
Suasana rumah semakin kotor dan tak terurus semenjak citra diusir oleh bapaknya. Bayangkan saja, biasanya sebelum jam enam pagi lantai sudah tersapu bersih. Cucian baju sudah dijemur. Piring kotor sudah tidak menumpuk di wastafel. Makanan sudah siap santap di meja makan. La ini jam enam pagi waduh rumah kayak kapal pecah. Bahkan cucian yang sudah diangkat dari jemuran kak Siska maupun kak putri gak mau melipat dan ngrapiin. Pokoknya parah banget malasnya. Mana ada lelaki yang mau nikahin cewek kek gitu, gak bisa ngurus rumah.
"Kamu yang nyapu put" kata mbak Siska.
"Enak aja... kamu aja mbak" jawab ketus putri pada kak Siska.
"Ogah kamu aja, lagian siapa suruh kamu beresin rumah. Itukan tugas si citra" ketus mbak Siska.
"Eh... kamu lupa apa idi*t ya mbak siska, citra sudah diusir ma bapak"jawanya mbak putri tak kalah ketus.
"Lagian kalau gak mau beresin rumah ibu nanti pulang dari pasar juga beresin sendiri kayak biasanya" jawab mbak Siska sambil asyik mainan hp.
__ADS_1
"Iya ya.. ngapain juga repot dan capek beresin rumah. Ini kan tugas ibu rumah tangga alias ibu" cerocos mbak putri.
"Mending duduk sini nyantai main hp ma aku" ajak mbak Siska sambil menepuk nepuk kursi sebelah yang masih kosong.
Heran juga keadaan rumah berantakan tapi mereka nyaman sekali. Kalau aku pasti sudah pecah ni kepala karena pusing lihat semuanya kotor. Mereka tidak berpikir kalau pulang dari pasar ibu pasti capek, pulang kerja cari nafkah dirumah disuguhi pemandangan yang bikin kepala cemot cemot dan serasa ingin emosi.
Mbak Siska dan Mbak Putri asyik sendiri dengan ponsel masing masing tanpa ada rasa ingin membantu orang tua meski hanya beres beres rumah atau sekedar melipat baju. Ruangan yang dulunya aku gunakan untuk tempat tidur memang bersih dan itu digunakan untuk menumpuk baju. Astaga kalau dibuka tirainya dan dilihat Kayak kapal pecah. Tepatnya bisa dibilang kayak sarang burung. Pasti yakinlah ada tikus dan kecoa yang bikin rumah disitu. Maklumlah rumah dengan kondisi seperti itu sejak citra diusir dari rumah dan itu sudah berjalan enam bulan lebih.
Pintu rumah dibuka, sekarang sudah jam dua siang biasanya ibu memang sudah pulang jam segini kalau daganganya sudah habis. Ibu hanya geleng geleng kepala melihat kondisi rumah. Gimana tidak kayak tempat sampah, dilantai sana sini banyak bungkus makanan berserakan.
"Siska putri bantu beresin rumah kenapa sih kalian gak mau. Kalian kan tau ibu itu kerja" ketus ibu.
__ADS_1
"Ya elah Bu gitu aja marah, kan itu tugas ibu buat ngurus rumah. kami kan anak yang tugasnya hanya seneng seneng dan makan" jawab kak Siska.
"Kalian pikir ibu gak capek habis kerja langsung beresin rumah. Kalau gitu kalian yang kerja ibu yang beresin rumah" hardik ibu.
"Lho gak bisa gitu Bu... cari nafkah itu tugas orang tua" celetuk kak putri.
Edan... ada aja jawabnya nih anak batin ibu. Ibu sudah tau watak dari mbak Siska dan Mbak Putri. Semakin ditekan dan dipaksa mereka bakalan semakin menjadi jadi, mulai dari perkataan maupun tindakan. Pernah ibu maksa mbak Siska cuci piring sambil mengomel, bukanya beres eh... semua piring pecah terbelah dilantai akibat di banting sama mbak Siska.
Sekarang mungkin ibuku. Ya ibu Zulaikha baru menyadari betapa membantunya keberadaan ku dirumah itu. meski semua anggota keluarga mengecap aku sebagai anak pembawa sial. Seenggaknya bisa meringankan beban ibu untuk pekerjaan rumah, dan membantu bapak menekan biaya untuk hidup maupun sekolahku.
Karena apa aku jarang sekali makan masakan ibu meski setiap hari aku bantu masak di dapur, apa mungkin ibu berfikir toh citra sudah bisa cari uang sendiri buat hidup dan sekolahnya. Mungkin itulah pikiran ibu tentang aku.
__ADS_1