
Hari peringatan kematian ibu kandung Sherin tiba, tak hanya peringatan kematian ibu Sherin tapi juga putra pertama kakek Haris. Sangat kebetulan karena di hari yang sama mereka tiada.
Hampir semua orang berkumpul di area makam, kecuali tiga orang yang sama sekali tak mau datang. Siapa lagi kalau bukan ayahnya Sherin, Iriana dan Laras. Rata-rata mereka menggunakan baju hitam, Sherin menatap makam sang ibu dengan tatapan yang sulit diartikan.
Ia sampai teringat dengan ibunya saat menjadi Prisha, menghilang secara tiba-tiba tanpa mengucapkan sepatah katapun. Entah sekarang masih hidup atau tidak, Sherin tak peduli. Lalu bagaimana dengan ibu Sherin sang pemilik tubuh asli?
Apakah sama seperti ibunya? Atau malah kebalikannya.
“Apa kamu merindukannya?” tanya Ravin.
Sherin menggeleng. “Aku sendiri tidak tahu bagaimana wajahnya,” Sherin terkekeh.
Kakek memimpin do'a, setelah selesai tak lupa menaburi bunga dan mencabuti rumput-rumput yang tumbuh. Dua makam berdampingan, seperti khusus makam pasangan suami istri tapi bedanya kedua almarhum ini bukan suami istri.
Harusnya disebelah makam ibunya Sherin dijadikan tempat makam ayahnya, Arvin. Tapi, pria itu masih hidup.
“Ibunya Sherin, Devi. Meninggal ketika Sherin berusia enam tahun, saat itu dokter mengatakan kondisi Devi sangat lemah. Devi mempunyai penyakit kronis, tapi kami sama sekali tidak mengetahui hal itu ... ” kakek mulai bercerita, yang lain hanya diam.
“Tiga tahun sebelumnya masih terlihat sangat sehat, tapi semenjak Arvin membawa Laras ke rumah mereka. Hubungan Arvin dan Devi semakin renggang, kami pikir hanya masalah rumah tangga biasa. Mereka bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri.”
“Tapi tiba-tiba bi Tuti menelepon dan mengatakan Devi pingsan dan tak ada embusan napas dari hidungnya. Dokter datang lebih lama, Sherin menangis di sudut tembok sambil memeluk lutut. Di rumah itu, tak ada yang membantu kecuali bi Tuti. Malam harinya, kabar buruk datang lagi. Putra pertamaku kecelakaan dan tewas di tempat.”
Dina yang mendengar itu menahan tangis. Ingatannya berputar, saat dimana dia masih berhubungan baik dengan Devi. Satu bulan sebelum kematian Devi, keluarga Dina pindah keluar negeri untuk merintis usaha tapi tak pernah dia sangka kalau sebulan kemudian sahabatnya meninggal tanpa dia ketahui.
Setelah beberapa tahun dan kembali ke tanah air, Dina mendengar sahabatnya sudah meninggal dan membuat Dina sangat terpukul. Lima belas tahun berlalu, Dina masih bisa mengingat jelas bagaimana wajah Devi yang sekarang sangat mirip dengan Sherin.
“Padahal dulu setiap Devi datang ke rumah, wajahnya pucat dan dia tidak bilang apa-apa. Aku pikir karena kurang tidur, Devi selalu bilang kalau putrinya sakit dan rewel makanya wajahnya bisa pucat.” Dina sesenggukan di pelukan sang suami.
“Yang lebih parah lagi belum ada empat puluh hari Devi meninggal tapi Arvin nikah lagi. Dengan Laras, yang saat itu adalah pembantunya,” timpal nenek Linda. Wajahnya terlihat menahan amarah.
__ADS_1
Sherin mendengarkan dengan seksama, dia merasa ada yang janggal. Tapi entahlah, Sherin belum bisa menyimpulkan.
Mereka di pemakaman sampai hampir setengah hari, kakek tak bosan-bosannya menceritakan masa lalu yang sulit di lupakan. Bagaimana dia menjodohkan Devi dan Arvin, meski keduanya terpaksa tapi tetap bisa menghasilkan Sherin.
Kakek juga bercerita, bagaimana dulu dia tidak mengetahui kalau ibunya Sherin pernah mencintai putra pertamanya, kakak dari Arvin. Semua cerita dari kakek, Sherin dengarkan dengan seksama. Kejanggalan semakin dia rasakan meski belum bisa di simpulkan.
***
Di tempat lain, ada Iriana dan Rainer yang sedang membahas konser untuk album ketiga Iriana. Bukan hanya mereka berdua, ada Febi dan Ishana. Mereka duduk di sofa sebuah ruangan khusus.
“Minggu depan kita bisa mulai acaranya. Aku harap tiket terjual habis, dan album barumu terjual laris. Jika tidak, kita hanya akan untung sedikit,” ujar Ishana.
“Pasti laris dan bisa melebihi Sherin. Ah, aku tidak sabar menantikan hari itu ... ” kata Iriana merasa kemenangan di depan mata. Padahal masih jauh di belakang.
“Aku berharap begitu,” Ishana menghela napas, pekerjaan mereka akan semakin sibuk. Ketiganya mengobrol serius sementara Febi hanya mendengarkan sesekali menguap karena ngantuk.
“Kamu dimana?” tanya Grisel di ujung sana.
“Saya sedang sibuk,” Rainer berbicara dengan bahasa formal, meski terlihat biasa tapi yakinlah bahwa dada Rainer berdebar-debar takut Iriana bisa mendengar.
“Kok kamu ngomongnya gitu? Rai, aku lupa kemarin mau tebus obat di apotek, apa kamu bisa bantu aku?” bujuk Grisel di sana, ia tahu bahwa Rainer sedang bersama dengan Iriana. Terbukti dengan cara bicara Rainer yang berubah.
“Maaf, tidak bisa sekarang,” kata Rainer.
Grisel mencebik. “Sayang ... aku harus cepat-cepat minum obat, kandunganku belum kuat. Kata dokter aku harus banyak minum vitamin. Apa kamu lupa aku sedang hamil? Sebenarnya aku tidak mau merepotkan kamu, tapi aku sulit untuk keluar rumah karena perutku selalu mual.”
“Iya, saya akan menemui Anda setelah makan siang.”
Grisel semakin kesal. “Kalau kamu tidak datang sekarang jangan harap kamu bisa bertemu aku lagi!” ancam Grisel, seketika membuat Rainer panik.
__ADS_1
“Baik-baik, saya ke sana sekarang.”
Setelah sambungan terputus, Iriana bersuara, “Siapa?”
“Temanku, dia bilang ada urusan yang sangat penting. Ana, aku minta maaf tidak bisa mengajakmu untuk makan siang bersama, aku benar-benar harus segera pergi.”
Tanpa menunggu respon dari Iriana, Rainer mengambil jaz di sandaran sofa dan keluar dari ruangan. Sementara Iriana mendengus kesal, dan Ishana hanya bisa menenangkan.
Rainer pergi ke rumah Grisel, sesampainya di sana Rainer mengetuk pintu rumah dan tak lama kemudian di buka. Nampak Grisel dengan wajah pucat dan pakaian tidur yang cukup berantakan.
“Kamu kenapa?” seketika Rainer panik.
“Aku barusan muntah lagi, tapi untungnya kamu datang. Aku sungguh butuh obat itu,” kata Grisel dengan suara lemah.
Rainer masuk ke dalam rumah Grisel, memeluk wanita itu dan merasa kasihan. “Kalau begitu kamu siap-siap saja, kita ke apotek sekarang.”
Grisel senang, dia mengangguk dan dengan cepat mengganti pakaiannya. Masa bodoh walaupun belum mandi, dia hanya menyemprotkan parfum di beberapa titik agar tubuhnya tetap wangi.
Rainer menuntun Grisel masuk ke dalam mobil, mereka melaju menuju apotek terdekat. Grisel memberikan secarik kertas berisi resep obat. Rainer sendiri yang menebus sementara Grisel menunggu di dalam mobil.
“Aku tiba-tiba mau makan mangga muda,” kata Grisel ketika Rainer sudah kembali masuk ke dalam mobil.
“Apa itu ngidam?”
“Iya.”
Rainer mengangguk, mereka kemudian melanjutkan perjalanan. Rainer memarkirkan mobilnya di depan supermarket, membawa Grisel masuk untuk memilih sendiri buah yang di inginkan.
Sepanjang jalan Grisel memeluk lengan Rainer, terlihat sangat manja dan itu membuat Rainer senang. Tanpa sepengetahuan Rainer, ada seseorang yang memotret kemesraan mereka.
__ADS_1