
Aku menginap dirumah Lika semalam, kami curhat satu sama lain. Tapi aku tidak menceritakan perihal tentang kejelekan keluargaku. Yang aku ceritakan adalah sebaliknya, yang baik baik saja agar keluargaku tidak malu. Sebenarnya hati ini sedih sekali untuk berbohong tentang keluargaku. Tapi apa boleh buat, agar Lika tidak memandang rendah keluargaku.
"Kamu kok kerja sendiri kalau keluargamu sayang ke kamu" gerutu Lika dan mukanya terlihat kesal.
" Oh,,, itu biar orang tuaku tidak kualahan untuk biaya sekolahku. Itung itung bantu orang tua selagi mampu" jelasku ke Lika.
" Aku salut Ama kamu citra,,, udah cantik, pinter, rajin, berbakti ke orang tua. Tapi sayang ada satu kekuranganmu"Lika lagi menggoadaku.
"Apa coba" tegasku.
" Kamu itu pendek,,,, masak tingginya cuman satu meter setengah" Lika menggodaku lagi.
"Emang iya... tapi gak papa yang penting sehat" tegasku.
Kalau ingat perkataan Lika kenapa aku pendek, mungkin karena stunting sejak mulai dari kecil. Aku ingin tau sekali dengan kebenaran yang ada, mengapa semua anggota keluargaku bersikap acuh tak acuh kepadaku. Mereka seolah menganggap aku tidak pernah ada diantara mereka. Terutama bapak ketika melihat aku seperti melihat kotoran saja... Tapi apalah dikata memang sudah nasib dan takdirku penuh dengan kesia siaran.
Pagipun tiba,aku bangun tepat pukul 04.15 pagi. Karena sudah terbiasa kulihat Lika masih tertidur pulas, Aku nanti kalau sudah menjadi orang sukses ingin sekali mengerjakan segala sesuatu dengan santai tanpa dibentak atau dimarahi seperti dirumah.
__ADS_1
"Lika bangun cepat udah lah nih" aku menggoyangkan badan Lika.
"Bentar lagi citra, aku biasanya bangun jam setengah enam pagi" dia kembali tidur sambil menarik selimut sampai atas kepala.
" Aku tidak bisa tidur Lika" tuturku.
" Mending bobok lagi ya" gerutu Lika.
Aku kembali merebahkan tubuhku diatas kasur yang empuk. Dirumah aku hanya memakai kasur lantai yang keras, dan itu membuat badanku pegal pegal semua. Akhirnya matahari menunjukkan wajahnya juga, aku bergegas mandi dan bersiap untuk pulang. semua sudah aku kemas dengan rapi, Lika terlihat baru bangun dan mengerutkan matanya.
" Iya nanti bapak sama ibu cari aku dan khawatir" sahutku.
''Iya, aku juga tak siap siap buat antar kamu pulang ya..." tegasnya.
Lika beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi, selesai membersihkan dirinya Lika mengajak untuk sarapan. Maklum orang kaya sarapannya roti panggang lapis dan segelas besar susu sapi segar, kayak yang aku lihat di televisi.
Selesai sarapan Lika minta izin untuk mengantarku pulang, dan papa Lika mengizinkannya.
__ADS_1
"Papa aku mau antar citra pulang" kata Lika dengan manjanya.
" Iya hati hati ya kamu dijalan nak citra" kata papa Lika.
"Iya om..." sahutku.
"Jangan lupa main kesini lagi, pintu ini selalu terbuka untukmu" kata mama Lika.
"Iya Tante kalau ada waktu pasti saya kesini lagi'' tegasku.
Setelah sarapan aku berpamitan pada mama dan papa Lika. mobil sudah hampir sampai di gang menuju rumah. Lika paham dengan yang aku pinta, mobil berhenti didepan gang dan aku langsung turun dari mobil.
"Dada sayang...." pamit Lika dari dalam mobil.
Aku hanya melambaikan tangan saja.
Aku melihat jam sudah lewat pukul 09.13 pagi. Hatiku was was terhadap oarang rumah, karena dari kemaren sore dan pagi ini aku tidak mengerjaka tugasku.
__ADS_1