
Author POV
skip
Seorang dokter bersama susternya membuka pintu salah satu ruangan dan masuk untuk mengecek pasiennya.
"Sus, dia sudah baik-baik saja tolong lepaskan alat oksigen nya" perintah dokter itu kepada suster.
"Baik dok". Perintah dokter itu segera dituruti suster. Setelah selesai mereka berdua keluar dari ruangan.
•
Matahari bersinar pagi itu, sinarnya menembus jendela di salah satu ruangan di rumah sakit. Terlihat ada seorang gadis yang masih tertidur di atas perut seorang pria dengan menggenggam erat tangannya.
Namjoon membuka matanya perlahan karna sinar matahari yang menyilaukan matanya. Namjoon melihat ke sekeliling melihat setiap sudut ruangan dan ia tersadar bahwa dirinya sedang berada dikamar rumah sakit dan ia menoleh melihat tangannya untuk memastikan dirinya benar-benar ada di rumah sakit, ia melihat selang infus tertancap di punggung tangannya. Dan ia mulai menyadari bahwa perutnya terasa berat seperti ditindihi sesuatu. Ia segera menoleh dan melihat kepala seorang gadis berada di atas perutnya.
"Saerin" serunya saat ia menyadari wajah anak itu. Lalu ia mengelus kepalanya perlahan yang membuat Saerin membuka matanya dan melihat siapa yang mengelus kepalanya.
Author end POV
Saerin POV
Aku merasakan ada tangan yang mengelus kepalaku dan aku segera membuka mataku, ternyata itu adalah Namjoon oppa.
"Mm.. oppa apakah sekarang sudah pagi?" kataku sambil mengosok mata.
"Nee Saerin ini sudah pagi" katanya masih dengan mengelus kepalaku.
"Ooh" kataku. Sekilas aku menutup mataku kembali lalu kaget dan membuka mata lagi, bangun dan menatap Namjoon oppa.
"Oppa. Apa kau sudah sadar? kau benar-benar sudah sadar?" kataku dengan menatapnya meminta jawaban.
"Nee Saerin, oppa sudah bangun" katanya dengan tersenyum. Aku juga ikut tersenyum.
"Oppa" kataku dengan memeluknya erat. Dan ia membalas pelukanku. "Oppa aku sangat merindukanmu" kataku dalam pelukannya.
"Nee Saerin oppa juga sangat merindukanmu"
Lalu aku melepaskan pelukanku.
"Apa kau baik-baik saja? tidak ada yang sakit lagi? atau masih sakit. Kalau masih sakit aku akan memanggilkan dokter agar dia bisa memeriksamu lagi, dan.. "
"Ssstt... Saerin bisakah kau diam. Jika kau terus saja berbicara seperti itu oppa jadi pusing" katanya memotong ucapan ku.
"Apakah kau masih sakit oppa?" kataku menatapnya.
"Tidak sayang, tapi oppa pusing jika kau berkata dengan cepat seperti tadi"
"Mianhae oppa, Saerin tidak sengaja tapi Saerin khawatir dengan keadaan oppa"
"Jangan mengkhawatirkan oppa. Kau bisa melihatnya kan oppa sekarang baik-baik saja"
"Nee. Memang dari luar kau terlihat baik, tapi tidak dari dalam. Kau masih merasa kesakitan bukan dengan luka-luka mu itu"
"Kenapa kau seakan bisa membaca pikiranku Saerin?" katanya mengangkat sebelah alisnya.
"Emm, entahlah oppa. Rasanya jika aku melihatmu seperti ini, aku jadi ikut merasakan sakitnya. Apakah itu aneh oppa?" kataku menatapnya serius.
"Oh begitu, jadi itu yang kau rasakan" katanya menatapku. Aku menganggukkan kepala.
"Itu tidaklah aneh Saerina, itu berarti kau peduli denganku" katanya dengan tersenyum.
"Tentu saja! aku juga sangat menyayangi mu" kataku sedikit berteriak.
"Apakah jika kita menyayangi seseorang kita bisa merasakan apa yang orang itu rasakan?"
"Nee. Seperti yang kau alami sekarang"
"Tapi jika orang itu mencintai kita, apakah kita bisa merasakan hal yang sama oppa?"
"Hmm.. kenapa kau mengatakan hal itu"
"Aku hanya merasa begitu saja oppa. Kenapa hal itu aneh sekali"
"Apakah kau sedang jatuh cinta Saerin?"
"Apa!"
__ADS_1
"Biasanya orang yang merasakan hal seperti itu berarti orang itu sedang jatuh cinta"
"Apa kau pernah merasakannya oppa?"
"Ee.. mm.. aah sudahlah Saerin kita bicarakan hal yang lain saja"
"Kenapa? apa kau belum pernah jatuh cinta?"
"Ayolah Saerin jangan mengatakan hal itu lagi, oppa jadi semakin pusing"
"Em.. yasudah lah, lagipula untuk apa aku memperdulikan hal itu".
Pintu terbuka dengan tiba-tiba hingga membuatku dan Namjoon oppa menoleh dengan terkejut.
"Oppa kenapa kau tidak mengetuk pintu dulu sebelum masuk, jadi aku tidak kaget seperti ini"
"Ada apa Tae?" kata Namjoon oppa menatap kearah pintu yang dimana berdiri Tae oppa dengan membawa sekantong plastik.
"Hehe mian hyung, Saerin. Aku kira kalian belum bangun" katanya berjalan menghampiri kami. "Ini aku membawakan kalian sarapan" mengulurkan plastik itu. Aku langsung mengambilnya.
"Oppa apa yang lain belum sadar" kataku setelah mengambil kantong plastik itu dari tangannya.
"Ani. Jin hyung dan Hoseok hyung sudah sadar. Tapi aku belum tau dengan Yoongi hyung"
"Benarkah. Kalau begitu aku akan pergi ke kamar sebelah". Aku menaruh kantong plastik itu diranjang, beranjak dari kursi dan pergi menuju kamar sebelah. Sampai di depan pintu aku mengetuk terlebih dahulu lalu membuka pintu perlahan.
"Oppa" sahutku. Aku melihat Jimin oppa yang sedang mengobrol dengan Jin oppa dan Hoseok oppa. Aku berjalan masuk menghampiri mereka ke tengah-tengah kedua ranjang.
"Hai Saerin" kata Jimin oppa menyapa ku.
"Hai oppa. Apa kalian baik-baik saja?"
"Nee kami baik-baik saja Saerin" kata Jin oppa.
Setelah ia menjawabnya aku langsung memeluk Jin oppa dengan erat.
"Aku merindukanmu oppa" lalu pelukanku dibalas dengan hangat olehnya.
"Nee aku juga merindukanmu Saerin".
Aku melepas pelukannya dan bergantian memeluk Hoseok oppa yang terduduk di ranjangnya.
"Apa kau baik-baik saja Saerin. Kau tidak terluka bukan?"
"Nee aku tidak apa-apa".
Ia pun mengeluarkan senyum cerianya.
"Apakah hanya mereka berdua saja yang kau peluk Saerin". Mendengar kata-kata itu membuatku menoleh ke asal suara dan menatapnya.
"Wae apa kau juga mau?"
"Kenapa tidak". Ia membuka kedua tangannya dengan lebar meminta pelukan dariku. Aku segera memeluknya juga.
"Ouh kau memang sudah besar rupanya"
"Memangnya aku akan selalu kecil. Tidak juga kan"
"Hm. Kau pandai menjawab juga"
"Aku memang pandai" kataku dengan tersenyum miring.
"Ish! kau ini" katanya dengan menepuk pelan punggungku yang masih berada dipelukannya.
"Sudah jangan lama-lama pelukannya" kata Hoseok oppa dengan nada yang cemburu. Aku segera melepaskan pelukan Jimin oppa dan menatap Hoseok oppa.
"Hmm.. kau cemburu ya" kataku tersenyum lebar.
"Ani! aku tidak cemburu" Ia mengalihkan pandangannya kesamping dengan wajah yang agak kesal. Aku tersenyum miring dan menatap Jimin oppa sekilas dengan menaikkan satu alisku. Tatapanku dibalas Jimin oppa dengan senyumanya menandakan ia mengerti apa maksudku.
"Yasudah kalau memang kau tidak cemburu. Untuk apa kau menghentikan pelukan kami jika kau tak cemburu dengan wajahmu yang cemberut seperti itu". Aku melihat Hoseok oppa lalu beralih menatap Jimin oppa dengan senyum miringku. Aku memeluk Jimin oppa sekali lagi dihadapan Hoseok oppa untuk membuatnya lebih cemburu lagi. Lalu seketika tanganku ditarik kebelakang sampai aku terduduk di pinggir ranjang Hoseok oppa. Aku yang melihat ekspresi wajahnya hanya bisa tertawa bahagia, karna rencana ku dan Jimin oppa membuatnya bertambah kesal. Dan yang lain juga sama tertawanya denganku melihat kelakuan Hoseok oppa yang wajahnya masih cemberut.
"Sudah dong oppa, aku hanya bercanda. Kenapa kau yang terbawa perasaan" kataku menatapnya masih dengan tersenyum menahan tawa.
"Oh iya aku belum menjenguk keadaan Yoongi oppa. Aku harus kesana sekarang. Aku tinggal dulu ya oppa" kataku sambil beranjak pergi.
"Nee" sahut yang lain menatapku pergi.
__ADS_1
Aku keluar dari ruangan dan menutup pintu, kemudian pergi ke kamar Yoongi oppa.
Sampai di depan pintu kamarnya, dengan perlahan aku mengetuk pintu dan membukanya. Aku melihat Jungkook oppa yang duduk disebelah ranjang dengan menatap Yoongi oppa yang masih terbaring dengan menutup matanya. Ia menoleh saat mengetahui aku berada di depan pintu.
"Saerin. Kemarilah jangan berdiri di pintu. Masuklah"
"Nee oppa" aku berjalan menghampirinya.
"Apakah dia belum sadar oppa?" ucapku dengan hati-hati sambil menatapnya.
"Nee Yoongi hyung belum sadar dari tadi" katanya dengan bergantian menatap ku dan Yoongi oppa.
"Apa aku bilang, seharusnya aku menyiramnya dari tadi. Kalau tidak dia tidak akan pernah mau bangun. Tidur adalah hidupnya. Dia selalu saja menghabiskan waktunya dengan tidur, tidak pernah ingin bangun. Apa seharusnya aku benar-benar menyiram dia agar bangun. Yang lain sudah sadar, tapi kenapa dia belum"
"Saerin kau tidak boleh berkata seperti itu. Dia memang belum sadar, dia masih pingsan. Kali ini dia tidak bercanda Saerin" katanya dengan nada yang sendu.
"Tidak, dia pasti bercanda. Dia berbohong. Aku tahu sifatnya. Dia itu tidak mau bangun, bukan pingsan. Sebenarnya dia sudah sadar dia hanya tidak mau bangun dan membuka matanya" kataku tak percaya dengan ucapan Jungkook oppa. Aku menghampiri Yoongi oppa dan meneteskan air mata yang membuat wajahku jadi basah. Aku berusaha mengguncang pelan tubuhnya tapi dia masih saja tak bergerak sedikitpun. Aku mulai cemas dan air mataku semakin mengalir deras.
"Oppa bangunlah, tolong dengarkan aku kali ini. Tolong bangun oppa. Bangun!" kataku masih sambil mengguncangnya.
"Saerin, dia tidak akan bangun jika kau terus melakukan itu. Berhentilah Saerin" kata Jungkook oppa berusaha untuk menarik tangan ku menghentikan apa yang aku lakukan.
"Ani! kalau aku tidak melakukan ini dia tidak akan pernah bangun"
Lalu Jungkook oppa beranjak dari kursinya dan berjalan ke arahku. Dan ia menarik tanganku menjauhi tubuh Yoongi oppa.
"Lepaskan aku oppa. Aku ingin membangunkannya. Dia pasti terjebak di alam mimpi. Aku harus menyelamatkannya. Lepaskan aku!" berontakku. Semakin aku memberontak semakin erat juga tangan Jungkook oppa yang menahan diriku. Karna Jungkook oppa mempunyai tenaga yang lebih besar dariku, aku jadi tidak bisa lagi memberontak dan seketika saja aku hampir jatuh, tapi Jungkook oppa menarik diriku kedalam pelukannya. Berakhirlah aku yang menangis di peluknya. Ia membawaku berjalan duduk di sofa. Aku masih menangis di pelukannya dan seakan air mata ini tak bisa berhenti mengalir.
"Ssstt.. diamlah Saerin. Oppa yakin dia pasti akan segera bangun. Kita tunggu saja dia ya".
skip siang
Aku duduk dikursi samping ranjang Yoongi oppa. Aku menggenggam tangannya sambil terus menatap wajahnya menunggu sesuatu yang akan terjadi. Sementara lima menit yang lalu, Jungkook oppa pergi keluar membeli makanan.
"Oppa kenapa kau belum juga bangun. Apa kau tidak merindukanku hmm.." aku menghela nafas dengan sedih. Dan sampai-sampai aku juga ikut tidak sadar kalau aku belum mengganti bajuku dari kemarin. Karna selalu memikirkan oppa-oppa ku jadi aku tidak sempat memikirkan diriku sendiri.
"Aku belum juga mengganti bajuku dari kemarin. Tapi semua bajuku ada dirumah. Aku saja tidak tau ini dimana. Pasti tempat ini jauh dari rumahku". Tak lama ada seseorang yang mengetuk pintu.
"Masuk!" sahutku.
Pintu itu terbuka dan terlihatlah Jungkook oppa yang datang membawa sekantong plastik dan satu kantong bungkusan.
"Kau sudah kembali oppa?"
"Nee!" serunya dengan berjalan masuk menghampiri ku. "Saerin ini oppa membelikanmu baju baru, cepat ganti bajumu, jika sudah selesai ayo kita makan. Aku juga sudah membelikan makanan" katanya memberikan satu bungkusannya kepadaku. Aku segera mengambilnya dari tangan Jungkook oppa.
"Kau tau sekali jika aku ingin berganti pakaian. Karna kan dari kemarin aku belum mengganti bajuku. Dan semua barang-barang ku ada dirumah"
"Kau mempunyai rumah?"
"Nee. Tante Luna yang membelikannya untukku saat aku baru datang ke Korea".
Jungkook oppa hanya mengangguk-angguk pelan. "Aku akan mengganti bajuku sebentar". Aku berdiri dan pergi ke kamar mandi.
Setelah 15 menit aku dikamar mandi, akhirnya aku keluar juga.
"Aah.. segarnya. Aku seperti belum pernah mandi selama satu minggu rasanya" gumamku. Aku melihat ke sofa, ternyata sedari tadi Jungkook oppa menatapku. Aku heran dengan tatapannya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu oppa?"
"Kau lama sekali, aku sudah lapar. Aku menunggumu keluar sejak tadi"
"Hehe mianhae oppa. Tubuh ku terasa lengket sekali jadi aku menyabuninya sebanyak tiga kali"
"Yasudah, ayo sini kita makan. Aku sudah lapar"
"Nee"
skip malam
Jam sudah menunjukkan pukul 22.30. Jungkook oppa sudah tidur sepuluh menit yang lalu. Sementara aku masih terjaga menunggu Yoongi oppa sadar. Tak terasa aku juga sedikit mengantuk. Dan tak sengaja aku tertidur lelap dipinggir tempat tidur dengan menggenggam tangan Yoongi oppa.
Saerin end POV
Nantikan kisah Saerin berikutnya.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote.
Khamsambnida. Arigatogozaimasu. Thanks you. Matur suwun dan Terima kasih. 💜