Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 56


__ADS_3

Pagi harinya, Sherin sedang sarapan bersama kakek dan neneknya. Pakaian Sherin sudah rapi, hanya tinggal menunggu Ravin datang menjemput. Mereka akan melakukan foto prewedding hari ini.


“Sherin, tiga hari lagi peringatan kematian ibumu dan putra Kakek, kamu kosongkan jadwal untuk hari itu, ya?” pinta Kakek.


Sherin menghentikan makannya, ia tatap kakek dengan kening berkerut. “Putra Kakek? Siapa? Papah?”


“Hush ... jelas-jelas papah kamu masih hidup. Putra pertama Kakek, sudah meninggal tepat di hari yang sama dengan ibumu,” kata kakek.


“Aku baru tahu,” Sherin memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


“Ah, Kakek lupa kalau kamu lupa ingatan. Kakek punya dua anak, yang pertama sudah meninggal dan yang ke-dua adalah papahmu,” jelas kakek, Sherin mengangguk paham.


“Anak pertama Kakek meninggal kenapa?”


“Kecelakaan,” Kakek mengembus napas berat, sementara kembali mengangguk.


Tidak sampai lima menit makanan di piring tandas, Sherin membalik sendok dan mengambil tisu lalu mengelap mulut. Bertepatan saat itu Ravin datang sendiri tanpa ada Calysta di belakangnya.


“Pagi ... ” sapa Ravin.


“Pagi ... sudah sarapan, Vin?” tanya kakek.


“Sudah, Kek.”


Sherin berdiri, ia menghampiri Ravin. “Kakek, kami pergi dulu, ya.”


“Iya, jangan sampai kemalaman,” nenek Linda yang menjawab.


Sementara Sherin cengengesan, ia mengangguk dan segera pergi bersama Ravin. Mereka naik mobil, Ravin yang menyetir. Setelah memasang safety belt, Ravin melajukan mobilnya.


“Calysta tidak ikut?” Sherin memecah keheningan.


“Tidak. Katanya tidak mau mengganggu waktu kita berdua, tapi dia akan datang sendiri ke sana. Untuk jalan-jalan saja,” jelas Ravin.


“Kata kakek tiga hari lagi peringatan kematian ibuku,” celetuk Sherin.


“Ibumu?”


Sherin mengangguk. “Wajahnya seperti apa? Apa mirip denganmu?”


Sherin nampak berpikir lalu ia menggeleng. Membuat Ravin menaikkan sebelah alisnya. “Aku sendiri tidak tahu?”


“Eh, apa?” Ravin tiba-tiba mengerem, Sherin terkejut pun langsung mengusap dadanya.


Di depan sedang lampu merah, jadi berhenti. Sherin mendengus dan menatap Ravin kesal.


“Kamu tidak tahu seperti apa wajah ibumu?” tanya Ravin tak percaya.


“Mana aku tahu? Aku 'kan hilang ingatan,” Sherin angkat bahu, alasan yang cukup masuk akal agar orang lain tak curiga padanya kalau sebenarnya ia tidak amnesia juga bukan Sherin sang pemilik tubuh asli.


“Ck! Ck! Anak durhaka,” Ravin menggeleng sementara Sherin mendelik tajam.

__ADS_1


Mobil kembali melaju saat lampu berubah hijau. Terus jalan sekitar empat puluh menit barulah sampai di daerah pantai. Saat Sherin keluar dari mobil, ia tak melihat adanya mobil pengunjung lain. Hanya ada dua mobil yang Sherin tahu adalah mobil milik fotografer yang akan memotret mereka.


“Aku sudah bilang akan menyewa tempat ini selama satu hari, jadi jangan heran.” Ravin mengerti arti tatapan Sherin yang berkeliling.


“Iya, aku tidak lupa.”


Mereka pergi ke tempat orang dari fotografer yang sudah bersiap. Berbagai perlengkapan di taruh di sebuah pondok kecil pinggir pantai. Sherin dan Ravin mengikuti arahan dari fotografer tersebut, mereka ganti pakaian di toilet yang tersedia lalu Sherin di make up.


Foto sesi pertama selesai. Ada gaya saat Ravin merangkul pinggang Sherin, sementara Sherin mengalungkan tangan ke leher Ravin. Posisi mereka seperti ingin berciuman, tapi hanya saling pandang.


Berbagai gaya di lakukan, hingga hari menjelang siang. Matahari semakin naik ke atas, dan cuaca semakin panas. Ravin, Sherin beserta yang lainnya sedang beristirahat. Tak lupa Ravin memesan makanan melalui aplikasi online.


“Cari makan, yuk,” ajak Sherin. Ia sedang mengipasi wajahnya menggunakan kipas yang terbuat dari anyaman bambu.


Seseorang sedang membersihkan make up di wajahnya. Sementara Ravin melepas jaz yang membuat gerah, hanya menyisakan kemeja yang tangannya di gulung sampai siku.


“Ayo,” Ravin berdiri, setelah selesai dibersihkan Sherin ikut berdiri.


Mereka pergi ke tampat penjual yang ada di pinggir pantai. Rupanya Ravin tak memberhentikan mereka selama satu hari, meski pengunjung pantai hanya mereka para penjual makanan itu tetap berjualan.


Sherin berhenti di depan penjual sate, aroma asap yang wangi memancing Sherin agar berhenti di tempat itu.


“Bang, sate dua ratus tusuk,” celetuk Sherin.


“Dua ratus?!” penjual yang sedang mengipasi sate itu terkejut.


Dengan takut menatap Sherin yang di pikir Sundel Bolong tapi untungnya bukan. Kalau Sundel bolong wajahnya pucat lain dengan perempuan ini yang wajahnya cantik. Lagian mana ada Sundel Bolong di siang bolong begini.


“Jangan bercanda,” Ravin menjitak kening Sherin yang langsung mengaduh sakit.


“Dua puluh tusuk aja, Bang. Tapi tambah sepuluh tusuk lagi, jadi tiga puluh.”


“Siap.”


Setelah memesan mereka berdua duduk di kursi yang sudah di sediakan. Di dekat mereka ada banyak pohon kelapa, bayangan dari pohon itu menghalangi cahaya matahari, sehingga tempat yang mereka duduki tidak terasa panas.


Setelah selesai makan siang, Sherin baru tahu kalau mereka akan pindah tempat. Ravin sudah menyewa tempat pemotretan di dalam ruangan atau indoor. Beberapa pakaian adat bahkan tema kerajaan mereka pakai di pemotretan sesi ke-dua ini.


Lebih dari itu, suasana hati Sherin sangat bagus untuk hari ini. Ravin memberinya banyak kejutan, bahkan untuk pemotretan indoor Sherin sama sekali tidak tahu. Ravin berlaku seenaknya sendiri tapi ujung-ujungnya membuat Sherin bahagia.


*****


Waktu berjalan dengan cepat, tanpa terasa matahari sebentar lagi akan terbenam. Mereka bersiap untuk pulang, lebih tepatnya makan malam dulu baru pulang. Tapi, Sherin ingat kalau malam ini ia ada janji bertemu dengan detektif Hugo.


“Setelah makan malam, kita bertemu detektif Hugo dulu baru pulang,” kata Sherin memberitahu.


“Kamu langsung menghubunginya?” Ravin menyipit, ada nada tak suka dari caranya bicara.


“Iya. Kalau tidak langsung di hubungi buat apa aku minta nomornya?” Sherin tak paham juga tak peka kalau Ravin sedang cemburu.


“Aku ikut.”

__ADS_1


“Lha? Bukannya aku emang mengajakmu? Kalau tidak, mana mungkin aku bilang ini ke kamu.”


Ravin menggaruk tengkuknya. Selesai beberes, mereka segera pergi. Tak lupa mengucapkan terima kasih pada mereka yang telah membantunya dalam sesi prewedding hari ini.


Sherin mengirim pesan pada Hugo, mereka akan bertemu di sebuah cafe pukul tujuh malam. Setelah Sherin dan Ravin selesai makan malam.


“Saya Hugo, senang berkenalan dengan anda,” Hugo dan Sherin bersalaman.


Plak!


Baru dua detik langsung di keplak Ravin, Hugo sampai meringis. “Jangan sembarangan pegang!”


“Hanya formalitas, kamu tak perlu berlebihan,” ucap Hugo sembari mengelus punggung tangannya yang tadi di keplak Ravin.


“Hanya 'AKU' yang boleh pegang,” Ravin berucap tegas sementara Hugo hanya menggeleng.


“Sudah berapa lama kita tidak bertemu? Sekalinya bertemu kamu sudah berubah jadi bucin. Padahal sebelumnya hanya bisa mengagumi seseorang lewat bantal berisikan foto, kasihan.”


Hugo membocorkan sebuah rahasia yang selama ini Ravin jaga dengan baik. Pria itu mendengus kesal, lalu melirik Sherin yang kini menatapnya curiga.


“Siapa?”


“Wah! Kamu tidak tahu? Ravin pernah menyukai seorang wanita tapi cintanya tak terbalas sebab wanita itu sudah jadi milik orang lain,” Hugo menambah percikan api.


“Kamu mau jadi pebinor?” Sherin menatap Ravin tak percaya. Tangannya menutup mulut yang terbuka.


“Jangan dengarkan dia! Bukan seperti itu juga maksudnya.” Ravin yang kesal langsung menginjak kaki Hugo di bawah meja. Membuat Hugo hanya bisa meringis menahan sakit.


“Baiklah, maaf. Kita langsung saja, ada apa kamu mau bertemu denganku? Tadi malam aku sampai kaget ada seseorang yang menelepon dan ternyata seorang wanita,” tanpa sadar Hugo sudah membuat Ravin semakin kesal.


“Malam-malam kamu telepon dia?” tanyanya pada Sherin, ia menunjuk Hugo tepat di depan wajah pria itu.


“Iya,” jawab Sherin jujur. Ravin menghela napas, menahan kesal.


“Begini, aku mau kamu carikan alamat rumah wanita yang ada di foto ini,” Sherin mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri. Lalu memilih satu foto dan di berikan kepada Hugo.


“Apa kamu tahu biasanya dia ada di mana? Biar aku lebih mudah melacaknya,” pinta Hugo.


“Kamu tinggal pergi ke apartemen XX, dia sering keluar masuk ke tempat itu. Oh ya, lebih mudahnya langsung lihat CCTV dari kamar nomor XX. Aku yakin hampir setiap hari wanita ini pergi ke sana,” Sherin mengirim foto itu ke dalam ponsel Hugo lewat bluetooth.


“Akan aku usahakan secepatnya, asal bayarannya juga cepat,” ucap Hugo tersenyum, sementara Sherin mendelik.


“Kamu belum kerja sudah minta bayaran, apa dengan teman sendiri kamu perhitungan?”


“Jangan salah. Dalam bisnis tidak ada yang namanya pertemanan. Bisnis ya bisnis, tidak mencampurkan hal pribadi ke dalam bisnis. Oh ya, untuk nomor rekening aku sudah mengirimkannya ke Ravin, minta bocah itu mengirim uang dengan cepat.”


.


.


.

__ADS_1


bersambung


review dari semalam gk lolos-lolos😭


__ADS_2