Wanitaku Pejuang Hebat

Wanitaku Pejuang Hebat
Penyesalan mbak siska


__ADS_3

Hari mulai gelap ditambah suasana yang mendung. Pemakaman zahra telah berlalu dua Minggu. Rumah tampak sepi karena tidak adanya tawa canda si kecil zahra. Sementara ibu sering diam tak secerewet dulu. Bahkan kalau mbak Siska dan Mbak Putri bikin gara gara di rumah ibu malah memilih pergi dan diam. mungkin hanya berkata.


"Kalian bisa diam gak sih"


Hanya kata itu yang terlontar dan ibu berlalu pergi dari mbak Siska dan Mbak Putri. Kalau bapak tentu hanya peduli dengan pekerjaanya dan tidak merasa kehilangan. Tapi bagi setiap orang tua yang ditinggal mati anaknya pasti hatinya akan pedih dan sakit. Begitupun juga bapak dan ibu.


Tanpa sadar mbak Siska mulai menyadari perubahan pada ibu dan bapak. Dia teringat bahwa selama ini yang dikatakan para tetangga benar adanya. Bahwa anak gadis seenggaknya bantu orang tua beres beres rumah. Atau kalau belum menikah seenggaknya ngebantu perekonomian keluarga. Bukanya malah keluyuran dan hanya mikirin kesenangan sendiri. Tanpa disadari mbak Siska mulai mbuka pikirannya bahwa yang dilakukan selama ini salah. Termasuk memfitnah adiknya citra yang berujung pengusiran.


Siska menghampiri ibunya yang mencuci piring. Memang tangannya bekerja tapi tatapanya tak bergairah, mbak Siska menghampiri ibu dan mulai berbicara.


"Ibu..." tanya mbak Siska.

__ADS_1


"Hmmmm...." jawab ibu.


"Bisa kubantu Bu" mbak Siska menawarkan diri.


"Gak usah, toh ini kerjaan ibu rumah tangga kamu jadi ratu drama aja didepan" sahut ibu dengan ketus.


Mbak Siska terdiam dengan lontaran kata kata ibu. Baru pertama kali ini berbicara seperti itu dan benar benar langsung menancap pada hati mbak Siska.


"Apa iya,,, zahra waktu itu diculik sama si boy punker itu dan teman temanya" guman mbak Siska sendiri.


"Kalau iya, diapain zahra sama mereka" lagi perkataan mbak Siska.

__ADS_1


"Atau jangan jangan zahra adikku dilecehkan. tidak tidak tidak. Itu pasti tidak mungkin" mbak Siska kembali bergumam dan menyanggah perkataanya sendiri.


Pikiran mbak Siska mulai berlayar kemana mana. Memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada zahra. Bahkan mbak Siska berpikir itu semua penyebabnya adalah dirinya.


"Andai aku tidak punya rencana untuk memfitnah citra hanya karena alasan iri aku kalah cantik dari citra'' lagi mbak Siska mulai mengorek permasalahanya.


Tapi sudah terlambat untuk disesali karena zahra sudah pergi. Kini mbak Siska menyadari semuanya, bahwa penyebab dari permasalahan yang menimpa zahra karena dirinya. Penyesalan terlihat diwajah mbak Siska, kegelisahan juga tak luput dari wajah mbak Siska. Kini rasa bersalah dan penyesalan pun mulai menghampiri hati mbak Siska.


"Apakah aku penyebab zahra meninggal" tanya mbak Siska pada dirinya sendiri.


Penyesalan sekarangpun sudah tidak berguna. Baik ibu dan bapak tampak sibuk dengan pekerjaan masing masing. Bahkan ibu sudah jarang terlihat berjualan sayur dipasar, dan bapak memang tetap jadi kuli bangunan di proyek. Sifatnya tambah pemarah dari sebelumnya,kalau tidak ditanya jangan sekali kali bertanya pada bapak meski hanya hal yang sepele seperti apa bapak sudah makan.

__ADS_1


Mbak Siska terdiam dengan semua pikiran yang berkalut dalam otaknya. memikirkan keluarganya yang semakin berantakan. Apalagi kak Rofiq yang sering keluar malam dan pulang disubuh hari. Mbak Siska merasa bahwa keluarganya dari dulu memang berantakan, seperti kaca pecah tetapi masih dalam satu wadah.


__ADS_2