Wanitaku Pejuang Hebat

Wanitaku Pejuang Hebat
Pertemuan gadis kepiting hantu dan kakek raditya


__ADS_3

Citra sudah pulang dari kerja lemburnya. Tuan Aslan yang nylonong masuk membawanya ke suatu tempat dan itu masih dalam gedung mall tempatku bekerja. Ketika menuju ke tempat itu tangan tuan Aslan tetap mengenggam terus dan sesekali ingin kulepas malah gengaman itu semakin erat. Heran sekali nih orang,,, bawa orang gak ijin dulu akunya mau apa tidak langsung main gandeng dan bawa aja.


Tuan Aslan berjalan begitu santai meski banya sepasang mata yang melihatnya. Iya bagi tuan Aslan itu hal biasa, tapi bagiku itu adalah hal yang konyol dan membuat aku malu. Kayak berkesan aku yang mengodanya.


"Tuan Aslan tolong lepaskan tanganku... malu dilihatin orang" pintaku pada tuan Aslan.


"Gak bisa nanti kamu kabur lagi. Ntar kalau sudah duduk dihadapan kakeku baru kulepas" jelas tuan Aslan dengan tegas.


"Iya aku gak bakalan kabur janji deh!!! suerr!'' pintaku sambil cengigisan.


"Gak bisa, senyumanmu itu menunjukkan hal lain dari mukamu" tuan Aslan menjelaskan.


Akhirnya sudah sampai di lantai satu yang khusus berjualan berbagai makanan internasional, asal kalian tahu ya... Makanan ditempat ini dibanderol paling murah seharga lima ratus ribu rupiah. Itupun yang porsi biasa. Aku aja merasa sayang dengan uang segitu banyak hanya buat makanan beberapa piring saja. Kalau masak sendiri bisa jadi tiga Minggu bagi anak kos kayak aku batinku.


Restoran Jepang ruang VIP yang dituju tuan Aslan, pintu dibuka. Aku kagum sekali dengan desain dan ornamen ruangan itu. Ada pernak pernik vas dan bunga, lukisan khas Jepang meja dasar lantai yang mengkilat. tempat duduk gak ada kan ini restoran Jepang. Serasa kayak di film film nih aku batinku.

__ADS_1


"Duduk nak Aslan, citra" pinta seorang kakek.


"Lho kakek sudah tahu nama saya" jawabku agak kaget.


"Iya, tau dari Aslan" jawab Kakek.


" Kenapa masih berdiri terus, cepat duduk dan Aslan cepat pesan makanan paling enak ditempat ini" perintah sang kakek.


Aku ditarik lagi oleh tuan Aslan dan disuruh duduk disebelah tuan Aslan.


"Iya tuan kakek Raditya'' jawabku spontan.


"Gak perlu pakai tuan ya nak citra" pinta kakek Raditya.


"Eh... iya kakek Raditya" jawabku malu pada kakek Raditya.

__ADS_1


"Gitu dong... biar akrab sama kakek" jawab Kakek Raditya santai.


Kulirik tuan Aslan yang baru kembali dari pesan makanan. Raut wajahnya senyum senyum sendiri, mungkin penyakit syarafnya kumat jadi saraf motoriknya nyuruh dia senyum terus kali ya batinku.


Kami menunggu beberapa menit dan makananpun datang, kami bertiga makan sambil mengobrol dan bercerita lelucon yang membuat kakek Raditya maupun tuan Aslan tertawa lepas. Dan ditengah obrolan kami tidak sekalipun kakek Raditya maupun tuan Aslan menyinggung masalah status dan kekayaan. Yang kami bicarakan hanyalah hobi kami, kesukaan kami, bahkan hal hal yang tidak membuat perasaanku minder.


Tapi aku terdiam ketika kakek mulai bertanya apa kabar ibu dan bapak di kampung.


Aku melanjutkan makanku, tapi tidak dengan obrolan kami. Bagiku bapak dan ibu hanyalah kenangan manis meski kepahitan dan kepedihan yang bertubu tubi telah kudapat dari mereka.


Tuan Aslan mengerti situasinya, dan mengubah topik pembicaraan kami. Seolah dia tahu aku tidak ingin membicarakannya. Acara makan kami selesai, kakek Raditya masih menunggu sopir dan susternya untuk menjemputnya. Tapi saya lihat kakek Raditya hanya makan salad sayur dan buah. Mungkin untuk kesehatannya juga.


Tuan Aslan berpamitan ingin mengangkat telepon, dan aku menulis pesan di kertas dan kutaruh diatas meja.


"Terima kasih untuk makan malamnya. Dan terima kasih sudah merasakan kebahagiaan punya kakek walau hanya setengah jam saja. Aku pamit tanpa menemuimu. Maaf ya"

__ADS_1


Itulah yang kutulis.


__ADS_2