You'Re My Brother (BTS)

You'Re My Brother (BTS)
Eps 9


__ADS_3

Saerin POV


Aku melihat seorang pria berdiri di depan pintu ruangan dan menatapnya dengan tajam.


"Kamu.. "


"Hh! enak saja kau ingin pergi dari ku dengan mudah gadis kecil" katanya tersenyum miring.


"Siapa kau?!!" kata Jimin oppa.


Pria itu langsung berjalan beberapa langkah dari pintu masuk untuk memperjelas wajahnya kepada kami.


"Bukankah kau Park Seo-joon. Direktur perusahaan Park!?" kata Namjoon oppa kaget melihat wajah dihadapannya yang ia kenal.


"Apa kalian tidak mengenalku hah!" katanya masih dengan senyuman miringnya.


"Nee, kami mengenalmu. Kau adalah putra dari tuan Park.. "


"DAN TUAN PARK SUDAH MATI DITANGAN KALIAN!!" teriaknya dengan memotong ucapan dari Jin oppa.


"Apa!" kata Jungkook oppa.


"Apa?! hh! kalian masih bilang apa?. Bukankah kalianlah yang membunuh Appaku. Dengan cara meracuninya hah!!" katanya dengan nada kesal.


"Apa yang kau katakan kami tidak pernah berbuat hal yang keji seperti itu" kata Hoseok oppa.


"Nee kau pasti salah paham" kata Namjoon oppa.


"Bahkan beberapa hari yang lalu tuan Park lah yang berencana untuk membunuh kami" kata Tae oppa.


"Dan bukan hanya sekali dia melakukan itu kepada kami. Sepertinya ia ingin sekali membunuh kami dan untung saja kami bisa lolos darinya" kata Jimin oppa.


"Tapi kenapa tuan Park ingin membunuh kami. Apa salah kami hingga ia sangat membenci kami" kata Jungkook oppa.


"DIAM!!" teriaknya. Ia menghela nafas dan mengeluarkannya. "Asal kalian tahu saja Appa mu adalah musuh terbesar Appa ku. Ia ingin membalaskan dendam istrinya yang Appa kalian bunuh. APPAMU ADALAH SEORANG PEMBUNUH!!. Dia membunuh nyonya Park dan itu membuat tuan Park sangat kesal. Dia sudah berjanji akan membunuh tuan Kim dan nyonya Kim beserta anak-anaknya. Hh! dan dia berhasil membunuh mereka dalam kecelakaan itu. Tapi karna hanya mereka berdua jadi kalianlah yang masih selamat. Dan sekarang kalian tidak akan selamat dariku. Dan gadis kecil itu akan menjadi budakku hahaha!" katanya lalu tertawa lepas.


"Apa yang kau katakan. Sudah aku bilang aku tidak mau menjadi budakmu!" seru ku menatapnya tajam.


"Hh! kita taruhan saja gadis manis. Jika kau menang melawanku, oppa-oppa mu akan aku bebaskan, tapi jika aku yang menang kau harus menjadi budakku"


"Baik aku akan.. "


"Aku yang akan melawanmu!!" seru Jin oppa memotong ucapan ku. Aku menoleh kaget kearahnya dan menggelengkan kepala untuk jangan melakukannya.


"Tidak oppa biarkan aku saja yang melawannya" kata ku menatapnya sendu.


"Ani!! Saerina, sekarang giliran oppa yang akan menyelamatkan mu. Oppa tidak mau kamu menjadi budaknya yang bisa ia suruh sesuka hatinya. Tugas seorang kakak adalah menjaga adik perempuannya" tegas Jin oppa menatapku sekilas lalu mengalihkan pandangannya kepada pria itu.


"Tapi oppa" belum selesai aku bicara ia segera berlari menuju pria tersebut.


Aku melihatnya yang sedang bertarung sengit dengan pria itu, sesekali ia menerima beberapa pukulan dari pria itu namun tekadnya keras. Ia terus berusaha untuk tetap bertahan walau ia yang banyak mendapatkan pukulan darinya. Dan disaat tenaganya mulai melemah ia tidak sadar jika pria itu memukul lagi dengan bogem mentahnya yang mendarat di pipi kirinya. Dan Jin oppa jatuh tersungkur dan mengeluarkan darah dari mulut dan hidungnya.


"Oppa!!" teriakku saat ia terjatuh.


"Jin hyung!!" teriak Namjoon oppa lalu berlari menghampiri Jin oppa dan menyiapkan serangan kepada pria itu.


"Oppa jangan!" kataku saat ia mulai bertarung.


Dan sekali lagi pria itu mendaratkan bogem mentahnya ke perut Namjoon oppa, seketika ia jatuh tersungkur dan memuntahkan darah dari mulutnya.


"Tidak bisa dibiarkan!!" seru Hoseok oppa yang sedari tadi melihat pertarungan itu dengan kesal. Dan dia melangkah maju menghadapi pria itu dan disusul dengan Tae oppa dan Jimin oppa. Aku hanya pasrah melihat mereka bertarung. Aku melihat lagi, setelah pria itu mengalahkan Hoseok oppa datang dari belakangnya beberapa penjaga yang berbadan besar dan memakai baju serba hitam dan segera melawan Jimin oppa dan Tae oppa. Sisanya lagi datang menghampiri kami yaitu Yoongi oppa, Jungkook oppa dan aku. Aku mulai bergetar ketakutan melihat mereka terus mendekat.


"A-apa yang harus kita lakukan sekarang" kataku dengan gemetar menggenggam tangan Jungkook oppa yang berada di sampingku yang sama takutnya denganku.


"Aku yang akan melawannya" kata Yoongi oppa dengan santai. Mendengar nadanya yang santai aku langsung menoleh kearahnya sekilas saat ia lalu berdiri dan maju menghadapi penjaga di depannya. Aku dan Jungkook oppa hanya menatapnya heran dan saling berpandangan satu sama lain. Aku tidak habis pikir dengan sikap savagenya Yoongi oppa. Sampai aku teringat dengan tali yang mengikat pergelangan tanganku belum dilepas, aku meminta Jungkook oppa untuk melepaskannya.


"Oh iya oppa tolong bukakan talinya" kataku lalu memberikan silet yang aku pegang dan mengulurkan kedua tanganku. Jungkook oppa langsung mengambil siletnya dan menyayatkan silet itu dengan tali. Aku menoleh ke arah samping untuk melihat keadaan, ternyata ada satu lagi penjaga yang tak jauh menghampiri kita berdua.


"Oh tidak oppa, ada satu lagi yang kemari. Cepatlah oppa" kataku dengan tegang. Lalu tali itu berhasil putus tapi tiba-tiba Jungkook oppa ditarik kerah bajunya dan bertarung dengan penjaga itu. Aku langsung kaget dan menoleh.


"Ani oppa!" seruku.


Kemudian aku melepaskan tali itu dari tanganku dan berlari menuju Jungkook oppa. Saat langkah ku belum jauh aku berhenti. Dihadapanku berdiri pria yang telah membuat ketiga oppaku terluka.


"Kau.."


"Anyeonghaseyo. Kita bertemu lagi gadis manis!" katanya tersenyum miring.


Aku mengeratkan kepalan tangan ku karna merasa kesal dengannya.

__ADS_1


"Sekarang giliranmu sayang!"


"Baiklah, ayo maju lawanlah diriku. Kau sudah membuatku kesal karna sudah membuat oppaku terluka dihadapanku. Dan kau harus membayar kelakuanmu dan aku yang akan membalasnya" kataku masih dengan nada yang sangat kesal.


"Oke kalau itu maumu! heh kau pasti kalah dariku"


Sekilas aku menunduk kebawah saat pria itu mulai berlari menghampiriku dengan menyiapkan kepalan tangannya yang bersiap menghantam diriku tapi aku masih terdiam memaku ditempat dengan menundukkan kepalaku.


Saat jaraknya hanya beberapa senti lagi, aku langsung mendongak menatapnya dan saat kepalannya ingin mengenai wajahku aku langsung menangkap tangannya menatap tajam kearah pria itu.


"Kau salah tuan. Karna kau sudah membuatku marah. Jadi kaulah yang akan kalah!".


Aku segera memutar tangannya sampai berbunyi, diapun berteriak kesakitan. Dan aku menendang perutnya dengan kencang sampai ia mundur beberapa langkah sambil memegangi perutnya. Sekarang giliranku untuk maju. Aku langsung berlari untuk menghantamnya tapi dengan tiba-tiba ia menyiapkan bogemnya yang melayang ke arahku dan dengan gesitnya aku langsung menghindar dan menangkapnya. Dia terdiam sesaat mungkin karena aku bisa menghindari serangannya secara cepat, membuatnya tak bisa apa-apa. Jadi inilah kesempatanku, aku menarik tangannya sampai ia mendekat ke arahku dan kemudian aku menyikut perutnya dan ia membungkuk kesakitan aku menyikut lagi punggungnya lalu menendang wajahnya dengan lututku kemudian melepaskan genggaman ku dari tangannya dan memutar tubuhku melayangkan tendangan ke wajahnya. Ia yang terkejut masih tidak bisa berbuat apa-apa dan menerima setiap serangan bertubi-tubi dari ku. Ia jatuh tersungkur ke lantai dengan beralirkan darah dari wajahnya.


Aku menghampirinya dan membungkuk menatap punggungnya.


"Hei tuan bisakah kau lebih serius lagi dalam bertarung. Aku lelah bercanda seperti ini"


Lalu tak lama ia bergerak dan menyeleding kakiku sampai aku terjatuh lalu ia dengan segera menindihku dan menodongkan pisau ke arahku. Tapi untung saja aku bisa menahan tubuhnya dengan kakiku yang tertekuk dan tanganku yang menahan pisau dari tangannya. Ujung pisau yang tajam itu mulai mendekat perlahan ke arah wajahku. Tapi aku masih tetap bertahan dengan posisi pria itu ada di atasku dan aku dibawahnya. Saat pisau itu sedikit demi sedikit maju kemudian ada suara yang membuatku terkejut.


"Jangan bergerak!!" seruan itu berasal dari salah satu polisi yang tiba-tiba masuk dan menodongkan pistol. Saat pria itu menoleh dan tengah lengah aku mengambil kesempatan dengan menggulingkan tubuhnya dan mengalihkan pisau itu berbalik menodong ke arahnya, sekarang posisi ku berada di atas pria itu. Tapi aku mengambil pisau itu dan melemparnya lalu memukul wajah pria itu. Dia tak ingin kalah, lalu ia mendorongku hingga aku jatuh terpental ke tengah. Dengan tenaga yang tersisa aku masih bisa bangun walau tubuh ku terasa sakit.


doorrr...


Suara pistol yang menembakkan pelurunya. Aku yang terkejut tidak bisa menghindar, tapi sekilas aku merasakan hembusan angin dan melihat seseorang berada di depanku.


sreett...


Peluru itu mendarat ditubuh pria yang berdiri didepanku. Aku hanya menatapnya dengan terkejut tak menyadari apa yang terjadi dihadapanku saat ia mulai jatuh ke lantai dengan bercucuran darah dari tubuhnya.


"YOONGI OPPAA!!" teriakku saat mengetahui yang berada dihadapanku adalah Yoongi oppa. Aku segera berlari menghampirinya dan tak sengaja air mata menetes membasahi wajahku.


"Hiks.. hiks.. kenapa, hiks.. kenapa kau, hiks.. kenapa harus kau oppa! kenapa harus dirimu! seharusnya kau biarkan saja aku" kataku saat tangisku mulai pecah.


"K-karna a-aku m-menyayangimu Saerina" katanya lirih menahan sakit.


"Hiks.. hiks.. kau bodoh! kau sangat bodoh. Kenapa kau berdiri di depanku hiks.. hiks.. Kenapa harus kau, kenapa harus dirimu hiks.. hiks.. harusnya kau biarkan saja aku yang terkena peluru itu, harusnya aku oppa. Seharusnya itu aku hiks.. hiks.. tapi kenapa malah dirimu.. oppaa.. hiks.. hiks.. sudah cukup, sudah cukup aku melihat yang lain terluka karna menyelamatkan diriku. Jin oppa terluka karna ia mencoba menyelamatkan ku, Namjoon oppa dan Hoseok oppa terluka juga karna menolongnya. Dan kini kau yang terluka karna menyelamatkan aku dari peluru itu. Apa kau pikir hanya dengan kau menghalangi peluru itu, aku bisa selamat. Mungkin aku bisa selamat dari peluru itu, tapi aku tidak akan bisa selamat dari rasa sakit yang melanda diriku. Walau kau yang terluka tapi aku yang sakit karna melihatmu seperti ini oppaa.. hiks.. hiks.. KAU MENGERTI TIDAK!!" aku meneriakinya dengan kata terakhir yang terucap dari bibirku sambil masih menangis terisak-isak. Aku melihat tangannya yang penuh darah bergerak dan mengusap air mata di wajahku.


"S-ssttt.. j-jangan p-pernah m-menangis S-Saerin. A-aku b-baik-baik s-saja" katanya dengan menahan sakit. Tangannya mulai lemas dan ia pingsan dengan tangannya yang mengusap tetesan air di wajahku lalu jatuh.


"Andwee.." teriakku saat ia mulai menutup matanya. "Oppa, tolong jangan sekarang oppa aku mohon" kataku sambil mengguncang tubuhnya.


"APAKAH KAU GILA HAH!! KAU SENANG MELIHAT KU MENDERITA HAH!! hiks.. hiks.." kataku meneriakinya yang masih tertawa dengan puasnya.


"Polisi tolong tangkap dia!!" kata Jungkook oppa tak tahan lagi dengan sikap pria itu.


"Baik!!" seru salah satu polisi dengan tegas. Lalu mereka menangkap pria itu dan memborgolnya lalu pergi keluar dari ruangan. Sementara aku masih menangis melihat Yoongi oppa yang tak sadarkan diri dan di tubuhnya masih mengalir darah segar.


"Tenanglah Saerin sebentar lagi ambulans akan datang" kata Jimin oppa yang datang dan mengelus lembut pundakku. Tak lama kemudian petugas medis datang. Dan segera membawa Yoongi oppa dan yang lain ke rumah sakit.


Sementara mobil ambulans yang berada di depan dan aku mengikutinya dari belakang menggunakan mobil milik Jin oppa yang dikendarai oleh Jimin oppa. Aku yang duduk dibelakang dengan Jungkook oppa hanya bisa menangis didalam pelukannya.


Sampai dirumah sakit aku langsung menyusul Yoongi oppa berjalan di lorong-lorong kamar rumah sakit menuju ruangan operasi. Sesampainya di ruang operasi hampir saja aku masuk tapi suster melarang ku.


"Maaf nona kau tidak boleh masuk, tolong tunggu diluar ya"


"Tapi sus.."


"Sudahlah Saerin, kita tunggu disini saja ya" kata Jungkook oppa memotong ucapan ku saat suster itu masuk dan menutup pintu.


"Tapi oppa.."


"Sstt.. diamlah Saerin. Kita percayakan saja pada dokter untuk menanganinya. Yoongi hyung akan baik-baik saja. Tenangkanlah dirimu Saerin" kata Jungkook oppa yang menarik ku kedalam pelukannya. Aku menangis tersedu-sedu di dadanya yang bidang dan ia memelukku erat.


Kami menunggu selama 3 jam lalu akhirnya dokter pun keluar.


"Bisakah saya berbicara dengan keluarga pasien?" tanyanya menatap kami.


"Saya adiknya dok. Bagaimana keadaannya dok?" tanya Jungkook oppa dengan menghampiri dokter itu. Aku juga ikut menatap dokter menunggu jawaban.


"Operasinya sudah selesai dan kami berhasil mengeluarkan peluru dari tubuhnya. Pasien baik-baik saja dan akan dibawa ke ruang inap, tinggal menunggu dia siuman, kalau dia bangun cepat beritahu saya" kata dokter itu menjelaskan.


"Nee gomawo dok"


"Sama-sama kalau begitu saya permisi dulu"


"Nee, khamsambnida" kata Jungkook oppa mempersilakan dokter pergi. Tak lama kemudian keluar suster dengan membawa ranjang tempat tidur rumah sakit yang berisi Yoongi oppa yang sedang berbaring dengan jarum infus nya. Aku dan Jungkook oppa mengikutinya dari belakang. Sampai di ruangannya aku langsung berdiri di samping tempat tidur dan menggenggam tangan nya.


"Oppa kenapa kau tidak bangun-bangun. Jangan tidur terus, kau harus bangun. Oppa tolong bangunlah buka matamu. Kau selalu saja tertidur tidak pernah ingin bangun. Sifatmu masih sama seperti lima tahun yang lalu. Kau tidak pernah berubah. Tapi sekarang tolong bangunlah untukku oppa, tolong buka matamu. Aku ingin melihatmu bangun dan mengatakan kau baik-baik saja. Tolong jangan seperti ini oppa, aku mohon. Jangan membuat aku semakin menderita karena melihatmu seperti ini"

__ADS_1


kataku dengan nada memelas. Lalu aku merasakan sebuah tangan menyentuh pundakku.


"Sabarlah Saerin. Kita tunggu saja dia siuman" kata Jungkook oppa menepuk lembut punggungku.


"Tapi dia selalu saja tertidur. Apa tidur adalah hobinya sampai-sampai dia tidak kunjung bangun. Apa harus ku siram dirinya dengan air agar dia terbangun" kataku sedikit bercanda.


"Tidak perlu Saerina, kau tidak perlu menyiramnya dia pasti akan bangun dengan sendirinya" kata Jungkook oppa menenangkan ku.


"Mm.. oppa yang lain pergi kemana?" tanyaku menatapnya.


"Mereka sedang berada dikamar lain untuk melihat keadaan Jin hyung, Namjoon hyung dan Hoseok hyung"


"Aku akan kesana dimana kamarnya oppa beritahu aku"


"Kalau tidak salah Jin hyung dan Hoseok hyung berada dikamar 109 dan Namjoon hyung dikamar sebelahnya nomor 110"


"Baiklah kalau begitu, aku titip Yoongi oppa. Jika dia sadar hubungi aku oppa" kataku lalu pergi keluar.


Saerin POV pause


Jungkook POV


"Bagaimana aku bisa menghubunginya jika aku tidak punya nomor ponsel dia. Haahh.. anak ini ada-ada saja" kataku menggelengkan kepala menatap kepergiannya.


Jungkook end POV


Saerin POV play


Aku berjalan menuju kamar yang tadi disebutkan oleh Jungkook oppa. Dan sampailah dikamar nomor 109. Aku membuka pintu dan mendapati Jimin oppa yang sedang duduk tengah-tengah menghadap tempat tidur Jin oppa. Ia menolehku saat aku membuka pintunya.


"Saerin ada apa sayang?" tanyanya dengan menatapku. Aku segera melangkah masuk menghampirinya.


"Tentu saja untuk melihat mereka, lalu aku mau apa lagi" kataku menatapnya juga. "Apakah mereka belum sadar oppa?" tanyaku sambil bergantian melihat Jin oppa dan Hoseok oppa.


"Nee, mereka belum sadar. Dari tadi aku menunggunya tapi mereka belum juga bangun". Aku hanya mengangguk perlahan.


"Saerin apa kau lapar?" menatapku.


"Mm.. yaa kurasa begitu"


"Yasudah kalau begitu aku akan keluar membelikanmu makanan dan juga untuk Tae dan Jungkook. Tunggulah disini Saerin, aku akan pergi sebentar. Jangan melakukan hal-hal yang aneh. Kalau aku melihatmu mengganggu istirahat mereka, aku tidak akan mengampuni mu Saerin. Yasudah aku pergi dulu" katanya lalu pergi keluar. Aku hanya menelan ludah ku dengan kasar mendengarnya berkata demikian sambil menatap punggungnya keluar ruangan. Aku duduk dikursi yang berada ditengah-tengah kedua tempat tidur itu. disebelah kananku terbaring Hoseok oppa yang wajahnya terdapat luka lebam. Dan disebelah kiriku terlihat Jin oppa yang sedang terbaring dengan selang yang terpasang di hidungnya. Aku menatap kedua nya secara bergantian memandangnya satu persatu.


.... 10 menit kemudian


"Oppa kenapa kalian masih tidur. Ayo bangunlah, ini aku Saerin oppa. Apa kalian tidak ingin bangun dan memelukku? aku merindukan kalian oppa cepatlah buka mata kalian. Jika tidak, aku akan.. akan.. ee.. akaann.., ooh aku tidak bisa melakukan apa-apa kepada kalian, aku takut jika nanti aku akan disiksa oleh ancaman Jimin oppa kalau aku mengganggu istirahat kalian. Tapi aku tidak tahan melihat kalian diam disini dan tak bergerak sedikitpun. Aku merindukan kalian oppa, aku ingin menghabiskan waktu bercanda lagi dengan kalian" aku menghela nafas dan mengeluarkan nya. "Apa kalian semua tidak merindukanku?"


"Kami semua sangat merindukanmu Saerina!" seru seseorang dari pintu, aku menoleh berbalik ke asal suara yang aku belakangi.


"Jimin oppa! sejak kapan kau berada disini?" tanyaku terkejut heran melihatnya datang dengan membawa kantong plastik yang ia bawa.


"Sejak kau mengatakan takut akan disiksa oleh ancamanku, apa kau mencoba melakukan hal aneh kepada mereka?"


"Ani oppa, aku tidak melakukan apa-apa"


"Benarkah"


"Nee!"


"Hm.. baiklah aku percaya padamu. Ayo kita makan aku sudah membawakanmu makanan" katanya sambil menunjuk kantong plastik itu. Lalu aku duduk dengan Jimin oppa di sofa yang tak jauh dari ranjang mereka berdua. Aku memakan makanannya sampai habis.


skip


Aku sekarang berada di ruangan tempat Namjoon oppa dirawat. Sementara Tae oppa sedang pergi ke kamar Jin oppa dan Hoseok oppa.


"Namjoon oppa, kenapa kau masih tertidur apa kau tidak lelah terus tidur seperti itu. Kau yang berbaring aku yang lelah, tapi demi dirimu aku akan menunggu kau sadar dan membuka matamu" kataku sambil menggenggam tangannya. Ia terbaring dengan alat bantu oksigen yang menempel di mulutnya. Aku menunggunya bangun sampai aku tak sengaja menguap dan menaruh kepalaku di atas perut Namjoon oppa hingga perlahan aku menutup mataku dan tidur dengan masih menggenggam tangan nya.


Saerin end POV.



Tunggu kelanjutan kisah Saerin berikutnya...


Borahae 💜


Salam cinta dari author kepada readers yang sudah membaca cerita ini.


Author harap bisa selalu sehat dan semangat untuk melanjutkan cerita ini. Dan kalian para readers juga jaga kesehatan ya.


Author pamit.

__ADS_1


See you in the next episode.


__ADS_2