
Skip
Untuk sementara, mereka membawa Jungkook ke rumah sakit terdekat di daerah itu. Karna keadaan Jungkook yang memprihatinkan jadi mereka harus bergegas membawanya ke rumah sakit untuk segera ditangani oleh dokter.
dirumah sakit..
Jungkook sedang diperiksa oleh dokter itu di dalam ruangan. Dan yang lain menunggunya di depan pintu. Sang ketua polisi masih ikut dengan mereka untuk menjaganya hingga mereka pulang ke rumahnya kembali.
5 menit kemudian, dokter keluar dari ruangan tersebut dan memberitahukan keadaan Jungkook kepada yang lain.
Setelah diperbolehkan masuk ke dalam, tapi harus dibatasi kunjungan perorangnya. Jadi hanya Jin dan Yoongi saja yang duluan masuk menjenguk Jungkook.
Jin hanya bisa menangis melihat adiknya yang terbaring lemah di ranjang dengan banyak alat yang menempel di tubuhnya. Yoongi tak bisa berkata lagi, ia hanya bisa mengusap punggung Jin untuk menenangkannya.
Skip pagi
dikantor polisi..
Si yeoja itu sempat dibawa kerumah sakit untuk diobati lukanya lalu kembali dibawa ke dalam sel tahanan untuk menebus kesalahannya. Tapi di dalam sel itu, ia tak sendirian. Ada seorang pria yang tengah meratapi nasibnya berada di dalam jeruji besi.
Yeoja itu merasa tak asing dengan wajah pria yang ada di hadapannya. Ia mendekati pria itu dan duduk disebelahnya.
"Hei tuan, sepertinya.. aku tak asing dengan wajahmu. Siapa kau?" tanya si yeoja itu. Si pria itu mulai menoleh pada si yeoja untuk mengetahui wajahnya. Setelah melihat, yeoja itu terkejut karna pria itu adalah seorang pengusaha terkenal dan terkaya di kota Busan yang wajahnya pasti dikenali oleh seluruh orang di sana.
"K..kau, Park Seo-joon"
"Kau mengenalku?" kata Seo-joon.
"Tentu saja. Siapa yang tak mengenalmu, kau seorang pengusaha terkenal dan terkaya di kota Busan ini. Tapi kenapa kau dipenjara?" ucap si yeoja itu.
"Aku.. dipenjara? hehehe , aku dipenjara karna seorang anak kecil"
"Mwo?! Kau dipenjara hanya karna seorang anak kecil?!" ucap Yeoja itu dengan membulatkan matanya. Seo-joon hanya mengangguk pelan pada yeoja itu.
"Apa masalahnya, kenapa kau bisa dipenjara apalagi karna anak kecil.. argh kau ini, dengan anak kecil saja kau kalah. ck, ck, ck, ck" kata yeoja itu sembari menggelengkan kepalanya.
"Mau bagaimana lagi. Auranya sangat pekat, pesonanya sangatlah hebat. Aku tak bisa melawannya" kata Seo-joon.
"Asshh ayolah, hanya karna anak kecil saja. Dia hanyalah seorang anak kecil, kenapa kau bisa terpengaruh olehnya hanya dikarenakan sebuah pesonanya. Hh, aku jauh lebih mempesona siapapun yang melihatku. Dia takkan pernah menang jika dibanding denganku" kata yeoja itu menyombongkan dirinya.
"Heh, jika pesonamu bagus kau takkan pernah berada di sel penjara ini nona. Kalau kau bisa sangat mempesona pasti kau bisa menghipnotis para polisi itu dan kabur dari tangkapannya. Tapi sekarang, apa buktinya.. Kau malah dipenjara disini" kata Seo-joon.
"Jangan meremehkan diriku tuan. Aku bisa saja kabur dari polisi itu, tapi mereka licik hanya bisa menyerang dari belakang. Karna itu aku berada disini. Jika aku tau akan ada polisi aku pasti akan segera menghabisinya" kata yeoja itu.
"Heh.. kau hanya bisa mengatakannya dari belakang. Apa kau berani mengatakan langsung pada polisi itu hah? aku yakin kau pasti takkan berani" kata Seo-joon.
"Siapa bilang? a.. aku berani" ucap Yeoja itu membela dirinya.
"Heh sudahlah, kita sama-sama terpenjara disini" kata Seo-joon.
"Tapi jika kita bekerja sama dan membobol sel tahanan ini, kita pasti akan bisa" bisik yeoja itu di telinga Seo-joon.
"Memangnya kau punya rencananya?" tanya Seo-joon tak percaya.
"Hei jangan anggap aku bodoh. Aku ini sangat pintar dan licik, tunggu saja nanti. Ohya, aku belum memperkenalkan namaku padamu. Annyeong Irene imbnida" katanya dengan senyum miring sambil mengulurkan tangannya. Seo-joon hanya membalas jabatannya dengan anggukan.
"Jadi, apa kejahatan yang kau lakukan sebelumnya?" tanya yeoja yang bernama Irene tersebut.
"Aku menyekap ketujuh oppanya di Seoul dan membuatnya datang kemari untuk menyelamatkan mereka. Aku menyuruhnya untuk bertemu di sungai Han, tapi.. tentu saja aku takkan datang sampai malam tiba dan setelah itu aku suruh anak buah ku untuk membekapnya dari belakang dan membawanya ke mansionku--"
"Tunggu, tunggu. Maksudmu, kau menyekap tujuh oppanya si anak kecil itu. Apa dia seorang gadis?" sela Irene.
"Nee, dia seorang gadis. Dan kau tau siapa oppanya?"
"Ani. Memangnya siapa?" tanya Irene penasaran.
"Mereka bertujuh adalah saingan bisnisku dari perusahaan ternama di Busan. Yang kini ia mengalahkan perusahaan ku sebagai perusahaan terkenal dan terbesar di kota ini. Dan direktur perusahaannya adalah..."
"Siapa itu, cepat katakan!" kata Irene dengan tak sabar.
"Kim.. Seok.. Jin.."
"Tunggu, Kim Seokjin maksudmu.." kata Irene yang membulatkan kedua matanya.
"Bukankah dia adalah kakaknya Jeon Jungkook? Kenapa bisa dia? hh, berarti tujuanku dengannya itu sama. Untuk menghancurkan kehidupan mereka, hehehe " batin Irene sambil tersenyum miring.
"Kau kenapa?" tanya Seo-joon yang dari tadi melihat Irene tersenyum sendiri.
"Ah, aniya.. aku tak apa. Tuan, bagaimana kalau kita bekerja sama" kata Irene.
"Bekerja sama untuk bebas dari sini?"
"Nee, dan bekerja sama untuk menghancurkan saingan bisnismu itu" kata Irene.
__ADS_1
"Memangnya ada urusan apa kau dengannya?" tanya Seo-joon.
"Aku dipenjara juga karnanya. Salah satu adiknya itu adalah kekasihku dulu. Berani-beraninya dia meninggalkanku setahun yang lalu. Padahal aku sangat mencintainya, tapi dia tega meminta putus denganku" ucap Irene.
"Berarti tujuan kita sama. Kita sama-sama ingin menghancurkan mereka. Jadi, maukah kau bekerjasama denganku?" ucap Seo-joon dengan senyum miringnya.
"Tentu saja Tuan, dengan senang hati. Apapun untuk membuat Jungkook kembali padaku" kata Irene.
Mereka sama-sama tersenyum miring dengan mempunyai banyak rencana untuk melancarkan tujuannya.
Skip
Dua hari kemudian..
dirumah sakit..
Keadaan Jungkook semakin membaik belakangan ini, dan hari ini dia diperbolehkan pulang oleh dokter.
Mereka memberesi semua perlengkapan mereka dan segera pulang kembali ke rumah dengan si ketua polisi yang masih menemaninya.
Skip, sampai di rumah..
Karna kondisi Jungkook masih sedikit lemah, ia dituntun masuk oleh Taehyung dan Jimin ke dalam.
Di luar, tepatnya di depan pintu rumah. Seokjin dengan hormat berterima kasih pada si ketua polisi karna sudah membantunya mencari Jungkook.
"Khamsambnida, atas semua kerja kerasmu untuk membantu kami mencarinya" kata Jin dengan membungkukkan badan.
"Nee, tidak masalah. Ini sudah menjadi tugas saya. Selamat atas kembalinya adik anda dan keselamatannya juga" kata polisi itu.
"Nee, gomawo"
"Hem, saya permisi dulu. Selamat siang" ucap si polisi itu sebelum ia pergi.
Setelah polisi itu pergi, Jin segera masuk ke dalam melihat keadaan Jungkook kembali. Sampai di kamar Jungkook, ia langsung memasukinya.
"Jungkook-ah" panggil Jin saat ia membuka pintunya.
"Nee hyung" balas Jungkook yang tengah berbaring di kasurnya.
"Apa kau masih merasa sakit?" tanya Jin yang duduk di pinggir kasur berhadapan dengan Jungkook.
"Sedikit hyung" jawab Jungkook dengan lemas.
"JUNGKOOK" teriak Jimin yang membanting pintu kamar Jungkook.
"Yak Jimin-ssi, apa kau tak bisa pelan hah?! harusnya kau mengetuk dulu sebelum masuk" kata Jin yang kesal pada Jimin.
Dengan polosnya, Jimin mengetuk pintu yang tadi sudah ia banting itu. Membuat Jin menepuk pelan dahinya melihat kelakuan Jimin.
"Yaakk, aku sedang marah padanya. Ya Jungkook, dimana mobilku dan kuncinya hah?! kenapa kau tak bilang bahwa ingin meminjamnya, sekarang mana.. Mana mobil dan kunciku.. MANA!?!" ucap Jimin dengan emosi tapi terlihat menggemaskan.
"Emm.. i-itu... e.."
"Itu mana! jangan bilang kalau kau menghilangkannya" kesal Jimin.
"Ee.. m-mungkin mobilnya ketinggalan dijalan" kata Jungkook dengan gagap.
"MWO?! APA YANG KAU KATAKAN INI?! KETINGGALAN!?!?" tekan Jimin.
"M-mian hyung. M-mianhae.."
"....JEON JUNGKOOKKK..." teriak Jimin hingga ia membungkuk dan bertekuk lutut di lantai.
"M-mian..."
"Ya Jimin-ah, kau kan bisa membeli mobil lagi. Tidak usah menangis seperti bayi, kau membuatku malu saja" kata Jin pada Jimin.
"Yak hyung, mobil itu adalah mobil kesayanganku. Dan sekarang dia hilang. Aarrgghh.." rengek Jimin, hingga ia menjambak rambutnya karna sangat kesal.
"Beli saja mobil baru, apa susahnya?" sela Jungkook.
"Yak ini semua karnamu, aku kehilangan mobilku karna dirimu. Kapan kau meminjamnya?! kenapa aku tak tau, kau pasti mengambil kuncinya ke kamarku secara diam-diam bukan?!" ucap Jimin yang masih kesal.
"I-itu.."
"Mwoya?!" kesal Jimin.
"Huhh.. itu benar hyung, ucapanmu itu benar. Aku mengambil kunci mobilnya ke kamarmu dengan diam-diam" kata Jungkook yang menghela napasnya sebelum ia berbicara. Dan sambil menunduk mengakui kesalahannya.
"Kenapa kau melakukan itu Jungkook-ah?" tanya Jin dengan lembut.
"A.. aku.. b-belum bisa menceritakannya sekarang hyung. Tolong keluarlah dari kamarku" kata Jungkook yang masih tertunduk.
__ADS_1
"Nee, kami akan keluar. Beristirahatlah dengan baik hingga kau pulih, jika kau butuh sesuatu panggil saja aku" kata Jin.
"Nee hyung"
"Jimin, kajja kita keluar. Biarkan Jungkook istirahat dulu" kata Jin sambil menarik tangan Jimin keluar dari kamar Jungkook dan menutup pintu kamarnya.
"Ah nee, aku belum menghubungi Saerin belakangan ini. Ponselku.. mana ponselku" kata Jungkook sembari tangannya meraba-raba saku celananya.
"Nah ini dia... asshh, mati lagi. Aku charge dulu deh" katanya.
Sambil menunggu baterai ponselnya penuh, Jungkook kembali berbaring dengan menatap langit-langit kamarnya.
"Saerin, kau sedang apa? aku merindukanmu" gumam Jungkook.
di sisi lain..
Saerin berada di kantin sekolahnya. Tapi ia sendirian, tidak bersama Jiyeon yang setiap hari selalu menemaninya ke kantin saat mereka sedang lapar sehabis belajar. Saerin merenung sendirian di salah satu meja kantin.
"Kenapa hari ini lebih buruk dari yang kemarin? Jiyeon seakan menjauhiku, sebenarnya ada apa dengannya? kenapa saat aku mengajaknya ke kantin ia malah menolakku. Dulu kan kalau aku selalu mengajaknya ke kantin dia pasti mau. Dia tidak pernah menolaknya, bahkan dia yang selalu mengajakku ke kantin terus. Tapi kenapa sekarang sikapnya berubah padaku? ia jadi sering diam sekarang, dan selalu dingin padaku. Apa yang sebenarnya terjadi pada Jiyeon? ia menjauhiku sedikit demi sedikit. Kenapa dengannya? tolong kembalikan Jiyeonku seperti dulu. Dia adalah satu-satunya teman yang bisa aku andalkan, dia selalu berada di sisiku. Tapi sekarang.. ia telah menjauh dan aku tak tau penyebabnya " batin Saerin yang sedang melamun.
Junho tak sengaja melihat Saerin di kantin. Iapun segera menghampirinya dan duduk dihadapan Saerin.
"Saerin, kau kenapa?" tanya Junho. Tapi ucapannya itu tak digubris oleh Saerin yang masih melamun.
"Jiyeon, kumohon kembalilah seperti Jiyeon yang ku kenal dulu " batin Saerin.
"Saerin, Saerin... Saerin.." panggil Junho berkali-kali dengan melambaikan tangannya di depan wajah Saerin.
Karna merasa kesal, akhirnya Junho menggebrak meja itu dan membuat Saerin terkejut.
"Ashh, ada apa Junho? kenapa kau mengagetkanku?" tanya Saerin yang mengelus dadanya dan menghela napas panjang.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, kenapa kau melamun seperti itu? apa yang kau pikirkan?" tanya Junho yang menatap Saerin dengan serius.
"Owh, aku hanya memikirkan tentang Jiyeon" jawab Saerin.
"Jiyeon, kenapa dengannya?" tanya Junho.
"Aku tak tau, ia sekarang menjauhiku! Entah apa yang terjadi dengannya! Aku hanya khawatir saja, belakangan ini dia selalu bersikap dingin padaku, bahkan aku sempat didiamkan olehnya! Aku tak tau ada apa dengan Jiyeon, dia seakan selalu menghindari ku! Buktinya saja, ia menolak untuk ke kantin bersamaku, biasanya kan dulu aku selalu ke kantin bersamanya! Tapi sekarang berbeda, aku tak tau apa yang--"
"Sssttt..." potong Junho dengan menempelkan jari telunjuknya pada mulut Saerin.
"Yak, apa yang kau lakukan Junho?! aku sedang berbicara, kenapa kau memotongnya?!" kesal Saerin dengan menepis pelan jari Junho.
"Ash, apa kau tak bisa berbicara pelan? aku tak mengerti jika kau berceloteh seperti itu" kata Junho.
"Mian, aku hanya melepaskan semua emosiku saja. Mianhae.. karna kau yang jadi sasaran kekesalanku, mianhae.." ucap Saerin sambil menundukkan kepalanya.
"Hey, gwenchana. Jika itu yang kau rasakan, lepaskan saja, tidak apa-apa jika aku yang akan kena. Aku siap menerimanya, lepaskan semua emosimu padaku, tak apa.. aku ada disini bersamamu.." kata Junho yang tersenyum pada Saerin.
"Mian.. seharusnya aku tak melakukan itu... aku sangat bingung kenapa sikap Jiyeon berubah.." kata Saerin yang masih menunduk.
"Kita positif thinking saja. Mungkin dia punya masalah keluarga atau pribadinya yang belum bisa ia ceritakan padamu" kata Junho.
"Nee, tapi itulah juga yang jadi masalahnya. Jika dia punya masalah, kenapa dia tak menceritakannya padaku?! aku ini kan sahabatnya, kenapa ia jadi tertutup padaku seperti itu?!!... mian aku sedang kesal, dan kau jadi sasarannya lagi" ucap Saerin.
"Tak apa.. aku disini untuk melepas semua kekesalanmu. Bicaralah padaku, lepaskan semua yang ada di pikiranmu.. aku akan bersedia menerimanya, asalkan itu bisa membuatmu merasa lebih baik" kata Junho dengan tersenyum.
"Aku tak tau Junho, serasa.. banyak sekali hal yang ada dalam pikiranku. Aku benar-benar tak bisa mengontrol emosiku sekarang. Semuanya seakan ingin keluar tapi aku tak tau bisa mengeluarkannya" kata Saerin.
"Gwenchana.. aku ada disini untukmu.. untuk melepaskan semua emosimu.. jangan pernah memendam semua ini sendirian.. berbagilah padaku, semuanya. Aku akan jadi pendengar yang baik bagimu, arrasseo?" kata Junho yang meraih tangan Saerin dan menggenggamnya.
Junho menatap Saerin dengan begitu dalam hingga menggenggam tangannya erat. Saerin pun mengalihkan pandangannya ke bawah, melihat tangan Junho yang menggenggam tangannya dengan erat di meja.
"Eoh, m-mian.." ucap Junho yang tersadar lalu melepas genggamannya.
"Gwenchana, khamsambnida karna kau sudah membuatku merasa lebih baik dari sebelumnya" kata Saerin dengan tersenyum manis pada Junho.
"Oh Tuhan, senyumannya seperti malaikat. Sangat indah.. aku sangat-sangat menyukainya. Yak, ada apa denganku ini? sadarlah Junho " batin Junho.
"Eoh, nee. Gwenchana.. aku akan selalu ada untukmu.. untuk menghapus semua kekesalanmu, agar kau tak emosi lagi.." ucap Junho.
"Gomawo.." ucap Saerin sambil tersenyum.
"Nee" balas Junho dengan senyuman pula.
Dibalik itu, sepasang mata masih sedang memantau mereka berdua yang tak jauh darinya.
Jiyeon semakin merasa kesal dengan Saerin sekarang. Terlihat dari wajahnya yang menahan amarahnya itu.
"Saerin.. kau telah mengambil Junho ku.. lihat saja nanti aku akan berusaha mendapatkan Junho... Junho hanya akan menjadi milikku, bukan milikmu " batin Jiyeon.
...
__ADS_1
Like, komen, vote.. borahae 💜