Wanitaku Pejuang Hebat

Wanitaku Pejuang Hebat
Pekerjaan yang merubah nasibku


__ADS_3

Aku disarankan beli handphone oleh Nita. Aku putuskan untu membeli handphone. Meski hanya hp second dan jadul dan harganya tidak sampai 300ribu, maklum kata orang itu namanya handphone ceninit. Karena tabunganku terkuras habis untuk melunasi semua biaya sekolahku. Tak apalah yang penting masih bisa dipergunakan, nanti kalau sudah kerja aku akan membeli handphone yang lebih bagus.


Aku memutuskan untuk mencari kos kosan setelah interview pekerjaan bersama Nita. Memang mencari pekerjaan tidak mudah, apalagi lapangan pekerjaan terbatas tapi yang mau kerja banyak. Jadi teman sendiri bisa jadi saingan pikirku. Tapi aku berfikir positif aja, teman juga bawa berkah di hidup kita


Motor berhenti didepan rumah lantai tiga, dan terpangpang tulisan "Sewa kamar dan Terima kos PUTRI". Aku langsung tau itu pasti kosan yang diceritakan oleh Nita.


"Ayo cit kita masuk, lihat lihat apa cocok" jelas Nita.


"Eh.... iya" aku jawab sambil turun dari motor.


Ada ibu paruh baya yang duduk diters rumah sambil mainin handphone. Dia cantik meski sudah umur kayaknya, badanya agak gemuk tapi orangnya tinggi rata rata orang Indonesia.


"Siang Bu...." sapa Nita pada ibu itu.


"Iya, siang juga" sahurnya.


"Mau tanya Bu boleh lihat kos kosan ya tidak Bu..." jelas Nita.

__ADS_1


" Oh... iya boleh banget mari mari nak " ajaknya.


"Saya Nita Bu dan ini citra temenku" jelas Nita.


"Iya saya maretha" balasnya sambil mengulurkan tangan untuk Nita dan aku.


Kami masuk ruangan rumah itu,,, di ruang tamu ada sofa beberapa set dan satu televisi besar diujung ruangan. pikirku udah kayak bioskop nih, dan banyak mbak mbak yang menonton televisi dan acaranya sinetron.


kami terus menuju lantai tiga,,, dan ada nomer kamar 31 32 33 34 dan kami berhenti didepan pintu nomer 35. Ibu maretha mengambil kunci dalam sakunya dan membuka pintu itu, ini kamar yang masih kosong dan sebelah kiri sudah ada yang sewa, dan yang sebelah kanan kamar ini masih kosong sampai kamar nomer 40.


"Iya Bu berapa perbulan" tanya Nita.


"oh....." Aku mengangguk anggukan kepala sambil lihat kamarnya.


"Itu perorang apa perkamar Bu" tanya Nita lagi.


"perkamar dek" sahut mbak maretha lagi.

__ADS_1


Aku berdiskusi dengan Nita, kalau begitu kami hanya bayar 125 perbulan jika berdua sekamar. akhirnya kami setuju dan mengambil kamar itu dan kami bayar selama menunggu interview kerja kami.


Akhirnya kami pulang dan penuh harap semoga rejeki kami banyak dan berkah. Yang paling penting adalah kami diterima kerja terlebih dahulu. Motor melaju pulang, Nita kembali konsentrasi lagi menyetir motornya. Aku berdoa dalam hati "Tuhan itu baik, pasti aku dan Nita diberi rezeki lebih untuk pekerjaan ini"


Sampai dirumah Nita langsung pulang, dan aku mendapi sudah ashar dan Bu Rita masih sholat. Aku pelan pelan masuk rumah, Bu Rita menoleh memberi salam selesai sholat.


"Citra sudah pulang" tanya Bu Rita.


"Iya Bu..." sahutku.


"Interviewnya gimana lancar" tanyanya lagi.


"Lancar Bu,,,," sahutku.


Aku menuju kamar, aku memikirkan Bu Rita jika nanti sudah aku tinggal kerja ke kota.


Sosok Bu Rita, ibu idaman. Bagiku dia orang yang baik, meski semua tetangga mencibirnya hampir setiap hari. Pernah aku mendengar bahwa suami Bu Rita meninggal karenanya, tapi Bu Rita enggan cerita apa yang terjadi sebenarnya. Ramah, lemah lembut, penuh cinta, pengertian, pokoknya ibu idaman bagiku.

__ADS_1


Doaku semoga kelak Bu Rita menemukan kebahagiaanya yang sejati.


__ADS_2