin menggeleng. “Terlalu dekat. Kita mau jalan-jalan, jadi harus ke tempat yang indah.”
“Bukannya di Indonesia juga banyak tempat yang indah? Kenapa malah ingin ke luar negeri yang jelas-jelas tempatnya sangat jauh,” kata Ravin.
“Aku belum pernah ke luar negeri,” ungkap Sherin sambil nyengir kuda. Sementara Ravin tertegun.
“Serius belum pernah ke luar negeri?” tanya Ravin tak percaya.
Sherin menggeleng, terpaksa berbohong karena sebenarnya dia sudah pernah ke luar negeri. Bukan hanya sekali tapi juga berkali-kali, tapi dulu, saat masih menjadi Prisha.
“Ya sudah, kalau begitu kamu ingin pergi kemana?” Ravin turun dari ranjang, mendekati Sherin yang masih sibuk mengurusi wajahnya.
__ADS_1
Tepat berada di belakang Sherin, Ravin sedikit membungkuk lalu memeluk Sherin dari belakang. Mencium aroma Sherin dalam-dalam, lalu dengan jahilnya Ravin mengecup leher bagian belakang Sherin dan mengigit kecil. Membuat Sherin meringis.
“Sakit! Jangan di gigit!” kesal Sherin. Berbalik dan terkejut saat Ravin tiba-tiba mencium bibirnya. Dengan wajah memerah Sherin kembali memalingkan wajah.
“Jadi mau kemana, hm?”
“Swiss.”
Oke. Sherin sudah membuat keputusan maka Ravin hanya akan mengangguk tanpa protes. Dia melepaskan pelukan lalu mengambil ponsel di atas ranjang dan menelepon seseorang. Sherin memandang dirinya di cermin sesekali melirik bayangan Ravin dari sana.
“Wil, tolong pesankan tiket bulan madu ke Swiss,” kata Ravin seketika membuat Sherin terbatuk.
“Sekarang, Pak?” tanya Wildan tak percaya, ingin protes tapi tak berani.
“Iya, masa bulan depan?”
“Tapi ini sudah tengah malam, Pak. Bagaimana kalau besok pagi?” Wildan sudah mengantuk di sana.
“Terserah kamu! Tapi lusa harus sudah siap semuanya. Lusa juga kami akan langsung berangkat,” tekan Ravin.
Sambungan telepon sudah terputus, Sherin berdehem membuat Ravin menoleh. “Kenapa? Haus?” tanya pria itu.
“Ti ... tidak, aku cuma kaget tiba-tiba kamu minta langsung pesankan tiket,” ungkap Sherin.
Lagi wanita itu membenahi rambut dengan menggunakan tangan, padahal baru di sisir. Rupanya Sherin reflek melakukan itu karena sedang gugup.
“Lebih cepat lebih baik. Aku ingin berduaan lebih lama denganmu,” ucap Ravin.
Tanpa aba-aba langsung mengangkat Sherin dan menidurkan Sherin ke ranjang. Sherin melingkarkan lengannya di leher Ravin. Pria itu mencium bibir Sherin dengan lembut.
“Bukannya sekarang kita sedang berduaan?”
“Tapi itu berbeda, Sayang ... ”
__ADS_1
Sherin jadi tersipu mendengar kata 'sayang' dari Ravin. Gemas, Ravin kembali mencium Sherin bertubi-tubi. Dimulai dari kening, kedua pipi dan hidung lalu terakhir bibir.
Keduanya hanyut dalam permainan, saling berbagi keringat dalam selimut yang sama. Penyatuan yang membuat keduanya sampai pada puncak kenikmatan hingga tanpa sadar malam semakin larut.