Wanitaku Pejuang Hebat

Wanitaku Pejuang Hebat
POV Ibu Zulaikha


__ADS_3

Ibu melepas baju perlahan karena dadanya perih terkena kopi panas tadi. Heran kenapa bisa semarah itu batin ibu. setelah mengoles salep dan ganti baju ibu menggambil cangkir bekas kopi tadi. Tiba tiba ada niat ingin mencicipi kopi tersebut.


"Ih asin sekali. pantesan yang minum marah marah" guman ibu Zulaikha.


Sebenarnya ibu Zulaikha orang yang baik, hanya saja dia kayak kebawa suasana. Jadi ikut ikutan bapak punya karakter acuh tak acuh terhadap siapapun.


Ibu Zulaikha adalah ibu kandungku. Ibu yang melahirkan ku, tapi ntah kenapa sayang seorang ibu dari nya jauh sekali untuk kugapai. Bahkan meski aku sudah berusaha sekuat tenaga dan tak mengenal lelah dalam hal fisik, tetap saja ibu tidak pernah memandangku meski hanya sebelah mata.

__ADS_1


Usut punya usut, dulu waktu kelulusanku Bu Siti cerita perihal tentang ibu. Waktu hamil aku sering ke sebuah desa. Katanya ke dukun bayi yang bisa menerawang, waktu mengandung aku ibu sering sakit dan bolak balik berobat ke RS. Entah apa yang merasuki hati ibu mendengar kerabat dari pelosok desa untuk bawa ibu ke dukun tersebut. Alhasil ramalan yang membuatku menjadi julukan anak pembawa sial dalam keluarga melekat pada dahiku.


Tak perlu menyalahkan siapa siapa sejelek apapun, ibu Zulaikha tetap ibuku. Setelah beres beres meja akibat tumpahan kopi tadi ibu bergegas ke sumur untuk nimba air. Ya nimba air untuk mandi semua orang yang ada di rumah itu, telapak tangan ibu mulai terasa kasar. kalau sudah larut malam dan tubuh dibaringkan di kasur pasti ibu merasakan pegal pegal disekujur tubuh seperti aku dulu.


"Akhirnya penuh. tinggal mandi lalu istirahat" guman ibu Zulaikha.


Ia bergegas mandi dan tak disangka setelah keluar dari kamar mandi ada mbak Siska dan Mbak Putri sudah bawa handuk.

__ADS_1


"Iya cepetan ya" celetuk mbak putri.


Ibu hanya geleng geleng kepala. Tidak mau nimba air tapi kalau bak air penuh semua bergegas untuk mandi. Pagi dan sore bak itu harus diisi, Tapi kembali lagi itu semua memang kewajiban ibu yang menyandang sebagai ibu rumah tangga.


Dalam diam tak terasa ibu meneteskan air mata. Dia menyesal kenapa tidak tegas mendidik Siska dan putri semestinya. Penyesalan datang dikemudian hari, sekarang anak anak Bu Zulaikha tidak mau melakukan apapun dirumah termasuk mencuci bajunya sendiri.


Hanya zahra harapan ibu sekarang. dia masih SD kelas enam apa bisa dididik benar, agar bisa membantu pekerjaan rumah sehari hari. Kini ibu Zulaikha mulai memijit pundaknya sendiri dengan linangan air mata. Apa rasa menyesal yang membuat ibu Zulaikha menangis. Atau kecewa melihat tingkah mbak Siska maupun mbak putri yang gak bisa diandalkan untuk membantu ibu meski hal sepele. Ataukah sikap ayah yang semena mena dan harus benar dalam segala tindakannya. Ataukah dengan tingkah kak Rofiq yang selalu keluyuran pulang larut malam tanpa memikirkan masa depannya. Ataukah memikirkan zahra yang masih kecil dan harus disuruh suruh untuk membantu pekerjaan rumah. Ataukah memikirkan aku anaknya citra yang diusir karena difitnah hamil di luar nikah tanpa memberontak dan pergi tanpa penjelasan.

__ADS_1


Ibu.... ibu....


Beban ibu semakin berat, harus mencari nafkah. Dan pekerjaan rumah secara logika memang betul itu tugas dan tanggung jawab seorang istri dalam rumah. Tapi tidak ada salahnya kalau anak sudah dewasa membantu meringankan beban orang tua walau hanya sekedar beres beres rumah saja.


__ADS_2