Wanitaku Pejuang Hebat

Wanitaku Pejuang Hebat
Kartu nama yang disobek


__ADS_3

Kini citra sudah terbias dengan para pelanggan yang cerewet,angkuh, sombong, yang suka merintah orang seenaknya, pokok ya banyak lah..Dalam hati kerja itu yang penting ikhlas biar tidak jadi beban. Toh dari dulu aku sudah kerja dan tahu rasanya kerja setiap detik setiap menit dan sampai setiap jam. Kalau tidak semangat hati terasa loyo bagai tanaman layu yang lama gak disiram.


sudah tidak terasa aku bekerja di tempat ini hampir lima bulan. Dan jika ditanya apa aku bahagia dan senang tentu sekali. Bahkan aku sesekali tetap mengingat keluargaku yang ada di kampung.Memang jarak kota ke desa hanya sepuluh jam perjalanan, tapi aku enggan pulang karena sikap kedua orang tuaku maupun saudaraku. Dalam hati ingin sekali pulang dan disambut orang rumah dengan kasih sayang, tapi aku sudah diusir sama bapak batinku. Mungkin kalau ada waktu cuti aku selalu menolak, toh kalau ambil cuti cuman rebahan doang di kosan.


Penampilanku kini berubah, mulai dari warna rambut yang kuubah jadi rich borwn. Kalau warna kulit mungkin tidak perlu muluk muluk karna bekerja dalam ruangan meski gak perawatan tak lihat udah agak cerahan dari baru datang ke kota. Kalau wajah mungkin pakailah skincare yang harganya standart. Pakaian juga sudah banyak yang baru, aku usahakan setiap gajian beli dua atau tiga stel baju. Karena baju yang kubawa untuk bekerja semuanya pemberian Lika.


Ya Lika dimana dia sekarang, ingin rasanya hati ini bertemu sama Lika anak pemilik pabrik gula di kampung ku. Hari ini aku mengantikan shif kakak senior yang cuti, jadi yang aku jaga bukan stand baju dan celana pria. Tapi ini adalah bagian sepatu wanita. Dan kalau dibagian ini jelas menguras tenaga dan emosi tentunya. Kadang kelas sosialita ingin dilayani bak ratu istana, coba sepatu ini itu dan itu membuat lututku pegal karena jongkok untuk mencocokan sepatu ke kaki mereka.


Tapi lumayanlah uang lembur buat beli skincare batinku. Aku melangkahkan kaki menuju tempat kerja, seperti biasa jalan dalam waktu tiga puluh menit. Lelah tapi bikin jantung sehat pastinya. Sampai di tempat kerja hari ini karyawan yang masuk hanya beberapa, maklum hari raya besar Cina. Bahkan Bu Angela juga ijin kerja karena beliau juga orang cina.


"Hai citra sini kamu gantiin mbak sella kan" tanya mbak anggun kakak seniorku di tahun lebih dulu kerja ditempat ini.


''Eh... iya kak ini baru sampai" sahutku.

__ADS_1


"Iya ku kasih tau biasanya kalau libur hari besar kek gini banyak orang kaya bawa pasanganya untuk dibelikan sepatu" jelas mbak anggun.


"Iya mbak moga saja banyak yang beli" kataku.


"Tapi, siap siap capek kakimu cit" goda kak anggun.


Aku hanya senyum dengan kata kata kak anggun.


"Tap tap tap " suara langkah menuju stand yang say jaga.


Ternyata tuan Aslan menghampiriku dengan senyum yang ramah.


"Jam rolex" mulutku tiba tiba berkata dengan spontan.

__ADS_1


Untung jam tangan itu kubawa kemana mana dalam tas. Karena antisipasi sewaktu waktu pemilik datang lagi aku bisa langsung mengembalikannya.


"Tunggu tuan Aslan, biar kuambilkan jam rolexnya" pintaku pada tuan Aslan.


"Itu sudah kukasihkan ke kamu citra. Itukan namamu" tanya tuan Aslan padaku.


"Mana bisa tuan, hanya kuanggap barang titipan saja. siapa tahu itu barang pemberian dari seseorang yang berkesan di hidup tuan aslan'' jelasku panjang lebar.


"Tidak dirumah banyak yang seperti itu..." kata tuan Aslan.


"Sebentar saya ambilkan" kataku sambil berlari menuju ruang ganti karyawan. Dengan sigap kuambil jam tangan mahal itu dan tak sengaja aku juga menggambil kartu nama yang tersobek diujung sebelah kiri.


Ya aku ingin tahu siapa dia tuan Aslan itu. Setelah kubaca kagetnya bukan main Aslan Hadi Mega Santosa. CEO dari Santosa coorparation bussines. Dan aku terkejut mall tempat aku bekerja juga berada di bawah naungan bisnis milik Santosa coorparation dalam batinku.

__ADS_1


__ADS_2