Wanitaku Pejuang Hebat

Wanitaku Pejuang Hebat
Bu Asna sang pemilik warung


__ADS_3

Kedatangan ku membuat Bu Asna terkejut, dia langsung meraih tubuhku dan menolong aku untuk duduk. Dia bertanya ini dan itu dengan wajah yang sangat penasaran.


"Citra kamu kenapa kok pincang" tanya Bu Asna.


"Eh,,, iya Bu tadi jatu di got gang masuk rumah jadi lututnya kesleo sedikit Bu" jelasku.


"Gak usah alasan ayu ke tukang urut lalu ke dokter" pintanya padaku.


"Nggak Bu nanti minum obat anti nyeri sudah baikan kok Bu..." jawabku.


"Jangan alasan sekarang ibu akan tutup warung ngantar kamu ke tukang urut lalu ke dokter" tegasnya lagi.


Terlihat raut Bu Asna penuh kekhawatiran, andai ibu dan bapakku sedikit saja punya rasa kasian sama aku. Bu Asna langsung menutup warungnya, Karen memang dari jam 11 siang tadi daganganya sudah habis. Dia langsung membonceng aku pakai sepeda motor, di depan rumah tukang urut motor berhenti. Aku dibantu untuk turun, didalam rumah tampak nenek paruh baya duduk santai sambil makan linangan jaman dulu.


"Assalamualaikum... Mbah mau pijet" kata Bu Asna.


" Kenek OPO" jawab mbahnya.


"Manyun Tibo Mbah dugi sepeda Mbah" jelas Bu Asna.

__ADS_1


"Rene Rene tak urute" sahutnya si Mbah.


"Nggeh Mbah" jawab Bu Asna.


Aku yang duduk dikursi teras rumah dibawa masuk oleh Bu Asna. Ada ranjang khusus untuk memijat pasien, aku duduk dan diliraba lututku yang ditendang kak putri. ketika dipijat sakitnya bukan main, Bu Asna yang memegang aku kualahan. Aku menangis menjerit kesakitan untuk beberapa saat, terlihat bu Asna menitikkan air matanya. Sesekali dia menyeka pakai baju yang dipakainya.


Akhirnya pemijatan selesai Mbah Pariyem memberi penjelasan kepada Bu Asna.


"Belumge ngeser menjeru iku ngunu" tuturnya.


"Nopi mboten Nopo Nopo Mbah" tanya Bu Asna.


"Nggih Mbah matur Suwon nggih Mbah" kata Bu Asna.


"Iyo Iyo Podo Podo" sahut Mbah Pariyem.


"Pamit nggih Mbah assalamualaikum" sahut Bu Asna.


"Waalaikumsallam" jawab Mbah Pariyem.

__ADS_1


Setelah itu kami ke dokter, aku diperiksa dan diberi beberapa obat agar cepat sembuh. Bu Asna terlihat lega melihat aku baik baik saja. Sampai diwarung aku mulai bekerja, biasanya Bu Asna sudah duduk manis menghitung keuntungan warungnya. Tapi untuk hari ini tidak dia sudah aku repotkan dengan kondisiku. aku bekerja sebisa mungkin, dan semua selesai pukul 6 sore. Aku diantar pulang pakai sepeda motor oleh Bu Asna. Tapi hanya sampai gang rumah.


Di pintu ada bapak yang lagi memasang muka dengan wajah geram. sebentar lagi aku bakalan kena cercaan yang akan menyayat hatiku.


"Dari mana kah kamu" bentak bapak.


"Dari rumah temen" jawabku.


"Bisamu cuman bikin orang marah saja" bentaknya lagi.


"Aku... Aku..." sahutku


"Sudah, aku tidak mau dengar alasan lagi. Dari kemaren gak pulang, cepet isi bak mandi" perintah bapak.


Terlihat ibu bersama Zahra didapur sedang memasak, dari baunya seperti goreng ikan. Tapi sebelum pulang tadi Bu Asna menyuruhku untuk makan. Aku langsung menuju sumur dan mulai menimba air. Tak terasa air mataku jatuh dipipiku, ibu yang melahirkan ku tidak peduli ketika aku terluka.


Dalam bayanganku aku melihat Bu Asna menjadi ibuku. memelukku dengan erat dan penuh kasih sayang. Ya Allah apa aku begitu merindukan ibu yang seperti itu. Hampir dalam ingatanku aku tidak pernah merasa mendapat kan pelukan atau ciuman dari bapak dan ibu.


Tapi malah Bu Asna, orang lain yang memperhatikan sakitku....

__ADS_1


__ADS_2