
Sore ini tuan Aslan telah berdiri di depan rumah kontrakan Citra, rumah petak dengan ukuran enam kali delapan diantara rumah rumah rumah yang lain dan saling berdempet dempet. Ada beberapa bunga aster tertata rapi di teras rumah, rumah itu begitu mungil dan minimalis bagi tuan Aslan. Jujur saja karena tuan Aslan tidak pernah tinggal di rah yang sesempit itu.
Kini tuan Aslan menelpon seseorang agar dia bisa leluasa bertemu dengan Citra. Ternyata tuan Aslan menelpon beberapa pihak baik dari kelurahan maupun dari kepolisian. Itu semua untuk diantisipasi agar tidak ada pengrebekan oleh warga. Sudah ada polisi yang berpakaian preman berada di titik tertentu untuk menjaga keamanan.
Tuan Aslan melihat sepeda motor matik di teras rumah. Tuan Aslan mulai berfikir dan berkhayal akan menaikinya bersama Citra keliling kota Semarang. Pintu tidak dikunci bahkan terbuka lebar tuan Aslan mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
Citra yang masih menata bahan bahan mie seblak untuk orderan besok pagi telah terhenti aktifitasnya. Dia segera mencuci tangannya dan menuju ruang tamu.
"Terima kasih Ya Allah ada rezeki lagi"
"Mungkin ada yang mau order untuk acara shalawatan" kata Citra sambil berjalan menuju ruang tamu.
Tapi Citra sangat terkejut sekali, karena yang ada di hadapannya adalah tuan Aslan Hadi Mega Santosa. Laki laki yang dia ikhlaskan untuk sahabatnya demi balas Budi pada seorang Lika. Citra hendak berlari menghindar masuk kamar, tapi tuan Aslan terlalu sigap sehingga menangkap tubuh Citra dan langsung memeluknya dari belakang.
"Honey..." panggil tuan Aslan.
"Mas, jangan begini kamu sudah bertunangan dengan Lika" jawab Citra dengan ketus.
__ADS_1
"Aku tak peduli, aku sangat rindu aroma tubuhmu honey" kata tuan Aslan sambil mencium leher Citra.
"Lepaskan mas Aslan, nggak baik dilihat orang" Citra melepaskan pelukan tuan Aslan.
Tua Aslan tidak ingin kehilangan Citra lagi, dia membalik badan Citra dan mulai menghimpitnya di tembok. Kedua tangan Citra disilangkan dan dipegang tuan Aslan, nafsu tuan Aslan terlalu memburu. Tuan Aslan mulai mencium bibir Citra, tapi Citra menolak nya. Karena Citra berfikir tuan Aslan sekarang milik Lika. Tuan Aslan berhenti tidak lagi ingin mencium Citra, kini tangan tuan Aslan melepaskan kedua tangan Citra.
Tuan Aslan mulai menghimpit badan bagian depan Citra, tapi dengan spontan kedua tangan Citra langsung memegang perutnya.
"Mas,,, jangan kamu melukainya" kata Citra memohon ketika tuan Aslan terus menghimpit badanya diantara tembok dan tuan Aslan.
Tuan Aslan mundur seketika mendengar hal itu.
Citra hanya menggeleng.
"Apa itu anakku Citra, beri aku jawaban" tanya tuan Aslan lagi sedikit emosi.
"Sekali lagi kutanya Citra, apa itu anakku" tanya tuan Aslan dengan suara agak keras.
__ADS_1
Kini Citra syok dan tubuhnya bergetar karena takut tuan Aslan mengetahui yang sebenarnya. Bahwa Citra hamil ana tuan Aslan, Citra pun mulai menangis.
Dia bersimpuh di kali tuan Aslan dan menangis semakin keras, tuan Aslan sangat yakin bahwa dalam perut Citra adalah anak nya.
"Mas, meski kamu tahu anak ini adalah anakmu"
"Aku mohon mas, jangan tinggalkan Lika mas"
''Aku pergi bukan karena aku tidak sayang lagi sama kamu"
''Kalau aku tidak sayang sama kamu, mana mungkin mas aku pertahankan bayi ini demi kamu mas" Citra mencoba membela diri di hadapan tuan Aslan yang tampak marah.
Tuan Aslan memejamkan mata dan menghela nafas panjang. Tuan Aslan jongkok dihadapan Citra dan memeluknya.
Mereka berdua berdiri, tapi di luar dugaan karena terlalu syok dengan kedatangan tuan Aslan, darah segar mengalir lagi disela sela ************ kaki Citra.
"Mas,,, tidak"
__ADS_1
"Tidak,,, jangan lagi aku mohon" pinta Citra pada tuan Aslan.