Vengeance Of Love

Vengeance Of Love
Chapter 78


__ADS_3

Bukannya marah Sherin malah tersenyum, hal itu membuat Ravin heran. Harusnya Sherin marah atau cemburu? Tapi ini tidak.


“Kenapa senyum?”


“Memangnya tidak boleh?” Sherin balik bertanya.


“Kamu tidak marah?”


“Buat apa marah? Oh, soal Prisha cinta pertama kamu?” Ravin mengangguk.


“Dia hanya cinta pertama kamu tapi yang sekarang menikah denganmu 'kan aku.”


Ravin tertegun, kemudian dia ikut tersenyum. Ravin memajukan wajahnya dan mencium kening Sherin lalu turun ke bibir. Ciuman yang awalnya lembut kini menuntut, Ravin menggigit bibir Sherin membuat Sherin meringis lalu membuka mulutnya.


Kini Ravin dengan leluasa mengeksploitasi isi mulut Sherin, mereka saling bertukar saliva. Seolah terbawa suasana, Sherin melingkarkan tangannya di leher Ravin. Sementara Ravin menahan tengkuk Sherin.


Angin berembus lembut lewat balkon yang terbuka, terasa segar saat menyentuh kulit namun tidak bagi dua pasangan baru ini. Bukannya segar malah terasa panas, meskipun AC menyala dan cuaca diluar mendung.


Tok Tok.


Suara ketukan pintu membuyarkan semuanya, Ravin dengan berat hati melepaskan ciuman panas itu. Tatapannya sendu ditambah kesal.


“Siapa?” teriak Ravin.


“Mama ... mau panggil Sherin turun. Kalian ini ngapain lama banget di dalam? Pintu juga kenapa harus di kunci? Lagian Ini masih siang lho.”


Mendengar itu Sherin tersenyum malu, wajahnya memerah. Dia pukul dada Ravin pelan. “Ada apa, Ma?”


“Mama mau ngobrol sebentar sama Sherin. Boleh pinjam dulu 'kan?”


Sherin berjalan ke arah pintu dan membukanya, di sana Dina menatap Sherin dari atas sampai bawah. Lalu tersenyum membuat Sherin semakin malu.


“Memangnya aku barang?” Sherin kesal.


“Lagian kalian berdua ini nggak tahu waktu. Nanti malam dilanjut, sekarang masih siang.”


“Apaan sih, Ma.”


***


Malam harinya, Sherin keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di kepala. Sementara tubuhnya terbungkus oleh kimono. Sherin berjalan menuju meja rias, dia membuka handuk lalu mengeringkan rambut menggunakan hair dryer.


Tak lama setelah itu Ravin datang, dia baru saja menemui sang ayah. Ketika masuk, Ravin tertegun melihat Sherin. Rasanya sedikit tak biasa melihat ada seorang wanita di kamarnya, itu karena dia sudah terbiasa sendiri. Tapi, sekarang sudah ada Sherin, istrinya.


Ravin melangkah mendekati Sherin yang baru saja meletakkan hair dryer. Ravin memeluk Sherin dari belakang dan mencium aroma shampo dari rambut Sherin membuat Sherin terkejut.

__ADS_1


“Kapan datang?” Sherin menoleh.


“Barusan.” Seolah mendapat kesempatan, Ravin langsung menyambar bibir Sherin.


Kini pria itu tak mau menunda lagi, dia gendong Sherin tanpa melepaskan ciuman. Ravin meletakkan Sherin di atas ranjang, hal yang paling membuat Ravin senang adalah Sherin hanya mengenakan kimono. Jadi tak perlu susah-susah untuk menanggalkan pakaian.


Ravin melepaskan ciuman dan menatap Sherin lekat. “Boleh?” tanyanya dengan suara serak.


Sherin menelan ludah, saat ini hanya bisa menganggukkan kepala. Rasanya Ravin ingin bersorak senang tapi ditahan, dia kembali meraup bibir Sherin dengan menuntut.


Keduanya memejamkan mata, saling menikmati sebelum benar-benar melakukan penyatuan. Kini tangan Ravin tak tinggal diam, dia menarik tali kimono Sherin membuat kimono itu longgar, dan menampilkan tubuh Sherin yang hanya terbalut benda berbentuk segitiga juga kacamata.


“Pelan-pelan, ya,” pinta Sherin, takut Ravin kelepasan karena baginya ini yang pertama.


“Iya, Sayang.”


Mendengar itu Sherin tersenyum malu, di telinganya terdengar romantis. Kembali ke kegiatan awal, Ravin menghujani wajah Sherin dengan ciuman. Lalu turun ke leher, membuat tanda kemerahan di sana. Sherin hanya bisa meringis, meski perih tapi rasanya nikmat.


Tanpa sadar Sherin mengeluarkan suara yang begitu merdu ditelinga Ravin.


“Engh ... ”


Ravin semakin bersemangat, dia menanggalkan benda yang menghalangi kegiatan mereka. Melihat dua gundukan itu membuat Ravin menelan ludah. Pertama kali dia melihat ini. Penasaran dengan rasanya, Ravin melahap seperti bayi yang sedang kehausan. Sementara satu tangannya meremas bagian yang lain.


Sherin menelan ludah. “Apa bisa masuk?” tanyanya polos dengan nada ragu.


“Bisa.” Ravin meyakinkan.


Senjata sudah siap memasuki lubang, Sherin ketakutan tapi mencoba rileks. Mengerti dengan keadaan sang istri, Ravin lekas mencium bibir Sherin membuat Sherin terhanyut dalam kenikmatan. Awalnya susah karena lubang itu terlalu sempit sampai Sherin menjerit kesakitan, air mata wanita itu jatuh dan segera Ravin seka.


“Tahan ya.”


“Sakit!” Sherin memukul dada Ravin.


“Aku juga sakit!” keluh Ravin.


Hingga Ravin mencoba sekali lagi. Memasukkan miliknya ke-kepunyaan Sherin. Akhirnya keduanya berhasil menyatu, Sherin bernapas lega. Belum apa-apa keringat sudah menetes. Pelan-pelan Ravin mulai permainan mereka. Awalnya memang pelan tapi semakin lama semakin cepat. Napas keduanya memburu saat sudah mencapai akhir.


Senjata Ravin sudah siap melepaskan peluru kemudian Ravin ambruk di samping Sherin setelah permainan pertama mereka selesai. Ravin mengecup kening Sherin cukup lama.


“Terima kasih, Sayang.” Ravin memeluk Sherin erat, sementara Sherin hanya menganggukkan kepala. Tubuh mereka masih polos di bawah selimut. Ketika beranjak, Ravin melihat ada bercak darah di seprai dan itu membuatnya tersenyum bahagia.


Setengah jam kemudian mereka kembali melakukan olahraga, bersama-sama merasakan nikmatnya surga dunia hingga mencapai pelepasan yang entah sudah berapa kali.


***

__ADS_1


Sementara di tempat lain, Iriana tengah mengamuk. Dia memukul jeruji yang terbuat dari besi. Tapi, teriakannya seperti tak terdengar di telinga penjaga.


“Lepaskan aku! Aku tidak bersalah!!”


“Apa kalian tuli?! Aku tidak bersalah. Cepat buka pintu ini!” teriak Iriana.


Salah satu wanita yang juga seorang tahanan maju dan memukul belakang kepala Iriana.


Plak.


“Akh ... apa yang kau lakukan berengsek?!”


“Heh! Diam lo! Suara lo udah kayak monyet minta makan. Ini penjara bukan hutan! Lo pikir kita nggak keganggu sama suara, lo?”


“Terserah aku mau teriak apa tidak,” balas Iriana, ia hendak memukul tahanan itu tapi langsung di tahan oleh tahanan lain yang merupakan seorang gadis berhijab.


“Sudah tahu ini penjara tapi kalian malah bikin ribut. Sekarang sudah malam, lebih baik tidur dari pada teriak-teriak tidak jelas.”


Iriana menarik tangannya, ia menatap rendah pada gadis itu. “Halah! Nggak usah ngatur-ngatur kamu!” tunjuk Iriana.


“Maaf, Mbak. Saya bukan mengatur, hanya mengingatkan saja. Lagian percuma, Mbak, kalau mau teriak sampai suara habis pun nggak bakal di gubris sama penjaga.”


“Tahu nih! Otaknya nggak di pakai buat mikir, dia pikir suaranya bagus, merdu juga kagak! Nggak tahu kalau itu ganggu orang yang mau tidur! Udah berbuat kejahatan tapi nggak mau ngaku salah,” ujar wanita yang tadi memukul belakang kepala Iriana.


“Diam kamu! Aku memang tak bersalah, lagian aku juga korban. Aku tertembak dua kali tapi malah aku yang di tahan. Aku tidak salah.” Iriana terus mengilah, merasa dirinya tidak bersalah.


“Nggak bersalah tapi dipenjara.” Wanita itu tertawa lalu pergi, sementara Iriana mencak-mencak.


Wanita itu menoleh dan menatap gadis berhijab. “Ngapa lihat-lihat?!”


Gadis itu tersenyum. “Ah, maaf. Saya hanya sedang berpikir,” ucapnya.


Iriana berdecih. “Pergi sana! Jangan ganggu aku. Sama-sama tahanan sok baik, pakai hijab pula!”


Gadis berhijab itu hanya bisa menghela napas, setelah tak ada keributan dia pergi untuk tidur.


.


.


.


bersambung.


Gimana chapter ini? maaf kalau banyak typo, untuk nganunya juga. maklum author masih jomlo 🤫 jadi gk ada pengalaman 🤣🤣🤪

__ADS_1


__ADS_2