
Aku sampai di rumah, suasana terlihat sepi sekali. mungkin ibu ke pasar dan ayah lagi kerja dengan mas Rofiq. Terdengar suara tawa cekikikan dari dalam kamar kedua kakakku. Aku tidak menggubrisnya, dan langsung masuk kamar begitu saja. tiba tiba terdengar aku dipanggil kak putri. Baru saja aku mau duduk gumanku dalam hati.
" citra citra...." bentaknya dari kamar
"Iya... iya..." jawabku sambil lari menuju kamar kakak kakakku.
"Kamu itu punya telinga gak sih, dipanggil dari tadi kok budeg" bentak kak Siska.
" Iya dengar dengar kok kak..." sahutku.
" Jawab terus, mulutmu gak bisa diem ya..." bentak kak putri lagi.
" Ambil tu baju kotor diatas ranjang dan cuci sana" perintah kak putri.
Aku merangkak naik ke kasur untuk mengambil baju kotor itu, lagi lagi tindakanku memancing amarah dari kakak kakaku.
__ADS_1
"Siapa suruh kamu naik ke kasurku" bentak kak putri.
"Maaf kak, maaf kak..." jawabku sambil menundukkan kepala.
Aku segera turun dari kasur mereka.
" Lama amat sih turunnya, nanti kasurku bau kotoran kayak kamu tau" kak putri marah besar.
masih belum berdir tegak kak putri menendang kaki kananku pas dibawah lutut dengan sekeras kerasnya. Aku terjatuh dan meringis kesakitan luar biasa.
"Maaf maaf enak aja kalau kamu ngomong, dasar pembawa sial" bentak kak Siska.
"Cepat pergi sana, aku muak lihat kamu" kak putri mengusir aku dari kamarnya.
Tapi naas, aku merasakan ada tulang kakiku yang bergeser. Aku berjuang berdiri dan menahan sakit yang luar biasa serta tangisku. Aku keluar dari kamar dengan tertatih taruh, kudengar kedua kakakku tertawa terbahak bahak melihat aku seperti ini.
__ADS_1
"Biar tau rasa si citra" kata kak Siska.
"Iya makanya jadi anak biar gak belagu, gara dia main am temenya lupa pulang kita disuruh ibu beresin rumah" kata kak putri.
Aku mendengar ocehan mereka dan terus tertawa tanpa henti hentinya. Aku masuk kamar, sakit yang aku rasakan begitu luar biasa. Teringat dibenakku aku selalu membeli obat anti nyeri untuk jaga jaga ketika aku sakit. Aku cari dan langsung aku minum, meski menangis tidak ada yang peduli untung besok masih ada tiga hari untuk libur sekolah. Jadi aku tidak perlu izin untuk sekolah, tapi dengan pekerjaanku....
Setelah minum obat aku tertidur pulas dan tidak merasakan sakit. Aku terbangun pukul 12 lewat. Aku berusaha berdiri dengan sekuat tenaga dan menaha sekit, nanti aku akan beli salep untuk luka lebam di apotek gumanku dalam hati. Aku mulai keluar rumah dengan berjalan tertatih tatih, tak apalah mungkin aku pantas mandapatkanya.
Dalam perjalanan hatiku sakit sekali atas perlakuan kedua kakakku. Kenapa mereka begitu terhadapku, tetapi kepada Zahra tidak dijaga bak permata. Rasanya ingin menangis dan berontak, tapi percuma itu tidak berguna.
Kedua kakakku mungkin punya alasan kenapa tidak menyukai aku,, dan selalu berkata bahwa aku anak pembawa sial. Bahkan ibu dan bapak juga sering berkata seperti itu. Padahal Allah sudah mentakar rezeki setiap manusi yang hidup di bumi ini.
Aku menangis dalam diam sambil menuju pasar untuk bekerja. biasanya perjalanan hanya butuh waktu 15 menit, sekarang butuh 30 menit karena aku berjalan pincang.
kak putri Kumalasari dan kak Siska Anggraeni terima kasih sudah menjadi saudaraku, semoga kelak kesuksesan selalu mendampingimu.
__ADS_1