
Setelah Lika keluar dari rumah sakit dia tidak mau berbicara, hanya akan tersenyum jika melihat tuan Aslan. Kakek Raditya memberi tahu kepada tuan Aslan agar membantu pada pemulihan kesehatan mentalnya.
Kakek Raditya merasa bersalah meski itu adalah sebuah nasehat bagi anak muda yang dipikir belum dewasa pada pola pikirnya. Yang ditakutkan Lika akan bertindak diluar batas ketika dibiarkan dan tidak dihiraukan oleh tuan Aslan.
Kini Lika tidak mau keluar kamar, yang biasanya periang telah menjadi murung.
Tuan Aslan sore ini akan menemui Lika sesuai permintaan kakek Raditya. Dalam hati sangat tidak ingin dengan alasan Citra pergi karena tindakan Lika yang seenaknya saja. Tuan Aslan dalam hati tidak bisa menerima tindakan Lika pada Citra tempo hari.
"Pasti hati Citra lebih sakit ketimbang pipi yang ditampar oleh Lika" guman tuan Aslan sambil mengemudi mobil menuju rumah Lika.
Sampai di rumah Lika tuan Aslan sudah sangat hafal betul dengan tingkah Lika. Dia akan berubah menjadi sangat agresif dan sangat centil padanya. Padahal tuan Aslan sangat tidak suka dengan perempuan yang model kayak begituan. Setiap Sabtu sore sudah menjadi rutinitas tuan Aslan untuk melihat perkembangan kondisi Lika.
Di mata tuan Aslan Citra memiliki pribadi yang tidak murahan, tapi kenapa Citra mau tidur dengan tuan Aslan itu karena kerelaan masing masing. Alasan cinta dan suka sama lain tak perlu diragukan lagi diantara tuan Aslan dan Citra.
Pernah waktu berkunjung tempo hari Tuan Aslan hanya duduk dan berekspresi datar meski Lika mengoceh bercerita tentang ini dan itu. Lika berinisiatif hari Minggu besok akan mengajak tuan Aslan ke villa milik tuan Aslan. Dengan spontan tuan Aslan menolak dan dan berkata sesuatu yang membuat Lika bertindak diluar dugaan.
__ADS_1
Tuan Aslan turun dari mobil dan di pastinya Lika sudah memasang wajah senyum manis dan merias diri dengan sangat cantik. Tapi tuan Aslan tidak bergeming sama sekali malah merasa jijik melihat tingkah gadis yang kecentilan seperti itu.
"Aku sudah lama nunggu kamu kak Aslan" sapa Lika.
Tuan Aslan hanya menoleh padanya mulutnya diam seribu bahasa tanpa suara.
Sembari minum teh herbal di teras rumah tuan Aslan masih memikirkan gadis kepiting hantunya. Tuan Aslan menyadari satu hal perubahan pada Citra sebelum dia pergi meninggalkan nya. Panggilan yang tadinya cinta berubah dengan entengnya menjadi Mas.
"Kenapa aku baru sadar ya..." kata tuan Aslan dalam hati.
"Kak Aslan kita ke villa yang ada di Bogor ya..."
"Kita nginep disana, panggang barbeque disana"
"Dengerin musik sampai pagi" pinta Lika.
__ADS_1
Tuan Aslan langsung berdiri dan memperingati Lika dengan kata kata yang membuat Lika terperangah.
Tuan Aslan bersuara pelan dan mendekatkan bibirnya pada telinga Lika sembari berkata.
"Kita tidak akan pernah kesana"
"Karena disana hanya boleh dinikmati aku dan gadis yang aku cintai saja"
"Kamu tahu siapa orangnya, aku tidak perlu berbohong lagi padamu"
"Asal kamu tahu saja Lika, aku dan Citra sudah melakukanya berulang kali disana"
"Bahkan suatu saat nanti Citra gadis kepiting hantuku akan kembali ke pelukanku".
Mata Lika langsung membelalak mendengar penuturan tuan Aslan, jantungnya langsung merasa nyeri. Tapi tak disangka, Lika malah menarik wajah tuan Aslan dan mencium bibir tuan Aslan dengan paksa namun penuh hasrat birahi.
__ADS_1
Tuan Aslan langsung mendorong bahu Lika dan pergi dari rumah Lika tanpa berkata apa apa lagi.