
Kini kondisi Lika masih kritis, Adzan subuh berkumandang bapak Hendri dan ibu Wati melajukan mobil ke suatu tempat. Ya itu adalah kediaman kakek Raditya.
Sampai disana pintu gerbang dibuka, kakek Raditya masih menunaikan ibadah sholat.
Orang tua Lika menunggu di ruang tamu dengan wajah tegang, sesekali bapak Hendri menatap wajah ibu Wati yang sudah sembab karena menangis semalaman.
Beberapa menit kakek Raditya berjalan menggunakan tongkat dan menghampiri orang tua Lika. Kakek Raditya berfikir bahwa perusahaan pabrik gulanya lagi mengalami masalah keuangan dan ingin minta bantuan padanya.
Belum sempat kakek Raditya duduk di sofa untuk menjamu bapak Hendri dan ibu Wati mereka berdua langsung menghampiri kakek Raditya dan bersimpuh di hadapan kakek Raditya. Suasana hening hanya sesekali Isak tangis ibu Wati yang terdengar.
Bapak Hendri menceritakan kondisi Lika saat ini, yang membutuhkan semangat dari cucunya Aslan untuk membawanya kembali bersemangat untuk hidup.
Bapak Hendri memberikan buku harian milik Lika, dan kakek Raditya tahu maksud kedatangan orang tua Lika.
"Om Radit" begitu baik Hendri memanggil kakek Raditya.
"Tolong selamatkan nyawa anakku"
"Aku akan hancur jika anakku Lika meninggalkan aku dan istriku"
"Sekarang dia koma, karena mencoba bunuh diri"
"Anakku sungguh terobsesi dengan cucumu Aslan, aku mohon bujuk Aslan untuk menyelamatkan nyawa anakku"
Kata bapak Hendri terbata bata sambil menangis.
__ADS_1
Kakek Raditya memejamkan mata, dia bingung sekali dengan tindakan Lika yang baru berumur sembilan belas tahun.
Kakek Raditya tidak mengiyakan permintaan bapak Hendri karena ini adalah keputusan cucunya Aslan. Kakek Raditya mencoba bersikap sebijak mungkin pada bapak Hendri dan ibu Wati. Karena kakek Raditya juga tidak ingin memaksa cucunya untuk melakukan sesuatu yang sama sekali tidak diinginkannya.
Kakek Raditya menepuk bahu bapak Hendri seraya berkata sesuatu yang membuat pikiran ya berkecamuk harus melakukan apa lagi demi anaknya.
"Nak Hendri kamu tahu kalau masalah hati Aslan cucuku"
"Aku tidak bisa memaksanya, dia memiliki pilihan untuk hidupnya sendiri"
"Dia memiliki keputusan dan berhak memilih siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya kelak"
"Aku akan mencoba berbicara padanya"
Kata kakek Raditya bijaksana.
Kakek Raditya menyuruh bapak Hendri dan ibu Wati berdiri dari tempatnya duduk bersimpuh. Tapi bapak Hendri dan ibu Wati menolak sebelum kakek Raditya dan Aslan menyetujui permintaanya.
Kakek Raditya bukan orang yang suka memaksa, kalau itu keinginan bapak Hendri dan ibu Wati tetap duduk bersimpuh seperti itu.
Kakek Raditya pergi meninggalkan mereka berdua dan tidak berkata kata apa lagi.
Kakek Raditya pergi menuju kamar cucunya, didapatinya tuan Aslan masih tertidur pulas. Kakek Raditya menghampiri tuan Aslan dan duduk disebelah ranjang menepuk bahu tuan Aslan dan membangunkannya.
Tuan Aslan duduk dan menyadari kakek Raditya ada di kamarnya.
__ADS_1
"Kakek ada perlu apa"
"Masih ngantuk jam segini lagi emak enaknya tidur kek" rengek tuan Aslan.
"Orang tua Lika ada disini dan sekarang di ruang tamu"
"Mereka.mencarimu nak'' jelas tuan Aslan.
Deg....
Pasti Lika bertindak diluar nalar lagi dan membuat orang tuanya melakukan hal yang bodoh demi dirinya. Tapi tuan Aslan teringat perkataanya tempo hari kemarin.
"Apa karena aku memberi tahu Lika kalau aku sudah tidur dengan Citra" guman tuan Aslan dalam hati.
"kok bengong"
"Temui mereka"
"Bantu mereka sebisa kamu"
"Jangan Memaksakan hati jika tidak ingin"
" Tapi jika demi kemanusiaan, singkirkan lah keegoisanmu" jelas kakek Raditya pada tuan Aslan.
Tuan Aslan hanya menatap kakek Raditya yang kagum dengan kebijaksanaanya ketika mencari jalan keluar untuknya.
__ADS_1