Wanitaku Pejuang Hebat

Wanitaku Pejuang Hebat
Ungkapan perasaan seorang Lika


__ADS_3

Siang itu begitu teriknya, sampai sampai AC dalam ruangan toko diturunkan lagi. Tampak pengunjung masih ramai untuk menyambut Hari raya tahun baru bagi yang merayakan.


Kalau aku tahu tuan Aslan juga akan merayakannya selepas menyelesaikan semua pekerjaannya. Tiba tiba ponselku bergetar dalam saku celana, segera kurogoh dan ada pesan WhatsApp yang masuk.


"Lika nanti siang aku mau makan siang bareng sama kamu. Aku tunggu di restoran udon kesukaanku. HARUS DATANG.."


Mungkin hanya sekedar makan biasa batinku.


Lika, aku teringat dengan sikapmu terhadap tuan Aslan diacara ulang tahun tuan Aslan tempo hari dulu. Aku yakin kamu mencintai tuan Aslan, Aku akan mundur jika memang itu benar adanya.


Tatapan yang ingin memiliki, itulah yang kudapat dari sorot mata Lika. Kalau mau bersaing dengan Lika. Tentu saja aku bak semut diinjak gajah. Memang sudah hampir dua tahun kami tidak pernah bertemu semenjak kelulusan waktu SMA dulu.


Tuan Aslan aku memang harus menahan cintaku padamu untuk Lika. Karena berkat dia pula aku bisa berpakaian layak.


Drttt


Drtt


Drttt

__ADS_1


Kurogoh kembali dan ada pesan yang sangat menohok dari Lika.


"Kasih saran dong citra. Aku mau nemuin gebetanku dan sedang usaha pdkt sama dia".


O.... ternyata Lika ingin aku memberinya sebuah masukan untuk ketemuan pdkt nya toh dalam hati aku bergumam.


Jam istirahat telah datang, aku langsung menuju restoran udon di lantai dasar. Kutemui Lika dan kusambangi dia yang sudah duduk manis di kursi restoran itu.


"Lama nunggu aku Lika" tanyaku.


"Enggak baru sepuluh menitan cit.." sahut Lika.


"Terserah, samain aja dengan kamu Lika" jelasku.


Lika memanggil pelayan dan memilih menu yang ingin dipesanya. Disaat kamu asyik mengobrol teleponku bergetar kembali. Dan itu dari tuan Aslan yang mengirim pesan.


" Citra cantik... nanti kita dinner romantis ya.. karena kemaren waktu ulang tahunku kita gak sempat dinner romantis".


Ditambah emoticon senyum dan hati.

__ADS_1


Aku tidak membalasnya ataupun hanya sekedar membuat alasan untuk menghindari tuan Aslan. Toh dia tidak suka penolakan dari siapapun, maklum merasa banyak uang kali ya tuan Aslan.


Kulihat Lika juga sibuk dengan ponselnya. tidak lama kemudian dia menunjukkan foto seray berkata padaku.


"Lihat Lika, dia adalah orang sangat aku sukai. Aku dari dulu sangat suka padanya waktu masih aku SMP dulu. Bagiku dia itu tampan pintar jiwa sosialnya tinggi gak pernah pamer harta. Pokoknya aku suka sama mas Aslan ini. Nanti kapan kapan temenin aku nyariin kemeja dan jas buat mas Aslan ya" kelas Lika panjang lebar.


Namun hatiku begitu terkejut dan sangat pedih. Inilah alasanku mengapa aku tidak pernah berharap lebih pada seseorang, apalagi seperti tuan Aslan. Aku sangat tidak cocok dengan tuan Aslan. Sudah kuputuskan aku harus mundur dan mengalah untuk sahabatku Lika.


Pelayan datang membawa pesanan Lika. Uang tadinya aku ngiler banget sama udon ditempat ini seleraku jadi sirna tak ingin memasukkan makanan dalam mulutku. Apa ini efek dari patah hati atau dari cemburu. Aku tidak tau dengan pasti.


"Ayo citra habiskan ya" tegas Lika.


"Eh... iya Lika" jawabku.


Aku mulai makan, tapi tak selahap biasanya. Aku paksa makanan itu untuk masuk ke mulutku, jiwaku berusaha pasrah dengan fakta bahwa tuan Aslan dicintai oleh Lika.


Dalam hati sambil makan aku bergumam sendiri pada diriku sendiri.


"Tidak apa apa citra, kamu baik baik saja. Pasti bisa ikhlas. Lapangkanlah jiwamu untuk kebaikanmu sendiri. Aku harus sadar bahwa aku benar benar tidak pantas dengan hubungan percintaan bersama tuan Aslan.

__ADS_1


Ikhlas yang akan membuatku kuat dengan semua kenyataan ini.


__ADS_2