
Tampak ada empat anak punk mengawasi rumah bapak. Seperti menyelidiki kapan seseorang keluar dari rumah itu. Jika diingat ingat dia adalah laki laki yang bersaksi dusta bahwa aku adalah pacarnya dan aku sedang hamil anaknya dan yang menyuruhku untuk mengugurkan kandungan. Rumah tampak sepi, karena mbak Siska hari ini lagi nongkrong sama teman sekolahnya SMA nya dulu. Dia sekarang sudah berumur 25 tahun, untuk seorang gadis itu umur yang sudah cukup untuk berumah tangga.
Dari arah gang kelihatan mbak Siska berjalan dengan santai dan sambil senyum senyum kayak orang yang habis menang lotre. Dengan sigap para punker itu menghampiri mbak Siska, otomatis mbak Siska kaget dan respect ingin kabur dari mereka. Karena dia tahu bahwa dia ini masih berhutang pada para punker itu tiga ratus ribu rupiah kekurangan untuk bersaksi dusta pada bapak.
"Hey... jangan kabur kamu Siska..." salah satu punker itu memanggilnya.
"Eh... nggak aku gak kabur, cuman mau lari" jawab mbak Siska sambill lari.
Aksi kejar kejaran mbak Siska dan para punkerpun tak terelakan dari gang ke gang rumah, sampai akhirnya terhenti didekat sebuah Empang ikan diujung desa. Mbak Siska terpojok, mana mungkin aku lompat ke Empang batin mbak Siska.
"Jangan kabur lagi" kata punker itu.
"Kalian mau apa" tanya mbak Siska.
"Mau nagih hutang lah kurangnya yang kemaren" celetuk punker itu.
__ADS_1
"Aku gak ada uang" jawab mbak Siska.
"kalau gitu kita senang senang aja terus kamu gak usah bayar" Kata punker itu menggoda.
Para punker itu mendekatibak Siska, takutnya bukan main dan badanya mulai gemetar kakinya secara reflek mulai mundur kebelakang. Empang ini diisi ikan mujaer nila, dan ukuranya sangat besar setengah hektar persegi. Dan dalamnya memang hanya dua meter. Tapi untungnya air yang ada di kolam hanya satu meter.
"Aku nyebur kalau kalian mendekat" kata mbak Siska.
"Nyebur aja toh yang kotor bukan aku tapi kamu" kata punker itu.
"Aku gak main nih... aku bakalan nyebur nih.." kata mbak Siska semakin takut.
"Tapi uangku habis sudah tak buat jalan jalan tadi" sanggah mbak Siska membela diri.
"Jangan main main sama aku" punker itu mulai emosi dan mendekat ke mbak Siska.
__ADS_1
Sangking takutnya akhirnya mbak Siska memutuskan untuk nyebur ke Empang ikan tersebut. Dan....
Byurrrr....
mbak Siska akhirnya nyemplung ke Empang itu. Para punker meninggalkan mbak Siska, tapi punker itu yang bernama boy tidak pergi terlebih dahulu. Dia berkata kata seolah itu adalah ancaman dan peringatan bagi mbak Siska.
"Kalau kamu tidak mau bayar hutangmu, ingat kamu punya tiga adik perempuan yang sudah kamu siapkan untuk bersenang senang denganku" kata punker yang bernama boy tersebut
Mbak Siska hanya diam mendengar kata kata punker itu. Dan dia mencoba mencerna perkataan punker boy tadi. Dia sudah dewasa dan tahu betul apa tujuan perkataan boy itu tadi. Jangan sampai terjadi, dulu aku memfitnah adikku citra agar dia diusir sama bapak. Karena setiap laki laki yang aku ajak ke rumah dan mengetahui aku punya adik seperti citra seolah terhipnotis dengan kecantikannya batinku.
Mbak Siska mulai naik dari tanggul Empang itu dan segera pulang. Empang itu milik haji Sanusi, dan sudah tiga bulan airnya tidak diganti, pasti baunya luar biasa dari parfum yang alami ya kalah pastinya.
Mbak Siska sampai dirumah dan lewat belakang, disitu ada mbak putri yang nimba air. Dia melongo melihat kakanya pulang dengan basah kuyup kek gitu padahal masih musim kemarau.
"Eh mbak kalau mau belajar renang sana di kolam renang jangan nyebur Empang bau amis ikan kale" goda mbak putri.
__ADS_1
"Emang aku nyemplung Empang" jawab mbak Siska dengan ketus sambil masuk kamar mandi.
"He...." mbak putri heran sambil melonggo dengan perkataan mbak Siska.