
Kerja sebagai kuli bangunan memang gajinya tak seberapa, apalagi harus menghidupi lima anak. Sayangnya yang satu dianggap pembawa sial oleh pak Lukman. Ya siapa lagi kalau bukan aku citra. Kadang kala pak Lukman berfikir kembali setelah mengusir anaknya citra dari rumah tersebut. Terlintas sekarang anakku bernaung dan tinggal dimana.
Pak Lukman lelaki yang arogan dan tempramental. Memang ibu Zulaikha sangat sabar mengahadapi kelakuan pak Lukman bapakku. Kenapa dibilang begitu karena dia suka nyuruh seenaknya dan apapun perkataanya harus dituruti meski itu salah atau benar. Ingat kejadian waktu ngusir aku dari rumah aku yakin sekali sepintas saja dalam lubuk hati bapaku pak Lukman tidak akan ada rasa sayang padaku. seenggaknya rasa belas kasihan.
Penjelasan....
Mungkin semua ingin tahu mengapa dulu ketika bapak mengusirku aku tidak menolak dan mohon agar tidak diusir. Salah satu nya tidak mau dengar alasan apapun dari siapapun kalau dia sudah berkata. Bahkan ibupun tak sanggup menyanggah kata bapak kalau sudah berkeputusan seperti itu.
"Ada apa kok ngomel ngomel kamu itu Bu" suara pak Lukman mengagetkan Bu Zulaikha yang menyapu lantai.
"Itu pak Siska ma putri masa bantu beresin rumah aja gak mau. Kan ibu juga kerja pak" cerocos ibu Zulaikha.
" Sekarang kamu tak tanya Bu. disini posisi ibu rumah tangga kamu atau anak anak" tanya pak Lukman.
"Ya jelas aku lah pak wong saya yang istrinya bapak" ketus bu Zulaikha.
__ADS_1
ibu langsung terdiam dan langsung faham apa yang dikatakan oleh pak Lukman suaminya. Karena ibu Zulaikha tahu betul perangai suaminya gak suka dibantah ataupun omangan yang selalu dijawab.
Mungkin pernah sekali aku tahu ibu dan bapak bertengkar hebat karena hal yang sepele.
Pada waktu itu rumah sepi. Hanya ada aku, tiba tiba bapak ibu masuk rumah berbarengan dengan cekcok Adi mulut, aku tidak begitu paham apa yang mereka bicarakan maklum orang dewasa. Tapi lama kelamaan ibu dicekik bapak Samapi tangan ibu tidak bisa melepas gengaman bapak dileher ibu. Aku hanya melihat dan diam, mungkin orang akan berkata bahwa aku goblok tidak minta pertolongan ke tetangga. Tapi itu sekarang menjadi rahasia dalam hatiku.
Pak Lukman sekali lagi karakter yang begitu keras dan tidak suka mengalah. Aku yakin Allah tidak menjadikan bapak orang yang kaya dan sukses karena sifatnya yang seperti itu.
"Bu... ibu aku buatin kopi" pinta bapak ke ibu.
"Jangan lama lama kalau bikin" celetuk bapak lagi.
"Iya... iya ini tak buatin pak" jawab ibu dari dapur.
Tak lama kemudian kopi dibawa ibu dan akan disuguhkan ke bapak. Kopi sudah diatas meja, bapak mulai mengangkat cangkir, sedang ibu sudah kbali ke dapur untuk cuci piring.
__ADS_1
Bapak perlahan meniup dan meminumnya...
"Cuih.... ni Zulaikha mau bikin aku mati ya kok kopinya asin banget" kata kata bapak terlihat marah.
"Zulaikha... Zulaikha" panggil bapak dengan marah. Ibu tergopoh gopoh menghampiri bapak.
"Iya pak ada a...." belum selesai langsung hal yang mengejutkan terjadi
Byuuurrrr.... kopi panas itu disiramkan ke dada ibu, tanpa peduli apa itu bisa melukai kulit ibu ataupun tidak. Raut muka bapak begitu geram danarah.
"Aduh aduh panas pak... salahku apa pak" protes ibuku.
"Masih nanyak lagi, tu kopi asin bukan manis. mau bikin aku mati lho" hardik bapak.
Bapak pergi dengan wajah yang begitu geram dan kesal dan meninggalkan ibu, bapak tidak peduli apa ibu terluka atau tidak.
__ADS_1