
Setelah memastikan keadaan Lika sudah stabil dan tidak ada masalah apapun kakek Raditya menelpon tuan Aslan dan memintanya untuk menemuinya segera.
Karena kejadiannya seperti yang dijelaskan kakek Raditya tuan Aslan pun beranjak dari kursi kantor dan pulang menuju rumah. Tuan Aslan bertanya tanya apa yang sangat penting sehingga kakek menyuruh pulang dengan segera.
Bahkan kakek tidak mau menjelaskan lewat telephone. Apa keadaanya sangat genting, tapi suara kakek terdengar tenang tenang saja.
Sampai di rumah tuan Aslan langsung menemui kakek Raditya. Tuan Aslan sangat paham betul sikap kakek, meski ada sesuatu yang sangat genting dan mengkhawatirkan kakek mampu meredam suasana dengan cara bicaranya.
"Kakek, apa ada sesuatu" tuan Aslan tidak perlu basa basi pada kakek Raditya.
"Aku ingin menyampaikan sesuatu dan jika ingin bertindak. Bertindaklah dengan bijak" kata kakek Raditya dengan muka yang sangat serius.
"Apa kek, apa ada masalah dengan perusahaan. Atau dewan direksi pemegang saham ingin aku turun dari posisiku sekarang" pertanyaan tuan Aslan terus beruntun.
Kakek Raditya pun buka suara dengan wajah yang sudah kembali tenang, dan tidak seserius tadi.
"Kamu tahu Lika itu teman dekatnya Citra''
__ADS_1
"Kamu seharusnya peka dengan tindakan Citra yang tiba tiba menghilang"
"Karena dia ingin melindungi nyawa seseorang"
"Kamu pasti tahu kalau orang yang ingin dilindungi oleh Citra adalah Lika bukan"
" Menurutku, Citra sudah berfikir bijak untuk memilih menyelamatkan hidup seseorang"
"Tapi, Citra juga mengorbankan kebahagiaanya demi balas Budi ya pada Citra"
Tuan Aslan pun termenung dan memikirkan kata kata kakek Raditya barusan. Tuan Aslan paham betul pemikiran kakek yang berusaha memahami jalan pikiran kekasihnya Citra untuk bertindak dengan bijaksana.
"Pikirkan baik baik apa yang kakek bicarakan, kmu sudah dewasa jangan buat pengorbanan Citra sia sia"
"Aku mengerti betul perasaan Citra terhadap keluarga Lika dan keluarganya"
"Dan sekarang Lika ada di rumah sakit, jenguk dia"
__ADS_1
"Lika masuk rumah sakit gara gara syok dengan perkataan kakek tadi sore"
kakek Raditya pun pergi dari hadapan tuan Aslan dan berjalan menjauh menggunakan tongkat.
Kini Aslan mulai memahami kenapa akhir akhir ini ketika dihubungi lewat telephone maupun ketika bertemu panggilan "Cinta" menjadi kata "MAS".
Tuan Aslan berfikir keras untuk mencari jalan keluar polemik masalah hidup pribadinya. Semua bisnis yang dia jalani selalu menang tender dan menghasilkan laba yang tak terhitung nilainya. Tapi untuk masalah Citra kenapa begitu pelik dan serasa beban berat di kedua pundaknya.
Akhirnya malam itu juga tuan Aslan menuju rumah sakit setelah membersihkan diri. Dalam perjalanan pikirannya berkecamuk, tuan Aslan hanya butuh penjelasan dari Citra sendiri. Tapi sekarang penjelasan itu tidak akan dia dapat karena orang yang memberi penjelasan sudah hilang ditelan bumi.
Sampai rumah sakit semua perawat memuji kharisma dan ketampanan tuan Aslan. Dan itu membuat heboh seluruh rumah sakit, dan hampir membuat kegaduhan. Ya tuan Aslan Hadi Mega Santosa, salah satu raja bisnis yang ada di tanah air. Bisa dibilang tuan Aslan itu idaman semua kaum hawa.
Sampai di bangsal milik Lika, tuaan Aslan masuk dan melihat Lika duduk di ranjang sambil melamun. Bahkan kedatangan tuan Aslan tidak disadari oleh Lika. Baru setelah tuan Aslan memanggil nama Lika dia mau menoleh dan tersenyum.
Karena bahagianya ada lelaki impiannya Lika langsung memeluk tuan Aslan tanpa memperdulikan tuan Aslan yang mencoba menghindar.
Tuan Aslan hanya bisa membiarkan Lika memeluknya dengan tatapan dingin dan datar. Itu menunjukkan ketidak sukanya pada Lika.
__ADS_1