
Skip
23.30
Diam-diam, Hye Ra pergi ke belakang rumah dengan membawa sebuah pisau untuk membuka pintu gudang dan membebaskan Saerin tanpa terlihat oleh ketiga namja yang sedang berada di kamar mereka masing-masing.
Sampai di gudang, Hye Ra mengetuk-ngetuk pintunya terlebih dahulu untuk memastikan jika Saerin masih berada di sana.
"Saerin, ini ahjumma sayang. Kamu masih ada disitu kan?" ucap Hye Ra.
Mendengar suara Hye Ra dari luar, Saerin segera mencoba bangun walau tubuhnya kini sudah lemas, ia juga membalas ucapan sang ahjumma dengan teriakannya dari dalam.
"Bertahanlah Saerin, ahjumma akan membuka pintunya dan mengeluarkanmu!" ucap Hye Ra yang kemudian menusukkan pisau itu pada kenop pintu agar bisa terbuka.
Hye Ra terus berusaha keras agar dapat membebaskan Saerin dari dalam gudang tersebut. Sudah berapa kali ia mencobanya tapi pintu itu masih belum terbuka juga. Hye Ra mengambil sebuah batu sebesar kedua kepalan tangannya dan melempar batu itu ke arah pintu. Saerin juga tak tinggal diam, ia berusaha untuk menarik kenop pintu itu agar bisa terbuka.
Jam sudah menunjuk pukul tengah malam. Saerin sudah tak kuat lagi, ia kembali pasrah dan terdiam dengan dadanya yang sedikit sesak akibat kekurangan oksigen. Tapi Hye Ra tak mau putus asa, ia masih mencoba berkali-kali dan bermacam-macam alat untuk dapat membuka pintu gudang. Sadar jika tak ada suara dari dalam, akhirnya Hye Ra berhenti sejenak dan kembali menanyai Saerin yang ada didalam.
"Saerin-ah! Kau baik-baik saja kan sayang? Saerin jawab ahjumma!! Saerin!!" ucap Hye Ra yang semakin panik karna tak mendapat jawaban dari Saerin.
"Saerin!! jawab ahjumma!! ahjumma khawatir!! Saerin!!" teriak Hye Ra sambil menggedor-gedorkan pintunya.
Tapi tetap saja, tidak ada jawaban dari dalam. Itu membuat Hye Ra semakin panik dan cemas, ia takut akan terjadi apa-apa pada Saerin.
Disisi lain, dari lantai atas ketiga namja itu mendengar suara teriakan wanita. Mereka mengira bahwa itu adalah sang ahjumma yang sedang berusaha mengeluarkan Saerin dari dalam gudang. Karna merasa kesal, mereka bertiga pun keluar dari kamar masing-masing.
"Hyung, apa kau mendengar suara itu?" tanya Namjoon pada kedua saudaranya yang lebih tua.
"Nee, aku mendengarnya" ucap Seokjin si sulung.
"Argh sialan!! ayo kita lihat ke bawah!!" ucap Yoongi yang lebih dulu melangkah.
Jin dan Namjoon pun mengikuti Yoongi di belakang. Saat turun dari tangga, mereka bertiga mencari sang ahjummanya itu ke dapur lalu kebelakang rumah. Dan betapa terkejutnya mereka ketika mengetahui Hye Ra sedang mendobrak pintu gudang.
"Ahjumma!!" bentak Jin yang kemudian menghampiri Hye Ra. Tapi wanita paruh baya itu tak menghiraukan ucapan sang tuannya, ia masih tetap bersikeras untuk mendobrak pintu gudang.
"Ahjumma, apa yang kau lakukan?!! aku sudah bilang jangan pernah dekati gudang ini lagi!!" ucap Yoongi.
"Tapi tuan, adik kalian ada didalam. Ahjumma takut jika dia kehabisan nafas berada di sana, tolong jangan hukum dia seperti ini Tuan.. Apa kalian tak tega melihat adik kalian menderita seperti itu?.." ucap Hye Ra yang meneteskan air matanya.
"Tidak!! sekarang masuk kedalam!! ini perintahku!!" ucap Jin sambil menarik tangan Hye Ra.
"Aniya, hiks... hiks... ahjumma ingin membebaskan Saerin, ahjumma mohon.. hiks..." berontak Hye Ra.
"Tidak ada!! cepat kembali masuk kedalam ahjumma!!" bentak Jin.
"ANIYA!!!!"
Hye Ra masih berusaha memberontak dari cekalan Jin. Tak tinggal diam, Namjoon juga menarik tangan Hye Ra yang satunya. Membuat si wanita paruh baya itu harus menahan diri agar tak terseret oleh kedua namja yang lebih muda dan tentu lebih kuat darinya. Dengan sengaja, Hye Ra menggigit tangan Namjoon dan juga Jin hingga mereka berdua melepaskan genggamannya. Kemudian Hye Ra kembali berlari ke pintu gudang tapi mereka berdua kembali menahannya hingga Hye Ra masih tetap berada pada cekalan mereka.
__ADS_1
Dari dalam, Saerin dapat mendengar suara kegaduhan dari luar yang sangat terdengar jelas oleh telinganya. Walaupun dalam keadaan terduduk lemah di pintu, Saerin berusaha menggedor pintunya dengan keras hingga yang ada diluar dapat mendengarnya. Dan suara itupun terdengar oleh Yoongi yang berada disamping pintu.
"Hh, ternyata kau masih bisa bernafas juga ya?" ucap Yoongi dengan tersenyum smirk, tapi Yoongi tentu tak menggubris suara itu. Ia hanya bersikap santai sambil menyender di dinding dan tangannya yang melipat di dada.
Saat melihat kedua saudaranya itu sudah kewalahan dengan si ahjumma, akhirnya Yoongi pun turun tangan dan mendekati Hye Ra. Dengan santai ia memukul tengkuk leher Hye Ra hingga sang ahjummanya itu pingsan.
"Sudah, begitu saja kalian kesusahan" ucap Yoongi enteng.
"Hem sombong, sudahlah kita bawa ahjumma masuk ke kamarnya. Kita biarkan anak sialan itu mati karna kehabisan nafas berada di dalam gudang yang pengap seperti itu" ucap Jin.
Kemudian, Namjoon pun menggendong Hye Ra masuk ke dalam dan diikuti dengan Seokjin. Sementara Yoongi masih berdiri di tempat sambil melihat pintu gudang, suara itu masih terdengar walau hanya samar-samar di telinganya. Yoongi pun berjalan mendekati pintu itu, ia merasa ada getaran di pintu karna Saerin terus mengetuknya dari dalam.
"Yak!! anak sialan!! apa kau sudah mati eoh?! jika belum, aku hanya ingin mengatakan sesuatu saja padamu!" ucap Yoongi sedikit berteriak.
Saerin yang mendengar suara itupun seketika berhenti sejenak dan mendengarkan ucapannya.
"Yak, apa kau sudah mati?! Kau sudah kehabisan nafas eoh?! jawab aku! kenapa kau diam?!" teriak Yoongi sedikit kesal.
"O..Oppa... aku... ada... d-di dalam.. tolong... keluarkan... aku..." ucap Saerin dengan terpatah-patah karna dadanya terasa sesak.
"Eoh, kau masih hidup rupanya. Baiklah, aku hanya ingin mengatakan satu hal padamu. Jangan harap kau bisa keluar dari situ! pasti tenagamu sudah lemah bukan? Kau sudah kehabisan nafas kan? heheh, ohya sebentar lagi.. kau akan mati di dalam situ sayang, lalu tubuhmu akan membusuk dan... dibiarkan disitu saja. Heh, camkan ucapanku ini!! aku... dan yang lain bukanlah oppamu lagi! Kita sudah tidak punya hubungan keluarga lagi denganmu! ingat itu!!" kecam Yoongi, lalu kembali masuk ke dalam meninggalkan Saerin yang masih terkunci di dalam gudang.
"Hiks... hiks... Oppa kejam sekali... kenapa ia tega mengatakan itu padaku... aku akan mati di dalam sini... hiks... hiks... hiks..." tangis Saerin yang menyender di pintu.
.
.
.
Hye Ra membuka matanya perlahan dan menyadari ia sedang berada di dalam kamar. Seketika ia pun kaget jika hari sudah pagi dan matahari mulai terbit. Hye Ra segera beranjak dari kasur dan berjalan ke dapur dengan tergesa-gesa. Tanpa basa-basi ia segera pergi kebelakang rumah, lebih tepatnya ke gudang. Sampai disana, dengan nafas yang terengah-engah Hye Ra kembali menggedor pintu gudang. Kali ini benar-benar sunyi, tak ada satu jawaban dari dalam. Tentu saja Hye Ra sangat khawatir bahkan sangat panik sekarang. Ia pun kembali mendobrak pintunya dengan sangat keras.
Brakk !!...
Akhirnya, pintu itupun terbuka karna semalam kenop pintu sudah sedikit hancur dan Hye Ra hanya butuh untuk mendobraknya saja, tapi niatnya itu terhalang oleh Jin dan kedua adiknya yang datang pada waktu itu.
Hye Ra sangat terkejut jika mengetahui bahwa Saerin si nona mudanya itu sudah tergeletak di lantai dengan wajah yang sangat pucat. Tak pikir panjang, hye Ra segera menggendong Saerin di punggungnya dan keluar dari gudang tersebut. Ia sangat panik dan gelisah, sampai-sampai tak menghiraukan si penghuni rumah yang melihatnya menggendong Saerin keluar rumah.
Namjoon baru saja keluar dari kamar dan segera menuruni tangga menuju dapur, alangkah terkejutnya ia karna melihat seseorang tengah berlari membawa seorang gadis kecil di punggungnya menuju ke pintu depan.
"Ahjumma!!", Namjoon berteriak dan menyusul Hye Ra ke depan.
Teriakannya itu sampai terdengar oleh Jin dan Yoongi yang baru keluar dari kamar mereka. Seketika Yoongi dan Jin saling bertatapan dan sekian detik kemudian, merekapun bergegas turun kebawah. Sampai di bawah tangga, mereka berdua tak melihat Namjoon di sana lalu mereka mencarinya ke depan rumah dan saat melihat pintu depan terbuka, kekhawatiran mereka mulai muncul. Mereka juga melihat Namjoon yang berlari keluar rumah.
"Namjoon!!" panggil Jin sedikit berteriak.
"Sebaiknya kita susul dia saja hyung" ucap Yoongi.
Jin pun mengangguk, kemudian mereka berdua segera menyusul Namjoon dengan mobilnya.
__ADS_1
Disisi lain~
Hye Ra masih berlari kesana-kemari di trotoar jalan. Tak lama kemudian ia mendapat taksi dan segera menghentikan kendaraan tersebut. Setelah itu, Hye Ra memasukkan Saerin ke dalam diikuti dengan dirinya. Kemudian mobil pun melaju ke arah rumah sakit. Saat Namjoon hampir mendapatkan mereka berdua, mobil itu sudah terlebih dahulu meninggalkannya. Namjoon mulai berdecak kesal karna ia gagal mengejar Hye Ra dan Saerin.
"Ashh sialan! kenapa bisa sampai lolos?! ck aasshh..." decak kesal Namjoon sambil mengacak-acak rambutnya.
Tak lama kemudian, sebuah mobil berwarna putih berhenti di sampingnya. Saat kaca mobilnya terbuka, Namjoon baru menyadari bahwa itu adalah mobil hyungnya. Ia pun menaiki mobil tersebut di pintu belakang.
"Hyung, kita harus mengejarnya. Mereka pasti kerumah sakit" ucap Namjoon.
"Aishh.. untuk apa kau mengejarnya Namjoon? kita biarkan saja dia" ucap Jin.
"Nee, tak ada gunanya kita mempedulikan anak itu. Pasti ia sudah tidak bernapas lagi sekarang" ucap Yoongi dengan senyum smirknya.
"Ah nee, lebih baik kita ke rumah sakit tempat Taehyung dan Jungkook dirawat saja. Pasti Hoseok dan Jimin sudah lelah, dan kita bisa bergantian menemani mereka berdua" kata Jin.
"Nee, kalian benar. Untuk apa aku mempedulikan anak itu lagi, dirinya sudah tak berguna bagiku. Yasudah, kita ke rumah sakit saja untuk bergantian menjaga Taehyung dan Jungkook. Ash.. aku hanya buang-buang waktu saja untuk mengejar mereka berdua" ucap Namjoon.
Setelah itupun mobil mereka melaju sampai kerumah sakit tempat dimana Taehyung dan Jungkook dirawat. Sesampainya di rumah sakit, mereka bertiga langsung pergi ke ruangan Taehyung dan Jungkook.
Disisi lain...
Hye Ra sedang menunggu dokter keluar dari pintu dihadapannya. Rasa gelisah sekarang telah merajai batinnya, dengan langkah yang mondar-mandir dari tadi dan terus mengusap-usap tangannya sudah menggambarkan betapa khawatirnya Hye Ra pada Saerin. Tak lama kemudian, dokter pun keluar dari ruangan lalu Hye Ra segera mendekati sang dokter.
"Dok, bagaimana keadaannya?" tanya Hye Ra dengan raut wajah cemas.
"Apa anda keluarga dari pasien?" tanya dokter itu.
"Nee"
.
.
.
Setelah dokter selesai menjelaskan keadaan Saerin. Hye Ra segera masuk ke dalam ruangan Saerin setelah diizinkan oleh dokter tersebut. Ia menatap tubuh seorang gadis remaja yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan alat oksigen yang terpasang di wajahnya, keadaannya sekarang sedang kritis dan harus dirawat beberapa hari di rumah sakit.
Di ruangan lain...
Jin, Yoongi dan Namjoon sedang menemani kedua adik bungsunya sekarang. Sementara Hoseok dan Jimin sedang pulang kerumah untuk istirahat.
Jin yang tengah duduk di sebelah ranjang Jungkook pun merasa sangat sedih karna melihat tubuh adiknya yang telah babak belur dengan bantuan alat medis yang terpasang di tubuhnya.
"Semua ini gara-gara anak sialan itu, awas saja nanti jika ia kembali kerumah. Aku tak akan pernah memaafkannya, ia hanya bisa menyusahkan kehidupan kita saja " batin Jin.
.
.
__ADS_1
Mau tau kelanjutan kisahnya?...
Tunggu di next episode ya, stay tune...