Wanitaku Pejuang Hebat

Wanitaku Pejuang Hebat
Kutemui keluargaku sebelum pergi


__ADS_3

Setelah dipecat dari toko citra mulai berbenah diri. Mulai merapikan pakaian sampai membersihkan dirinya. Citra ingin pergi ke pinggiran kota Semarang, ingin memulai semua dari awal. Meski harus meninggalkan tuan Aslan citra sudah menerima hadiah terindah dari tuan Aslan.


Pikiran citra saat ini ingin pulang ke rumah. Citra ingin meminta maaf pada semua anggota keluarganya, dan ingin berterima kasih pada keluarganya. Terutama ibu yang melahirkannya walaupun kehadirannya tak berkesan dalam benak ibunya.


Citra mulai turun dari mobil travel, dan menitipkan tas nya di rumah ibu Rita semasa dia tinggal waktu SMA dulu. Citra berjalan kaki menuju rumah, tapi gang menuju rumah sangat ramai banyak orang berkerumun. Baik pria wanita dari yang tua hingga anak anak. Lho didepan pintu rumah kenapa ada polisi.


Tak lama kemudian, polisi membawa keluar bapak dengan tangan diborgol. Sedangkan ibu menangis sambil berteriak meminta mohon pada pak polisi agar tidak membawa bapak.


Tapi pak polisi tetap saja membawa bapak tanpa melihat ibuku. Citra panik apa yang terjadi, dia bertanya pada salah satu orang yang berkerumun.


"Maaf pak, kenapa pak Lukman dibawa sama polisi'' tanyaku.


"Oh... Pak Lukman memang pantas dipenjara. Masak anaknya habis diperkosa dibiarkan semalam didepan pintu rumah Sampai meninggal" tegasnya lagi.


"Siapa pak yang meninggal" tanya citra.


"Anak pak Lukman yang nomor lima mbak, parahnya lagi waktu sakit si anak gak dibawa ke dokter eh,,, malah ke dukun" jelas lelaki itu lagi.


Tanpa sadar air mataku berlinang, berarti aku tidak bisa meminta maaf pada zahra. Dia sudah meninggal. Kulihat Kaka putri dan kak Siska menangis histeris sambil berpelukan. Citra menghampiri mereka, dan memeluk kakaknya secara bergantian.


"Maaf mbak Siska, maaf mbak putri hari ini aku datang untuk minta maaf sekaligus pamit pada kalian berdua" kata citra.

__ADS_1


"Aku gak ada urusan sama kamu, cepat kamu pergi dari sini" kata mbak putri garang.


"Iya, apa mungkin bapak ditangkap polisi karena kamu pulang ke rumah" sahut mbak Siska dengan ketus.


"Pergi sana dasar anak pembawa sial" ketus mbak Siska lagi.


citra mulai pergi melangkahkan kakinya menghampiri ibunya yang sedang menangis sesenggukan. Citra bersimpuh didepan kaki ibunya.


"Ibu, citra pulang"


"Citra mau minta maaf sama ibu"


"Kalau ada salah selama citra tinggal sama ibu"


"Karena perusahaan memindahkan citra"


"Terima kasih untuk semuanya Bu"


Citra memberanikan diri meraih tangan sang ibu dan menciumnya.


Tapi ibu citra tak memandang terhadap Citra, bahkan menganggap citra tidak ada disitu.

__ADS_1


Citra beranjak pergi dan mulai mencari mas Rofik, tapi dia tidak ada.


Sekarang Citra akan menemui bapak di kantor polisi.


Sampai di kantor polisi Bapak Citra Masih didalam sel tunggu, Citra minta izin pada pak polisi untuk berbicara sebentar pada bapaknya.


Citra menghampiri bapak, dan memberanikan diri berbicara.


"Pak, Citra minta maaf jika selama ini ada salah"


"Sekalian pak Citra mau pamit untuk kerja diluar kota"


Citra mencium tangan bapak yang memegang jeruji besi


"Assalamualaikum" kata citra.


bapak Lukman hanya diam, Citra menghampiri polisi dan bertanya siapa yang melaporkan bapaknya.


Ternyata ada tiga pemuda yang menyerahkan diri dengan pengakuan telah melakukan pelecehan ada zahra. Dan para polisi masih menyelidiki siapa yang menyuruh mereka bertiga. Pak Lukman ditangkap karena lalai tidak melindungi korban dari pelecehan, malah membiarkannya sakit secara mental sampai meninggal dunia.


Akhirnya Citra paham apa yang dijelaskan polis. Citra keluar dari kantor polisi dengan perasaan yang tak bisa digambarkan. Keinginannya hanya satu dianggap di keluarganya. Tapi sekarang keputusan Citra adalah pergi dari mereka semua yang tidak bisa menghargainya.

__ADS_1


Akhirnya Citrapun pergi ke kota Semarang.


__ADS_2