Wanitaku Pejuang Hebat

Wanitaku Pejuang Hebat
Ibuku merindukanku


__ADS_3

Hampir dua tahun aku meninggalkan rumah tanpa kabar. Bahkan aku selalu mengirim pesan wa kepada Bu Siti walau hanya sekedar menanyakan kabar keluargaku. Bagaimana kabar mereka, sehat semuakah mereka, Bahkan dalam hati aku ingin memberi mereka beberapa uang gajiku kepada mereka. Tapi nyaliku ciut ketika aku ingat diusir oleh bapak dan ibu tidak membela aku sama sekali. Apa ini yang sudah disebut mati rasa


Bahkan rasa cinta yang diberikan tuan Aslan tak begitu berkesan dalam hati. apapun pemberiannya selalu aku tolak. Bagiku menjadi wanita mandiri itu lebih penting ketimbang menjadi wanita yang manja dan bergelendotan pada lelaki. Itu sudah menjadi prinsip ku sejak aku berumur lima belas tahun. Mungkin perlakuan keluargaku yang membentuk aku menjadi wanita yang tangguh seperti ini. Atau traumaku atas sikap mereka yang membuatku harus mandiri dalam segala hal.


Ibu tampak pulang dari pasar sekitar jam dua siang. Semenjak kepergian zahra ibu pelit senyum kepada siapapun bahkan pada bapak sekalipun. Kalau ditanya cuma menjawab iya ataupun tidak.


Bahkan bapak melihat perubahan ibu, yang dulunya cerewet sekarang pendiam. Yang dulunya suka menyuruh beres beres rumah pada mbak Siska maupun mbak putri, sekarang apapun dikerjakannya sendiri. Ibu mulai angkat bicara dengan nada pelan ketika bapak mulai membahas kesialan keluarganya. Dan lagi bapak menyalahkan sebagai alasannya. Tapi hari ini ibu berani menelan semua kepahitan itu dan berbicara tegas menyangkal semua perkataan bapak.


Waktu itu bapak minum kopi buatan ibu, tanpa sadar mulut bapak mengeluarkan kata kata yang sangat menusuk hati seorang ibu.


"Kesialan ini gara gara anakmu si citra. Kenapa keluarga ini selalu dapat masalah terus. Si Rofiq selalu keluyuran malam sehingga tak punya modal dan untuk menikah. Sedangkan si Siska maupun si putri gak ada yang mau melamar untuk dijadikan istri. Dan parahnya lagi zahra sakit dan mati. Sial sekali keluarga kita ya Bu" kata bapak sambil menghisap rokoknya.

__ADS_1


Dengan pelan ibu menjawab tapi membuat bapak tersadar dengan ucapnya yang salah.


"Kesialan kita bukan dari citra. Itu dari bapak sendiri, kalau bapak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah keluarga kita tidak akan seperti ini. Rofiq gak kawin kawin karena dia keluyuran malam terus dan main cewek diluar sana. Mana ada perempuan mau sama laki laki kayak gitu".


Lagi kat ibu.


"Untuk Siska dan putri mungkin bisa jadi perawan tua, gak ada laki laki yang mau punya istri malas dan tingkahnya yang gak punya sopan sama orang tua" kedua kali ibu berbicara.


"Untuk citra, kalau dia pembawa sial. Ngapain sekolahnya pinter dan bisa cari biaya sendiri buat sekolah. Umur sebelas tahun sudah kerja cari uang sendiri. Kita beri dia terima kita tidak memberinya apapun dia terima. Bahkan aku rasakan citra anakku kau jadikan babu untuk saudara saudaranya" jelas ibuku lagi.


Mata ibu mulai menangis dan suaranya mulai serak dan terbata bata karena menangis.

__ADS_1


"Kamu tahu pak kematian zahra tidak wajar, orang orang bilang dia mati karena depresi. biasanya orang bisa depresi karena tekanan dan trauma. Ada yang bilang zahra mungkin dilecehkan diluar sana, mengingat dia ditemukan didepan rumah dengan keadaan pingsan" ibu berkata dan tak kuasa menahan beban dalam hatinya lagi.


Bapak ingin menyanggah lagi pendapat ibu.


" Tapi Mbah pariyem bilang citralah pembawa sial itu dan semua ini bisa terjadi di keluarga kita".


Tak kalah ibu angkat bicara.


" Emangnya Mbah pariyem itu Allah bisa ngomong kayak gitu. Saya dengar anaknya sakit liver Samapi pecah katanya didukun sama orang. Dan berbicara pada orang bisa menyelamatkan anaknya. Tapi nyatanya anaknya meninggal juga, karena itu penyakit medis".


Bapak mulai diam, kali ini semua perkataan bapak telah ditelan bulat bulat oleh ibu. Andai aku mendengar pembelaan ibu pada waktu itu. Sungguh bahagianya aku. Karena ibu masih sayang sama aku.

__ADS_1


__ADS_2