
Pagi-pagi sekali Sherin sudah bersiap, mandi dan memakai pakaian rapi. Sebelum benar-benar meninggalkan kamar, Sherin menyemprotkan parfum dengan aroma vanila.
Sherin mengambil tas dan segera keluar kamar, melewati kamar sang nenek lalu meminta izin. Sherin sudah memesan taksi online dan sudah di tunggu di depan gerbang rumah.
Segera Sherin masuk dan mobil melaju. Sebelum sampai tujuan Sherin menyempatkan diri untuk mampir ke supermarket.
“Susu ibu hamil, cemilan sehat, hmmm ... terus apa lagi?” gumam Sherin sembari berkeliling.
Keranjang belanja hampir penuh, ia membeli lebih dari tiga kotak susu dan cemilan untuk ibu hamil. Setelah dirasa cukup Sherin segera membayar dan kembali masuk ke dalam mobil.
Sesampainya ditujuan, Sherin berjalan memasuki gang kecil yang sedikit becek. Gadis itu berdecak, sepatunya bisa kotor kalau salah jalan sedikit. Setelah melihat rumah kecil di ujung gang, Sherin lekas ke sana dan mengetuk pintu.
Tak lama pintu terbuka dan nampak seorang wanita muda dengan wajah sedikit pucat dan rambut acak-acakan terkejut melihat kedatangan Sherin.
“Siapa kamu?” tanya Grisel waspada.
“Kenalin, aku Sherin.” Sherin mengangkat tangan kanannya, berniat mengajak salaman tapi Grisel bergeming.
Dengan canggung Sherin berkata, “Tenang saja, aku bukan orang jahat. Aku dengar kamu lagi hamil?” Sherin menatap perut Grisel.
“Dari mana kamu tahu?” tanyanya kaget.
Sherin hanya tersenyum. “Aku bawain barang-barang buat kamu, lho. Apa kamu nggak mau ajakin aku masuk? Aku bukan orang jahat, suer.” Sherin menunjukkan dua jarinya yang berbentuk huruf V.
Walaupun curiga Grisel membiarkan Sherin masuk. Tak enak juga menolak tamu yang datang walaupun tidak di kenal. Katanya bukan orang jahat, dari pakaiannya memang tidak terlihat seperti orang jahat. Lagian perempuan ini cantik, Grisel seperti pernah melihatnya.
“Maaf tempatnya jelek.”
“Tidak papa.” Sherin mengamati sekeliling ruang tamu. Kecil dan cat tembok sudah luntur. Sofa yang di duduki juga kelihatan sudah lama. Sherin menaruh barang bawaannya di atas meja, dahi Grisel berkerut.
“Ini apa?”
“Susu ibu hamil.”
__ADS_1
“Hah?” Grisel bingung.
“Aku bawain kamu susu ibu hamil.”
Ucapan Sherin menimbulkan kebingungan pada Grisel, dia sedikit curiga. Siapa wanita ini sampai mau membawakannya susu ibu hamil, mereka juga belum kenal. Lagian, dari mana wanita ini tahu bahwa dia sedang hamil? Terlalu mencurigakan.
Sherin mengerti arti dari tatapan Grisel. “Tenang aja, susunya masih tersegel. Aku baru beli di supermarket depan, jangan khawatir kalau itu ada racunnya. Soal siapa aku itu, sebenarnya aku adik tirinya Iriana,” Sherin memperkenalkan diri sambil tertawa kecil.
Grisel nampak terkejut. Tubuhnya gemetar. “Apa Iriana yang menyuruhmu datang?”
Sherin menggeleng. “Bukan, lagian Iriana kan belum tahu tentang perselingkuhan kalian.”
Tambah takutlah Grisel, wajahnya semakin pucat. “Mau apa kamu ke sini? Mau nyuruh aku gugurin anak ini?” tanyanya dengan suara gemetar.
Sherin tertawa. “Kalau niatku datang ke sini cuma mau gugurin anak kamu aku nggak mungkin bawain kamu susu ibu hamil. Buang-buang uang namanya.”
“Terus kamu mau nyuruh aku putus dari Rainer?” semakin ngawur pikiran Grisel.
“A—apa?” Grisel belum percaya.
“Aku nggak bohong. Aku bakal bikin kamu nikah sama Rainer dan bikin Rainer putus dari Iriana. Tapi, kamu juga harus bantu aku.”
Grisel tahu tawaran Sherin tidak gratis. Wanita itu menatap Sherin curiga. Sherin datang tiba-tiba dan menawarkan sesuatu yang membuatnya tertarik.
“Bantu apa?”
“Begini ... ”
Sherin memberitahu rencananya, apa yang harus Grisel lakukan dan kapan waktunya. Sherin berjanji Grisel tidak akan di salahkan dalam hal ini dan juga Grisel akan mendapatkan bayaran jika rencananya berjalan lancar.
“Tapi, kamu harus ingat satu hal. Kalau sampai hal ini bocor keluar, kamu dan anakmu yang akan menanggung semuanya,” Sherin menyeringai setelah mengancam. Membuat Grisel kembali gemetar, tatapan tajam Sherin seakan mampu membelah dirinya menjadi dua bagian.
*****
__ADS_1
Usai berbincang dengan Grisel, Sherin menelepon Ravin agar menjemputnya. Ia tak ingin mengeluarkan uang karena boros. Ongkos naik taksi tidak murah, ingin naik angkutan umum Sherin tidak mau. Bau keringat dan asap kendaraan membuat Sherin sesak.
Lagian gajinya bulan ini belum keluar, ia hanya punya kartu emas dari Ravin yang limitnya entah berapa lalu bonus hasil konser pertamanya juga tak seberapa. Percayalah, Sherin sebenarnya masih miskin tapi dia berani menawarkan bayaran untuk Grisel, lalu dari mana dia bisa dapat uang yang banyak?
Tak sampai setengah jam Ravin sudah sampai, Sherin yang sedang duduk di kursi panjang pinggir jalan itu melambai. Sherin berbinar, akhirnya dia tak akan kepanasan lagi.
“Kenapa lama?” protes Sherin ketika sudah di dalam mobil, memakai sabuk pengaman lalu menatap Ravin kesal.
Ravin memutar bola matanya. “Kamu pikir jarak kantorku dan tempat ini dekat? Harus kamu tahu, aku sampai menyalip mobil polisi yang sedang patroli agar cepat sampai ke sini. Beruntungnya aku tidak di kejar.”
Sherin menahan tawa, ia meminta maaf juga karena sudah protes. Ravin menanyakan mau kemana setelah ini dan kata Sherin dia mau jalan-jalan.
Ravin membawa Sherin menuju butik tempat mereka fitting baju pengantin, di sana Ravin membawa Sherin ke tempat pakaian mereka yang sudah jadi. Sherin menatap kagum baju pengantin mereka yang terlihat elegan, sederhana tapi mewah.
“Sudah berapa persen persiapan pernikahan?” tanya Sherin, saat ini mereka sedang duduk di sebuah cafe yang letakkan di dekat pantai.
Pemandangan dari jendela tempat mereka duduk tepat menghadap ke arah pantai yang saat itu sedang sangat tenang. Cuaca cerah sampai tidak ada awan di atas langit.
“Hampir selesai. Tujuh puluh persen, Mamah yang sudah mengatur semuanya. Untuk gedung, cincin dan catering juga semua sudah selesai. Kita hanya perlu memilih tempat prewedding dan fitting baju saja. ”
Sherin mengangguk, tiba-tiba saja dadanya berdebar. Tak menyangka sebentar lagi akan menikah, hal yang belum pernah ada di pikirannya dari dulu. Hingga kecelakaan itu yang membuatnya pindah tubuh lalu di jodohkan oleh kakek pemilik tubuh asli.
“Jangan gugup, kita menikah juga tidak terpaksa. Awalnya memang iya, tapi seperti kata orang. Cinta datang karena terbiasa, dan sekarang kita mengalami hal itu. Kita menikah juga atas dasar cinta 'kan?” Sherin mengangguk.
“Jadi, jangan gugup atau takut. Kalau kamu seperti itu malah membuat aku takut, aku takut kamu berubah pikiran dan tiba-tiba ingin membatalkan pernikahan.”
Sherin tersenyum. Tangan Sherin yang di atas meja di genggam oleh Ravin dengan erat. Hingga Ravin teringat sesuatu yang sudah mengganggu pikirannya sejak lama.
“Aku ingin tanya.”
“Apa?”
“Apa kamu punya masa lalu yang belum bisa di lupakan?”
__ADS_1