
Semenjak aku tinggal dengan Bu Rita aku semakin bisa konsentrasi belajar. karena aku juga bisa cukup istirahat. Bu Rita seperti ibu yang dikirim ALlah untukku, dia ternyata janda yang tidak memiliki seorang anak. Dulu suaminya seorang tentara tapi naas gugur ketika bertugas. Dia bercerita banyak tentang suaminya, keluarganya, bahkan dirinya sendiri.
Aku beruntung bisa menemukan tempat kos ini, tapi aku juga tidak meninggalkan pekerjaanku di warung Bu Asna. Aku bisa lebih lega melakukan aktifitas sekolahku tanpa harus dibentak maupun kata kasar dari keluargaku.
Terbesit dalam hatiku, ibu andai kamu bisa seperti Bu Asna atau Bu Rita gumanku dalam hati.
Aku duduk terdiam dalam kamar dengan memandang foto keluargaku, yang aku temukan dibawah kolong lemari milik ibu. semua duduk dikursi panjang dengan bapak dan ibu yang ada ditengah. Kak putri di sebelah bapak yang memangku kak Siska, sedangkan kak Rofiq disebelah ibu yang memangku Zahra. Hanya aku yang berdiri disebelah kak Rofiq.
"Mungkin kursinya tidak cukup buatku duduk" gumanku dalam hati.
Ibu biasanya adalah sosok pelindung yang penuh kehangatan dan kasih sayang, aku tidak pernah merasakannya. Malahan omelah dan cercaan yang sering aku dapatkan dari ibuku sendiri. Tapi aku yakin ibu sebenarnya orang yang baik, meski aku tidak pernah bercanda atau berbicara banyak kepadanya.
__ADS_1
"Aromamu ibu, aku tidak akan pernah lupa" kataku.
Ibu selalu beraroma bunga lavender ketika hendak ke pasar. Aku merebahkan tubuhku diatas kasur, aku harus tidur lebih awal karena besok adalah ujian nasional bagiku. Aku mulai mengantuk dan memejamkan mata.
Pagi hari aku dibangunkan oleh Bu Rita, karna sudah jam 5 pagi. aku lekas ke kamar mandi membersihkan diri, setelah itu membantu Bu Rita memasak. Dia bilang dengan jujur padaku kalau sangat suka dengan hasil kerjaku, selalu memuaskan.
"Nak citra, cepet sarapan sudah matang"pintanya padaku
"Iya Bu,,, siapp pasti habis itu semua makanan" candaku.
Aku hanya tersenyum terkekeh-kekeh.
__ADS_1
Setelah sarapan aku bersiap berangkat sekolah. Tampak Lika sudah menungguku di depan gerbang sekolah.
"Cit,,, aku takut nggak bisa nanti" renggeknya.
" Kamu sudah baca baca belum modul yang dikasih oleh semua guru'' tegasku.
"Udah" jawabnya dengan enteng.
"Ngapain khawatir, kan semua sudah disimpan dalam otak kita" tegasku.
Kami bercanda dan tak terasa bel berbunyi tanda masuk. Semua murid duduk dengan rapi menunggu pembagian soal ujian, aku mulai membaca soal satu persatu dan semuanya aku bisa memahaminya.
__ADS_1
Sudah beberapa hari berlalu, kami telah selesai melaksanakan ujian nasional. Ketika seragam sekolahku dibakar Lika memberiku seragam bekas miliknya. bahkan buku tulis dan lainya aku diberinya, katanya masih banyak dirumah. Sekarang aku tinggal menunggu pengumuman kelulusan dan wisuda sekolah. Ketika menunggu kelulusan kami diliburkan sekolah bahkan sampai satu bulan lebih. Kutunggu dengan sabar, pasti aku lulus dengan nilai yang memuaskan harapku.
Ibu, bapak aku ingin kalian juga menyaksikan kelulusanku dan hadir di acara wisudaku. Tapi itu mustahil sekali dan tidak akan pernah terjadi, air mataku menetes. Seenggaknya mereka melihat aku lulus dari sekolah, tapi aku dihiburkan oleh Bu Rita yang bersedia menemaniku waktu aku diwisuda. Perhatian Bu Rita begitu hangat, tutur katanya begitu lembut, andai ibuku seperti dia. Khayalanku melintas dalam otakku lagi dan lagi. Aku merebahkan tubuhku diatas kasur dan membiarkan diriku tertidur.