Wanitaku Pejuang Hebat

Wanitaku Pejuang Hebat
kelulusan yang menyingkap kebenaran


__ADS_3

Penggumuman kelulusan telah tertempel di depan kantor sekolah. Semua murid bersorak ketika dirinya lulus, termasuk aku dan Lika. kami melompat lompat kayak anak kecil yang mendapatkan hadiah.


"Citra kita lulus" kata Lika


"Iya iya kita berhasil" sahutku.


Kami berpelukan dan tak terasa air mata kami jatuh, kami menangisi satu sama lain. Kami tidak percaya perjuangan kami benar benar terbayar. Terutama aku, acara wisuda sudah diumumkan hari apa dan bertempat dimana.


Satu Minggu setelah kelulusan, aku sibuk memilih salon rias wajah untuk persiapan wisuda. Akhirnya wajahku selesai dirias dan Bu Rita dengan sabar menungguku dari jam 6 pagi tadi.


"Sudah selesai mbak" kata tukang salonya.


"Iya mbak Terima kasih" kataku.


""Aduh,,, lihat cantiknya kamu nak citra" kagum Bu Rita.


"Makasih Bu Rita" sahutku.


"Ayo kita berangkat sekarang" kata Bu Rita.

__ADS_1


Kami menuju gedung aula balai kota, karena acara wisuda digelar disana. Karena tempat itu melewati pasar, aku berniat mampir ke warung Bu Asna untuk berapamitan ke acara wisuda. Dan Bu Rita bersedia mengantarku, sesampai disana aku dapati Bu Asna sedang meracik bumbu dapur. Aku segera masuk dan memanggil Bu Asna


" Bu Asna" panggilku.


"Iya,,, " sahutnya sembari menoleh ke arahku.


"Saya mau diwisuda Bu,,, aku tidak akan sampai sejauh ini kalau Bu Asna tidak memberiku pekerjaan ini" kataku sambil kucium tangan Bu Asna.


"Tidak nak, itu semua sudah rezekimu" jelas ya.


"Doain aku Bu semoga lancar acaranya" pamitku pada Bu Asna.


"iya,,, semoga kelak kamu bernasib baik ya nak" pesan Bu Asna.


"Waalaikumsallam" sahutnya.


Kami menuju tempat dimana wisuda sekolah digelar. Acara berjalan begitu hikmad dan berkesan, begitupun dengan Lika dia merasakan hal yang sama. Setelah beberapa jam, akhirnya acara selesai, dan ada tukang foto bila ingin berfoto. Aku melihat sekeliling ku murid lainya didampingi oleh kedua orang tua mereka. Tak apalah kan ada Bu Rita yang mendampingiku, ku anggap dia adalah ibuku meski tidak melahirkan ku.


"Eh,,, kamu citra kan..." aku dikagetkan suara.

__ADS_1


"Iya benar" kataku.


Ternyata adalah Bu Siti pemilik warung dipojok jalan gang kampung kami. Aku baru ingat anaknya juga bersekolah ditempat ini juga.


"Katanya kamu hamil, apa itu benar cit" tanyanya.


"Itu berita bohong Bu, dan itu tidak benar adanya" sahutku.


"Semua orang dikampung pada bicarain kamu lho!"kata Bu Siti.


"Gak papa Bu, yang penting aku sekarang sudah lulus. Dan akan berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik lagi" kataku.


"Aku kasian liat perlakuan kedua orang tuamu ke kamu nak citra" sahutnya lagi.


"Tidak apa apa itu membuat aku menjadi orang yang kuat dan nantinya bisa lebih bijaksana lagi untuk kedepannya" kataku lagi.


"Aku heran lho sama ibu bapakmu, kok bisanya menghubungkan nasibnya sama kamu. Tak kasih tau ya nak tentang orang tua mu tapi jangan marah" jelas Bu Siti padaku.


"Iya gak bakalan Bu" sahutku.

__ADS_1


Bu Siti mulai bercerita dari awal ibu hamil aku perubahan ekonomi keluarga berubah. Bapak sering dipecat dari tempat kerjanya, baru seminggu kerja sudah dipecat. Cari pekerjaan baru dipecat lagi dan berulang beberapa kali. Ternyata bapak sering dipecat karena sering kepergok bermalas malasan waktu jam kerja. Itu penyebab utamanya.


Dan ibu karena ingin untung besar ketika berjualan, sayur yang layu dan yang hampir busuk dijual dengan harga mahal di pasar. Itu penyebab ibu bangkrut berdagang di pasar, dan dengar dengar para pedagang lain tidak suka dengan ibuku karena cara bicara ibu yang selalu nyinyir.


__ADS_2