Wanitaku Pejuang Hebat

Wanitaku Pejuang Hebat
Maaf aku akan mundur kawan...


__ADS_3

Ketika Lila pingsan semua panik, begitupun dengan aku.


"Telpon ambulan, cepat bawa dia ke rumah sakit" teriakku histeris.


Salah satu karyawan menelpon dan selang beberapa menit bantuan tim medis telah datang.


Kenapa aku panik, ya aku sangat panik karena aku tahu riwayat sakitnya sahabatku Lika. Dia pernah melakukan operasi keretakan jantung ketika waktu masih SD. Dan aku berfikir waktu Lika tiba tiba menghilang pas acara wisuda, aku mengira dia melakukan pengobatan di luar negeri.


Sampai di rumah sakit aku sangat khawatir dengan kondisi Lika. Dia terbaring lemah, bahkan harus dibantu dengan alat bantu pernafasan. Apa aku salah jika terus mempertahankan tuan Aslan. Apa aku harus mundur demi kebahagiaan sahabatku.


Pikiranku berkecamuk, aku takut Lika kenapa napa. Aku menunggu hampir tiga jam lamanya, akhirnya Lika membuka matanya.


Tapi setelah dia tahu aku berada duduk disampingnya Lika membuang muka.


Aku pegang tangan sahabatku, aku mulai menangis merasa bersalah pada diriku sendiri. Kini aku mulai berani buka suara meski kedua pipiku terasa sangat sakit untuk bicara.


"Lika maafkan aku".


"Aku tidak tahu kalau tuan Aslan lelaki impianmu"


"Aku akan mengalah dan akan pergi dari kehidupan kalian berdua"


"Aku akan meninggalkan tuan Aslan demi rasa hutang budiku padamu''

__ADS_1


"Menikahlah dengan tuan Aslan dan berbahagialah bersama dia"


"Sekali lagi maafkan aku, kamu adalah teman yang sudah memberi aku makan ketika aku lapar"


"Dan kamu juga yang memberi aku akaian ketika aku telanjang"


citra berkata kata dengan sangat parau.


Tetapi Lika memberi balasan yang sangat mengejutkan, karena itu bukan sifat Lika


"Bagus kalau kamu sadar diri, cepat pergi dari sini" ketus Lika.


Tanpa berfikir panjang citrapun pergi dari bangsal itu. Belum jauh dia melangkah keluar dari bangsal Lika, tiba tiba citra pingsan dan ada perawat yang membawanya ke ruang IGD .


"Akhirnya kamu siuman nona" kata dokter.


"Selamat ya, anda sedang hamil enam Minggu" jelas dokter tersebut.


"Apa hamil dok..." wajah citra terkejut.


"Selamat ya,,, jaga diri baik baik saya permisi dulu" pamit dokter tersebut.


Apa aku hamil, aku langsung teringat moment saat kamu menikmati satu sama lain. Citra lupa memakai pengaman waktu itu, astaga kenapa aku bisa lupa.

__ADS_1


Citra memutuskan untuk pulang dan tidak kembali bekerja. Badanya merasa pegal dan mulai mual, mungkin karena ini efek dari kehamilanku.


Di dalam kamar sendirian, citra mulai berfikir keras haruskah tuan Aslan tahu semua ini atau aku akan diam untuk selamanya.


Semalaman citra begadang dan memikirkan itu, akhirnya keputusan citra telah bulat. Citra akan memenuhi janjinya pada Lika, citra akan pergi dari kehidupan mereka.


Pagi hari citra berangkat kerja seperti biasanya. Tapi ada yang lain wajah citra tampak pucat karena semalaman begadang.


sampai tempat kerja Bu manager sudah menunggu citra di ruangannya.


Tok tok tok


"Silakan masuk" saut suara Bu manager.


Citra masuk ke ruangan manager dan dipersilahkan duduk oleh Bu manager.


''Saya selaku atasan langsung memberi tahu anda sebagai karyawan disini"


"Untuk menghindari nama toko tercemar pihak agensi toko memutuskan untuk memecat anda" jelas Bu manager.


Aku hanya mengangguk, tidak pula menangis. Karena Citra tadi malam sudah berkeputusan akan berhenti bekerja dan pergi dari kota ini.


Untuk tuan Aslan seharusnya dia tahu tentang anak ini, tapi aku harus memenuhi janjiku pada Lika. Citra akan pergi tanpa suara, langkah citra akan hilang dalam kegelapan malam. Tidak yang harus tersakiti lagi, cukup citra sendiri dan calon buah hatinya.

__ADS_1


Citra keluar dari toko dengan senyum yang sangat manis, dengan kata lain citra merasa telah membayar lunas hutang budinya pada Lika sahabat tersayangnya.


"Selamat tinggal duniaku" guman Lika pada dirinya sendiri.


__ADS_2