Wanitaku Pejuang Hebat

Wanitaku Pejuang Hebat
Masakan istri tercinta


__ADS_3

Pertemuan yang membagongkan untuk tuan Aslan. Pelukan cari sensasi didepan kakek Raditya batinku.


"Sini nak duduk" ajak kakek Raditya.


"Iya kek..." aku menjawab dan melepaskan pelukan tuan Aslan yang bagiku amt risih.


"Taruh makananya disini nak" pinta kakek Raditya.


"Iya" jawabku dan bergegas menaruh makanan diatas meja yang ada di taman kota.


Aku membuka penutup makanan dan menyiapkan pada kakek Raditya maupun tuan Aslan.


"Ini untuk kakek biar tambah sehat saya masakin tanpa minyak" sambil menyodorkan dua kotak makanan untuk kakek.


"Ini spesial untuk tuan Aslanku" godaku pada tuan Aslan.


"Iya gadis kepiting hantuku" jawab tuan Aslan dengan tengil.


"Maaf kek, mungkin masakanku gak seenak yang ada di restoran, tapi saya jamin sehat dan higienis" jelasku pada kakek.

__ADS_1


"Hmmm.... enak sekali ayam krispi nya. Kapan kapan kamu bikinin aku lagi ya cit" pinta tuan Aslan merayu.


''Kan restoran banyak kale bang.... upsss maksudku tuan Aslan" kataku dengan malu.


Niat dalam hati ingin buat masakan yang sangat asin khusus tuan Aslan, tapi takut dosa. Dan nantinya dapat kesan yang jelek buat diriku sendiri di depan kakek Raditya.


Dan dalam hati ingin sekali protes jangan panggil aku gadis kepiting hantu, gak etis. Untung ada kakek Raditya jadi kutahan amarahku dalam dalam.


Setelah berdoa kami menyantap makanan. Ketika aku sedang makan masih sesuap nasi, ada anak kecil sekitar umur sepuluh tahunan mendekati kami dan berdiri disamping tempat saya duduk. Penampilannya acak acakan, lusuh, dan dekil seperti tidak mandi beberapa hari. Seketika itu aku berhenti makan dan kulihat dia, dan kutanya pada si adek itu.


"Adek sudah makan" tanyaku.


"Sudah sudah... jangan nangis, kamu lapar kan ini ada rezeki buat kamu. Berterima kasih sama Allah ya dek" jawabku sambil memberikan kotak makananku.


"Makasih ya Tante" jawabnya lagi.


"Iya sama sama cantik, ayo ikut kakak kita makan siang disebelah sana saja ya" pintaku pada adek tersebut.


Kakek Raditya menolak aku mengajaknya menjauh dari mereka. Bahkan kakek Raditya menyuruh adek tersebut duduk disebelahnya. Jujur aku langsung teringat zahra adikku.

__ADS_1


Senyuman polos yang membuatku bisa tersenyum ketika dia mengajakku bercanda.


Alasan kenapa aku mengajaknya menjauh dari kakek Raditya maupun tuan Aslan karena badan adek ini agak bau jadi aku takut membuat mereka tidak selera makan lagi. Mungkin dia bakalan dicukupi oleh ibu bapak di kampung. zahra kan disayang bukan seperti aku.


Sengaja kami berhenti makan dan adek tadi telah pergi setelah menghabiskan makananya.


"Citra... boleh kakek mengomentari masakanmu" tanya kakek.


"Iya kek... masakanya enak banget dan tidak kalah sama restoran ayam yang jadi langganan ku" tutur tuan Aslan.


" Aslan kamu ingat rasa sayur urap urap yang dibikin sama citra" tanya kakek Raditya.


"Tidak kek" jawab tuan Aslan asal.


"Masakan citra membuat kakek kangen dengan masakan eang putrimu" tutur kakek Raditya lagi.


" Masak sih kek..." tanyaku heran.


Dalam pikiranku lagi yang ada tanda tanya besar sekali... Kenapa kakek Raditya maupun tuan Aslan tidak malu makan ditempat kayak gini. Memang ketika sore hari banyak yang jalan jalan di taman kota atau hanya sekedar olahraga sore. Kenapa mereka gak gengsi dengan makan makananku yang seperti ini. Ah biarin aja, yang penting makananku habis tak bersisa.

__ADS_1


Tapi aku ingat,,, kenapa memasaknya gak banyakan ya. Tuan sopir dan Bu susternya ketinggalan acara makan dan itu teringat ketika aku berjalan pulang dari taman kota.


__ADS_2