
Tanpa berfikir panjang tuan Aslan beranjak dari tempat tidur dan menuju ruang tamu. Didapatinya bapak Hendri dan ibu Wati yang masih duduk bersimpuh disana. Tuan Aslan menghampiri mereka dan ikut duduk bersimpuh dihadapan mereka.
Tuan Aslan menghela nafas panjang, kemudian memandang bapak Hendri dan ibu Wati secara bergantian. Kini tuan Aslan benar benar paham dengan ambisi Lika yang ingin memilikinya.
"Om Hendri, Tante Wati, aku hanya bisa membantu demi rasa kemanusiaan bukan karena rasa kasihan''
"Asal om dan Tante tahu aku sudah memiliki orang lain dalam hatiku"
'' Mungkin sikapku akan dingin dan acuh pada Lika untuk masa depan kelak"
"Apa om dan Tante siap menerima jika aku hanya figur lelaki yang dipajang disamping Lika kelak"
"Satu lagi om, Lika memang sangat berambisi ingin memilikiku"
"Aku tahu betul itu, Lika tidak memperdulikan kalau ambisinya tercapai yang terluka hanya bukan aku saja''
"Tapi orang yang aku cintai juga om"
"Apa om dan Tante tahu siapa gadis yang sangat aku cintai''
__ADS_1
"Citra om Tante"
Jelas tuan Aslan panjang lebar.
Bapak Hendri dan ibu Wati terdiam mendengar penuturan tuan Aslan. Mereka saling berpandangan satu sama lain.
Dan akhirnya om Hendri memberi keputusan nya pada tuan Aslan demi anaknya Lika.
"Tidak apa apa jika nak Aslan hanya menjadi figur pendamping anakku Lika"
"Asalkan Lika selamat"
"Kamu benar itu adalah obsesi anakku yang salah padamu" jawab bapak Hendri.
"Berdirilah om, Tante tidak baik jika bersimpuh terlalu lama dirumah orang"
Kata tuan Aslan dengan tegas.
"Nanti saya akan pergi ke rumah sakit menemui Lika, om dan Tante pulang saja dan istirahatlah" kata tuan Aslan sambil berdiri dan meninggalkan ruang tamu.
__ADS_1
Di dalam kamar kakek Raditya duduk ditepi ranjang dan ingin mendengar keputusan cucunya.
"Apa keputusanmu nak" tanya kakek Raditya.
"Demi rasa kemanusiaan kek, aku mau menjadi figur pendamping bagi Lika"
"Setelah dia sembuh, aku akan melatihnya untuk tidak terobsesi denganku" kata tuan Aslan dengan tegas.
Tuan Aslan kembali merebahkan tubuhnya diatas kasur, kakek Raditya pun beranjak pergi dari kamar tidur tuan Aslan.
Tampak bapak Hendri dan ibu Wati sudah pergi juga dari rumahnya. Kakek Raditya menghela nafas panjang dia berharap keputusan cucunya tidak merugikan siapapun dikemudian hari.
Pukul delapan tepat tuan Aslan sudah bersiap siap akan pergi ke rumah sakit, dia ingin membantu orang lain yang membutuhkan sesuai kemampuannya. Meski dalam hati tidak ingin melakukanya, rasa kemanusiaan yang diutamakan. Apalagi melihat bapak Hendri dan ibu Wati sampai melakukan hal seperti itu demi anaknya.
Tuan Aslan tahu betul sakitnya ditinggal seseorang yang sangat dicintai dalam hidupnya.
Sampai rumah sakit tuan Aslan menuju ruang ICU, dilihatnya tubuh Lika tergolek diatas kasur dengan lemah. Peralatan medis terpasang tak terhitung jumlahnya di tubuhnya. Perawat Lika yang menjaga Lika selama ini bercerita pada tuan Aslan, kalau Lika bertindak di luar kendali. Lika ingin mengakhiri hidupnya dengan menyayat urat nadinya.
Tuan Aslan masuk ke ruang ICU, seperti mengetahui kedatanganya monitor jantung menunjukkan denyutan yang normal. Perawat langsung berlari memanggil dokter, Lika mulai menggerakkan bola matanya bahkan jari jemarinya.
__ADS_1
Dokter pun datang dan memeriksa kondisi Lika, dokter pun tersenyum. Seolah olah Lika memiliki ikatan batin yang begitu kuat pada tuan Aslan, bahkan Lika tahu kedatangan tuan Aslan meski tidak bersuara.