Wanitaku Pejuang Hebat

Wanitaku Pejuang Hebat
Tuan Aslan yang mengagumkan


__ADS_3

Pagi yang cerah membuat burung berkicau dengan merdu dipagi hari ini. Aslan Hadi Mega Santosa itulah nama besar yang disandang Aslan, kakeknya terkena serangan stroke tapi masih bisa berjalan dan sering terlihat duduk di kursi roda. Kakek Raditya Hadi Mega santosa yang merintis semua usaha yang dijalankan Aslan sekarang. Kakek Raditya memiliki seorang putri bernama Anjani Hadi Mega Santosa itu adalah ibu Aslan. Ayah Aslan dari orang biasa katanya orang kampung biasa yang membantu Kakek Raditya membangun Mega bisnis dari nol sampai sukses. Bapak Gugun Ardianto itulah nama ayah Aslan.


Aslan tidak pernah mengeluh meski dia tahu orang tuanya meninggal ketika dia masih duduk di bangku SMA. Proirotasnya adalah kakek tercintanya, ayah ibu Aslan meninggal karena kecelakaan waktu ingin pulang menemui nenek dari ayah Aslan. Itu karena bapak Gugun tidak pernah pulang kampung sekalipun sebelum dia sukses. Itulah penjelasan Kakek Raditya kepada Aslan.


"Teh nya kek masih hangat" sapa Aslan pada kakeknya yang baru keluar kamar didorong seorang suster.


"Iya..." jawab Kakek Raditya.


"Gimana investor dari luar negeri yang kemaren lan" tanya kakek.


"Beres bahkan mereka meninjau gedung yang masih tahap pengerjaan lek" jelas Aslan.

__ADS_1


"Terus cewekyang bayarin baju kamu kemaren" tanya kakek.


"Gak perlu diganti kek uangnya sudah dikasih jam rolex punyaku" kata Aslan.


"Yang beli di Paris waktu samakakek dulu" tanyanya Kakek Raditya.


"Iya kek kan dia nolong aku dari rasa malu. Mana mungkin rapat dengan baju dekil kek gitu kek" jawab Aslan.


" Iya kakek ngerti tapi apa gak berlebihan nak" tanya kakek Raditya lagi.


Itulah Aslan selalu mengerti kondisi dalam situasi apapun. Tak pernah terlintas pikiran negative dalam otaknya. Meski banyak wanita yang mengejarnya dia enggan sekali, karena takut hanya baik didepan Aslan tapi memperlakukan kakek semena mena.

__ADS_1


Masalah jam tangan yang harganya ratusan juta, pasti tak masalah bagi seorang Aslan. karena uang sebanyak itu hanya laba nol koma nol sepersekian persen dari semua bisnisnya. Kecerdasannya membuat semua orang kagum, bahkan pernah dosen maupun maupun mahasiswa semua ingin dekat dengannya tapi ia tolak.


Aslan tidak ingin didekati orang lain hanya karena statusnya saja. Mungkin ketulusan hati itu lebih penting baginya. Sepertinya ibunya ibu Anjani, tak pernah berpenampilan yang luar biasa dikhalayak umum. Bahkan perhiasan yang mencolok hampir tak pernah dipakai.


"Mau berangkat kerja nak'' tanya kakek Raditya.


"Iya sebentar lagi kek" jawab Aslan.


"Ayo sarapan bareng" ajak kakek Raditya.


"Ok" Aslan menjawab sambil berdiri.

__ADS_1


Aslan dan kakek pergi ke ruang makan, kakek sesekali bisa berjalan meski kondisi kaki sudah mati tidak bisa digerakkan. Aslan maupun kakek tidak pernah mempublikasikan dirinya baik di media maupun di sosmed agar dikenal orang. Bagi Aslan dalam hidup tidak perlu pembuktian kepada orang lain betapa suksesnya kita. Karena mereka akan mengetahui sendiri tanpa kita berbicara.


Selesai sarapan Aslan pergi ke kantor membelah jalanan kota. melewati gedung gedung tinggi bertingkat, beberapa kali berhenti di lampu merah dan dilihatnya ada orang mengamen. bahkan dari yang kecil sampai yang tua. Sengaja Aslan menyediakan kotak kayu agak besar dibawah dashboard mobil untuk diisi uang receh lima ratus dan seribu untuk mereka setiap lewat. Karena Aslan berfikir rezeki yang ada padanya tidak akan berkurang ketika kita sedekahkan.


__ADS_2