
Pagi itu pihak kantor tuan Aslan sudah mempersiapkan jumpa pers di gedung aula.
Tampak semua media sudah mempersiapkan kamera dan segala sesuatu sudah dipersiapkan oleh pihak tuan Aslan.
Tuan Aslan pun datang, dan duduk dengan tenang menghadapi para wartawan. Kini jumpa pers pun telah dimulai, dan tuan Aslan membuat sebuah pernyataan yang membuat semua orang tercengang.
Dan kedua orang tua Lika juga ada di jumpa pers itu, dan mereka sama tegang nya dengan para wartawan yang berada di ruangan itu.
"Saya, membuat keputusan ini berdasarkan penilaian saya sendiri terhadap seseorang"
"Saya memutuskan untuk memutuskan tali pertunangan ini berdasarkan alasan pribadi"
"Jadi saya memberi keputusan seperti ini"
"Dan ini saya jamin tidak akan membuat kerugian dari pihak manapun"
Tuan Aslan pun beranjak pergi dari tempat jumpa pers, dan para wartawan mengejar tuan Aslan. Tapi wartawan yang lain juga menghujani segala pertanyaan yang banyak dan bertubi tubi pada Lika dan kedua orang tuanya.
Kini Lika sangat panik dan terkejut sekali dengan pernyataan tuan Aslan. Dia merasa hampa dan tidak menghiraukan segala pertanyaan tuan Aslan.
"Mungkinkah kak Aslan tahu kalau aku yang mendorong Citra"
Guman Lika dalam hati.
Tiba tiba Lika berteriak histeris
__ADS_1
"Tidak... Tidak... Tidak..."
Lika mulai berbicara meracau tak karuan. Orang tua Lika panik dan membuat bapak Hendra dan ibu Wati membawa Lika pergi dari tempat itu
Tuan Aslan kembali ke kantor dan mulai kembali pekerjaan nya dengan santai. Karena bagi tuan Aslan mengambil keputusan itu seperti meletakkan beban berat di pundaknya.
Begitupun dengan Lika dia hendak masuk mobil bersama orang tuanya. Tapi Lika menuju kembali ke kantor tuan Aslan dan menuju ke ruangan tuan Aslan. Lika menerobos masuk dan tuan Aslan mengetahui itu, dan menyuruh mas Arif membuka pintu ruangannya.
"Apa kamu gila kak Aslan''
"Sudah mengumumkan hal tak pantas seperti itu"
"Aku kamu anggap apa selama ini"
"Sayangi aku"
Lika mencoba mendekati tuan Aslan dan hendak memeluknya.
Tapi tuan Aslan segera berdiri dan berkat kata yang membuat Lika Merasa jiwanya terguncang
"Apa kamu tahu''
"Bahwa aku mengetahui kamu menampar Citra di tepat kerjanya"
"Dan aku juga tahu kamu yang membuat Citra dipecat dari tempat kerjanya''
__ADS_1
"Dan aku juga tahu kamu mengetahui pernikahan kami"
"Hanya satu yang belum kamu tahu"
"Citra akan memberikanku bayi mungil"
Kata kata tuan Aslan sangat menusuk hati Lika.
Lika pun bergegas pergi dari ruangan tuan Aslan dan menuju mobil dimana bapak Hendri dan ibu Wati menunggunya.
Lalu Lika menangis dipangkuan kedua orang tuanya. Bapak Hendri dan ibu Wati juga menangis melihat anaknya menangis.
"Nak ikhlaskan nak Aslan"
"Dia bukan jodohmu"
"Jangan memaksakan kehendak"
"Jangan kau sakiti lagi hatimu nak"
Kata kata bapak Hendri membuat Lika sedikit lega.
Tapi seorang Lika tidak bisa menerima kenyataan pahit tentang cintanya dan tuan Aslan. Biar bagaimanapun Cinta Lika terhadap tuan Aslan sudah tertambat dalam hatinya. Kini Lika menangis semakin kencang sampai rumah Lika langsung masuk kamar dan meratapi nasib percintaannya.
Tuan Aslan menerima panggilan dari Citra dan itu membuatnya tersenyum. Citra hendak melayangkan seribu pertanyaan pada tuan Aslan tapi tuan Aslan malah menggoda Citra dan itu membuat Citra sangat malu dan menutup telpon nya dengan segera.
__ADS_1