Wanitaku Pejuang Hebat

Wanitaku Pejuang Hebat
Harta tak ternilai


__ADS_3

Tuan Aslan dengan spontan mengendong tubuh Citra, dan segera dilarikan ke rumah sakit. Wajah panik dan khawatir sangat nampak di muka tuan Aslan. Citra hanya berdoa supaya anak nya tidak kenapa napa karena ini ke dua kalinya Citra mengalami pendarahan.


"Mas maafkan aku tidak bisa menjaganya" kata Citra.


"Jangan banyak bicara, kita hampir sampai rumah sakit" kata tuan Aslan begitu panik.


Mobil telah sampai di depan rumah sakit, tubuh Citra digendong oleh tuan Aslan yang melangkah dengan cepat menuju IGD. Darah sudah membasahi baju Citra bagian bawah, bahkan celana tuan Aslan juga penuh dengan darah. Kini Citra sudah mendapat pertolongan medis, beberapa menit kemudian Citra dipindahkan ke ruang inap.


Namanya tuan Aslan dia tidak terima kalau Citra dirawat di ruang ekonomi. Citra hanya melongo melihat tuan Aslan sangat protektif dengan nya. Ruang VVIP yang di pesan tuan Aslan, Dalam benak Citra mungkin tuan Aslan ingin yang terbaik untuk anak nya.


Di kamar perawatan tuan Aslan menunggu dengan sabar para perawat yang sedang merawat tubuh Citra. Citra terbaring lemas, karena kehilangan banyak darah. Para perawat telah keluar kamar, kini tuan Aslan menghampiri Citra dan menggenggam tangan Citra seolah tidak ingin ditinggalkan lagi oleh Citra lagi.


"Kenapa kamu tidak bilang dari awal"


"Aku bisa menjelaskan pada keluarga Lika"


"Sekarang aku sudah menemukanmu dan calon anak kita, aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi dari hidupku''

__ADS_1


"Aku janji akan melindungi kalian dan bertanggung jawab atas kalian berdua"


Kata kata tuan Aslan sambil mengelus punca kepala Citra.


Citra hanya diam, dia tidak bisa berfikir untuk saat ini. Dia mencoba menenangkan hati dan pikirannya, sudah kedua kalinya pendarahan ini terjadi. Sekarang usia kandungan Citra sudah enam belas Minggu atau empat bulan.


Kini Citra mulai mengantuk, mungkin karena efek obat. Dilihatnya tuan Aslan yang duduk di sofa memandanginya dan tanpa banyak bicara. Setiap Citra memandang tuan Aslan pasti dia akan tersenyum pada Citra. Sekarang tuan Aslan seperti menemukan dirinya lagi, tidak lagi kaku dan dingin pada setiap orang.


Tuan Aslan menghampiri Citra dan duduk disebelah Citra berbaring. Tatapan tuan Aslan seperti menemukan kebahagiaan yang selama ini hilang.


"Mas aku ngantuk sekali"


Pinta Citra pada tuan Aslan.


Tuan Aslan hanya menganggukkan kepala dan mencium kening Citra, tak lama kemudian Citra pun terlelap.


Kini tuan Aslan sibuk dengan pikirannya sendiri, bagaimana caranya memberi tahu Lika dan keluarganya soal ini. Tapi tuan Aslan memiliki rencana untuk Citra dan Lika. Meski begitu tuan Aslan tidak mau menyakiti mereka berdua, apalagi ada nyawa seorang anak yang harus dipertaruhkan.

__ADS_1


Citra terbangun dari tidur nya, dia melihat tuan Aslan tidur di sofa dengan menekuk kakinya. Citra tersenyum melihat posisi tuan Aslan yang seperti itu. Citra pun turun dari ranjang hendak pergi ke kamar mandi, dia turun dari ranjang sangat pelan pelan. Citra ingin mengecek apakah masih ada pendarahan atau tidak pada dirinya.


"Kamu mau kemana" spontan tuan Aslan bertanya.


"Astaga mas,,, ngagetin aku aja"


"Mau ke kamar mandi mas"


"Emang ada yang salah ya..." tanya Citra balik.


Tanpa bicara panjang lebar, tuan Aslan memapah badan Citra Menuju kamar mandi.


"Mas tunggu di luar aku malu" rengek Citra lagi.


"Ngapain malu sih,,, aku kan sudah tahu dalamnya kayak apa" jawab tuan Aslan.


Perkataan tuan Aslan membuat Citra sangat malu pada diri ya sendiri.

__ADS_1


Tapi disisi lain Lika sedang menunggu kabar dan telephone dari tuan Aslan, tapi tak kunjung ada panggilan maupun pesan. Lika mulai gelisah dan ingin pergi menyusul tuan Aslan ke kota Semarang.


__ADS_2